Bahasa Kuburan

Bahasa Kuburan
Ilustrasi: Kompasiana.com

Di malam hari, aku mencoba membahasakan kuburan
Yang terbayang hantu-hantu
Kerangka mati, kerumunan ulat belang

Tintaku sudah tumpah
Padaku kuburan berucap:
Aku memiliki bahasaku sendiri

 

Bisikan Kafan

Pada si mayat, kafan itu berbisik:
Beruntung aku berwarna putih
Kalau hitam, pasti kamu dituduh korupsi

Firman-firman berkerumun
Beradu, berebut menghapus dosa-dosa:
Penyesalan sudah tertutup mata

Kain kafan menidurkan diri
Pada orang yang sudah tidur:
Tak mungkin bangun kembali

 

Mungkar-Nakir

Konon, Mungkar benci pada orang yang ingkar
Nakir benci pada orang kikir:
Mayat itu menjadi kerumunan bidadari

Kerangka tinggallah kerangka
Nama tak lagi berupa nama
Namun peluh di ulu hatinya terus mengalir

Mungkar-Nakir bertanya:
Engkau siapa?

“Aku adalah orang yang gagal menikmati sesuap nasi, persembahan terakhir dari istriku.”

 

Peluh Tukang Bengkel

Digelengkan cepat kepalanya:
Bibir kering
Peluh mengalir
Dikedip-kedipkan matanya

Anak-istri di rumah menanti
Tersedia sepiring nasi:
Sebelum melepas kata nanti
Kembali pada mimpi yang hakiki

Derai daun jambu membisu
Dia tunggu sampai mentari tenggelam
Tiba-tiba senja berkabar:
Si tukang bengkel dijemput mati

 

Kutulis Puisi Saja!

Ketika lapar, temanku memanggil. Katanya:
Sini tak pinjemin duit
Aku kasihan sama kamu

Tubuh terlanjur basah
Perut terlanjur hancur
Aku tak mau merugikan orang lain

Kalau kau tanya, kenapa
Tanyakan saja pada masa laluku
Di sana kau akan menemukanku yang sebenarnya

Ali Munir S
Ali Munir S 4 Articles
Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Anggota komunitas menulis Gajahwong dan LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga