Ayah dan Cerita

Ayah dan Cerita
©Fajarsatu

Ayah dan Cerita

Ayah adalah kehidupan yang tak pernah lekang. Sampai detik ini—aku masih terus berenang di atas lautan keringatnya. Ia mungkin pemarah, tapi dalam amarahnya ada cinta yang tak pernah padam.

Pundaknya menjadi saksi hingga goresan luka-luka pada kulit yang mulai keriput—adalah alasan tubuh ini tetap mendapatkan kehangatan. Maka pada kedewasaan yang bertambah, aku ingin berlama-lama dalam dekapannya.

Sekali waktu, aku pernah membuatnya kecewa dan patah terluka. Sejak saat itu, setiap waktu membuat dada dan kepala tak henti-hentinya meringkih—membayangkan dan merenung, apakah ada cara untuk membalas senyumannya yang pernah berantakan.

Kini pada kisah yang belum terukir indah, ingin sekali berkata padanya “Ayah—bersabarlah, aku ingin kembali merajut luka yang belum sembuh itu. Beri aku beberapa detik lagi”

Morotai, 16 Maret 2024

Melelahkan

Tuhan, takdir mu mungkin menyiksa
Aku terlunta, di ambang pasrah
Namun semua itu tak pernah
Membuat ku menyesali jalannya

Sebab, yang ku sesalkan
Bila raga ini tak mampu tuk membuktikan
Impian yang pernah dititipkan
Pada pundak ku yang begitu rapuh

Rencana mu Tuhan, terselip makna
Tentang menjadi dewasa, menjadi kuat

Bila boleh jujur, sungguh ini melelahkan
Ada juga bagian hidup yang ku takutkan
Jika langkah ini membuat ku tersesat
Aku takut harapan yang ku pikul kembali patah

Ternate, 30 Maret 2024

Penantian

Desir angin begitu mesra
Memainkan semilir kenangan
Dengan warisan purnama
Entah, apa yang barusan tersandera

Di atas dermaga, di atas harapan
Ku tumpahkan segenap mimpi
Yang menjamur di dasar laut
Bersama rencana pada detik berikutnya

Perlahan-lahan ombak melambai lirih
Membawa detak-detak yang berantakan
Menuntun kepala pada sepenggal mimpi itu
Ya, mimpi itu—entah masih ada atau pasrah

Ternate, 15 April 2024

Baca juga:

Kehampaan

Sejauh waktu berputar
Mungkin kita tak pernah bergerak
Menentukan arah pada sebaris cerita
Hanya berputar-putar mengelilingi resah

Tantang harapan yang pupus
Semua itu hanya bunga tidur
Menyusuri kepasrahan hari ini
Menyusuri impian yang redup

Ingin sekali menyanggupi diri
Tapi kenyataan terlanjur pahit
Ya, sangat pahit untuk ditegukkan
Sebelum mimpi-mimpi itu hilang

Bukankah setelah mendung tiba
Kita disambut dengan pelangi?
Namun kini, jangankan pelangi
Secercah cahaya pun nyaris tak ada

Loloda, 26 April 2024

Api Itu

Membakar mengguncang
Api itu menyala-nyala
Api itu membakar semuanya
Semuanya dilahap

Membakar dada, kepala
Membakar hati, perasaan

Mengguncang, hampir roboh
Bangunan itu, sedikit lagi
Dengan kata-kata
Ia hampir melenyapkan
Dan nyaris merobohkan

Bangunan itu, bangunan itu

Loloda, 29 April 2024

Fikram Guraci