Ayah dan Jas Merah

Saya mendengar bahwa para “pentolan” PKI dipenjara di Nusakambangan. Namun, yang lebih menggetarkan adalah ketika pada setiap tengah malam, saya mendengar deru truk tentara yang lewat di depan rumah saya. Pagi hari saya mendengar kabar bahwa “orang-orang” PKI dieksekusi di hutan jati yang sepi.

Adakah darah orang-orang tak bersalah karena buta politik atau korban balas dendam, juga tertumpah di hutan jati yang sunyi? Atau, mungkin revolusi meminta tumbal nyawa orang-orang tak berdosa?

4)

PKI Muso memberontak terhadap Republik ini pada tahun 1948 di Madiun. Kekejaman mereka pada tahun itu di luar peri kemanusiaan. Korban berjatuhan, terutama para kiai, baik di wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah. Namun, tentara dapat menumpas mereka.

Namun, menurut cerita ibu, kakek kami menjadi korban kebiadaban PKI Muso ini. Kakek kami meninggal dunia dibunuh secara keji. Tak terhitung dengan jari tangan berapa korban  yang meninggal akibat kekejaman mereka.

5)

Kegagalan pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948 tidak membuat mereka jera. Mereka mengulangi lagi dengan melakukan kekejaman terhadap para jenderal pada 30 September 1965 di Jakarta. Akan tetapi, sekali lagi, upaya makar ini dapat ditumpas juga oleh tentara.

Memang secara yuridis dan legal formal, PKI sudah dikubur. Di negeri dengan dasar negara Pancasila, PKI tidak dapat hidup. Itu sebabnya, perlu kita camkan ucapan Arthur Koestler, mantan komunis dan pengarang novel Darkness at Noon yang anti Stalin.

Ia berkata, “Komunis memperdagangkan slogan-slogan sebagaimana para penyelundup minuman keras memperdagangkan semangat tiruan; dan semakin polos si langganan, semakin mudah ia menjadi korban racun idiologi yang diselundupkan, yang dijual dengan memakai merk perdamaian, demokrasi, kemajuan atau merk apa saja yang engkau sukai.” (Menyibak Tirai Komunisme, Solzhenitsyn, Milovan Djilas, James Monahan, 1987).

Akhirnya, mesti kita mengingat selalu bahwa dalam perjuangannya PKI tidak mengenal kata “kapok”. Mengutip pengakuan para gembong Gestapu/PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur di depan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), dikatakan bahwa PKI tidak akan pernah tidur.

Sebab, menurut doktrin Marxis, setiap kegagalan maupun kebehasilan dianggap tetap suatu tantangan (Soegiarso Soerojo dalam Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, halaman 25).

Jika kalender pada bulan September menunjuk ke angka 30, saya selalu teringat pada cerita ayah dan ibu. Pesannya kepada kami bahwa tragedi 30 September 1965 tidak boleh terulang! Kami akan selalu mengenang ayah dan kakek, kemudian menjadikannya sebagai pengingat bahwa kita harus senantiasa jangan sekali-kali melupaan sejarah (jas merah}.

Syukur Budiardjo
Latest posts by Syukur Budiardjo (see all)