Bagian Terkecil Dunia

Bagian Terkecil Dunia
©FB

Matematika bisa dikatakan salah satu yang membentuk karakter saya. Banyak yang saya pelajari darinya daripada sekadar hitungan.

Himpunan bilangan asli adalah himpunan bilangan yang paling sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari bilangan 1, 2, 3, dan seterusnya. Bilangan asli ini banyaknya ada tak terhingga. Maksudnya gimana?

Maksudnya, sebanyak apa pun angka-angka yang Anda tuliskan maka dia termasuk bilangan asli. Misalnya Anda menuliskan angka 9 sebanyak 1 juta kali, maka bilangan itu termasuk bilangan asli. Saking banyaknya, kita tak akan pernah tahu berapa bilangan asli terbesar.

Meskipun banyaknya yang tak terhingga, bilangan asli disusun dari beberapa bilangan bernilai kecil seperti 1, 2, dan 3. Bilangan ini adalah bilangan 3 bilangan asli terkecil.

Tentu dengan bilangan 1 sebagai bilangan asli yang paling kecil. Bilangan asli sebanyak tak hingga itu akan gagal menjadi bilangan asli andai kita coret bilangan 1 dari keanggotaannya. Tanpa bilangan 1, maka bilangan 2, 3, 4, dan seterusnya tak akan bisa disebut bilangan asli.

Apa jadinya bilangan asli tanpa 1?

Dalam matematika, ini akan menjadi aneh. Anda tak akan bisa mengurangkan 4-3 tanpa ada bilangan 1. Anda juga tidak akan bisa membagi 4 dengan 4 tanpa hadirnya 1. Lantas apakah 1 adalah bilangan asli terpenting?

Tentu tidak. Setiap bilangan dalam himpunan bilangan asli memiliki peranan yang sama pentingnya sebagaimana setiap partisi dari sebuah mesin besar.

Baca juga:

Dalam kehidupan pun saya merasakan hal yang sama. Dunia ini bisa diibaratkan sebuah mesin superbesar yang di dalamnya terdapat berbagai macam partisi. Partisi itu, baik yang paling kecil atau yang paling besar, memegang peranan yang sama pentingnya.

Baik seorang presiden bank dunia atau seorang penjaga makam memiliki peranan yang sama penting untuk membuat dunia terus berjalan. Sayangnya, peran yang kedua sering kali kita lupakan.

Dalam sebuah perusahaan, ketika seorang bos sedang meminum segelas kopi mewah lalu mengiris daging lopster yang yummy di restoran berkelas bersama klien-kliennya, sesungguhnya di waktu sama ada karyawan, buruh, sampai petugas kebersihan yang bekerja keras di balik layar.

Mereka mungkin dengan sekuat tenaganya bekerja sebaik-baiknya agar perusahaan makin baik. Beberapa dari mereka mungkin ada yang mengorbankan waktunya bersama keluarga agar pekerjaan mereka selesai, agar laporannya beres, agar pertemuan bos dengan para klien berjalan dengan lancar.

Dalam sebuah bermasyarakat pun sama halnya. Kita bisa tidur nyenyak menikmati malam sebab ada mereka petugas keamanan (hansip) yang mau merelakan jam tidurnya untuk berjaga menjaga keamanan kita. Setiap minggu kita bisa berjalan-jalan menikmati keindahan taman dan udara segar sebab ada mereka yang dengan konsistensi tinggi mau mengotori tangan mereka untuk membersihkan jalanan, memunguti sampah yang kita buang sembarangan.

Dalam sebuah negara pun tak berbeda. Seorang pejabat bisa tampak berkarisma dengan setelan jas mewahnya sebab ada para petani, kuli, buruh yang mau menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membayar pajak. Seorang presiden bisa berdiri tegak di atas podium sembari berpidato sebab ada mereka rakyat kecil yang dengan setia mendukungnya.

Loh, bukannya kita sudah membayar mereka semua?

Kalau alasan Anda tidak menaruh hormat pada mereka, hanya karena Anda merasa sudah membayar mereka dengan uang yang setimpal, maka Anda benar-benar picik. Maukah Anda dibayar satu miliar untuk menjilati sepatu bos mafia?

Baca juga:

Siapa pun kita, kita sama-sama dibayar dan kita sama-sama masih menuntut kehormatan kita, bukan? Seorang pembeli berdasi tidak serta-merta berhak membentak ibu-ibu yang menjual nasi kepadanya. Pun seorang pimpinan tidak berhak semena-mena pada anak buahnya hanya karena ia membayarnya.

Sebagaimana bilangan asli yang disusun dari setiap bilangan yang berbeda. Dunia juga dipenuhi oleh berbagai macam peranan. Dan setiap dari kita punya peranan yang berbeda.

Dunia tak akan sama andai kata tidak ada politikus sekaliber Gandhi, sebagaimana dunia akan berbeda andai saja tidak ada Paijo yang tiap hari membersihkan selokan di Desa Sukoharjo. Baik Gandhi maupun Paijo memiliki peran yang sama pentingnya. Bahkan kepakan sayap kupu-kupu pun bisa memicu terjadinya bencana tornado.

Matematika mengajarkan saya itu. Seharusnya Anda juga.

Rachmat Hidayat
Latest posts by Rachmat Hidayat (see all)