Awkarin dan Aksi Sosial yang Sensasional

Awkarin dan Aksi Sosial yang Sensasional
©IG/awkarin

Nalar Warga – Aksi sosial yang Awkarin (Karin Novilda) lakukan beberapa hari ini memicu perbincangan publik, terutama di jagat Twitter. Dia turun ke jalan membagikan nasi box secara langsung pada para demonstran, berangkat ke pusat asap menyebar masker, mengunjungi keluarga yang kehilangan motor.

Namun aksi Awkarin ini kemudian dianggap bukan aksi sosial biasa; ada unsur sensasi di sana.

Sebagai salah satu raksasa media sosial, segala aksi Awkarin memang tidak bisa tidak pasti menyita banyak orang. Followers-nya di Instagram nyaris 5 juta orang. Di Twitter, hampir 600 ribu.

Intinya, semua tindakan publik Awkarin hampir pasti akan menyita perhatian khalayak ramai. Di titik ini, tudingan bahwa doi mencari sensasi melalui aksi sosialnya berlebihan karena kehebohan publik akan menyertai setiap tindakannya.

Namun begitu, yang menarik adalah bahwa Awkarin sendiri tidak membantah soal aksi sosial sensasional itu. Bahkan dia menyatakan bahwa sudah saatnya adagium “tangan kiri tidak tahu perbuatan baik tangan kanan” diganti dengan justru “mengajak semua tangan ikut berbuat baik”.

Awkarin seolah-olah ingin mengatakan bahwa di tengah kondisi masyarakat yang sulit, uluran tangan sebanyak-banyaknya jauh lebih penting dari debat tentang ikhlas dan pamrih. Ini, menurutku, sebuah sikap revolusioner yang mendobrak kebuntuan masyarakat kita belakangan ini.

Belakangan, tuduhan pada Awkarin kian melebar. Dari sekadar mencari sensasi sampai pada agenda tersembunyi untuk menaikkan popularitas dalam rangka masuk gelanggang politik. Barangkali juga akan ada yang menduga ada motif ekonomi di baliknya.

Saya duga tuduhan motif politik dan ekonomi itu tidak benar seperti pengakuan Awkarin sendiri. Namun, kalaupun tuduhan itu benar, masalahnya di mana? Kalau dengan begitu sejumlah orang terkurangi beban persoalan hidupnya, persetan dengan motif orang menolong.

Kapitalisme Kreatif

Bill Gates dan Melinda Gates itu membantu jutaan orang di Afrika. Mereka bangun fasilitas kesehatan dan pendidikan. Dan itu semua bukan tanpa motif ekonomi. Masyarakat paling miskin di Afrika itu perlu mencapai taraf ekonomi tertentu untuk bisa mengakses Microsoft milik Gates.

Memberdayakan masyarakat termiskin di dunia adalah suatu usaha untuk memperluas potensi pasar teknologi informasi. Ini yang kemudian disebut creative capitalism. Dan itu absah. Kenapa tidak?

Saya suka ketika Awkarin dengan jelas mengkritik pola-pola pemikiran lama soal bantuan sosial. Saya kira paradigma lama memang perlu diubah. Sekarang ini ada bisnis dan aksi sosial bisa berjalan berkelindan. Ingat fenomena Gojek.

Nadiem Makarim pada mulanya mungkin hanya melihat peluang bisnis yang besar dari bapak-bapak nongkrong yang menawarkan jasa ojek. Tapi pada saat yang sama, Gojek yang dibangunnya menjadi pintu gerbang kesejahteraan jutaan orang.

Tingkat pengangguran yang berhasil turun di kalangan anak lulusan SMA dan SMP salah satunya disumbangkan oleh Gojek. Di sini, batas antara bisnis dan aksi sosial tidak hanya sekadar kabur dan blur, tapi hancur lebur.

Dalam wawancara dengan Don Bosco beberapa tahun lalu, Nadiem menyatakan: “Aksi sosial yang berkesinambungan adalah aksi sosial yang dilakukan dalam bentuk bisnis.” Itu betul belaka. Tolong-menolong cara lama sudah saatnya ditinjau ulang.

Dalam buku The White Man’s Burden, William Easterly mengemukakan fakta bahwa masyarakat petani dan nelayan miskin mengalami peningkatan kesejahteraan bukan oleh bantuan langsung negara, tapi oleh bisnis telepon genggam.

Jadi, intinya, lanjutkan perjuangannmu, Awkarin. Terima kasih banyak.

*Saidiman Ahmad

    Warganet