Bahasa Puisi

Bahasa Puisi
©Poetry Teatime

Bahasa puisi adalah bahasa artistik penyair.

Keberadaan manusia di dalam dunia merupakan suatu fakta lingual. Tak bisa dielak bahwa manusia hidup dalam dan melalui bahasa. Martin Heidegger menyatakan bahwa bahasa adalah rumah Ada (das Haus des Seins) dan manusia bermukim di dalamnya. Penyair dan pemikir adalah penjaga rumah Ada ini.1

Dalam satu teks kuliahnya yang berjudul Membangun Rumah Berpikir, Heidegger menulis, “Adalah bahasa yang telah memberitahu kita esensi segala sesuatu, tumbuh berkembang agar kita menghargai esensi dari bahasa itu sendiri… Di antara semua tuntutan manusia yang dapat disuarakan, bahasa tetap menjadi alat yang pertama dan utama.”2

Manusia berpikir dan mengucapkan pikirannya lewat bahasa. Totalitas proposisi adalah bahasa (4.001).3  Manusia adalah zoon logon echon – makhluk yang berbudi bahasa (terjemahan Dr. Leo Kleden), yang sanggup bercerita dengan bahasa. Karena itu, bahasa merupakan produk manusia yang paling besar.4 Manusia dalam segala bentuk kreativitasnya hanya bisa dimungkinkan oleh bahasa. Kenyataan manusia adalah kenyataan bahasa.

Bahasa bersifat dinamis mengikuti alur zaman dalam konteks hidup generasi manusia dalam sejarah. Bahasa berubah dari waktu ke waktu dan memiliki ragam tertentu beradasarkan subjek pengguna bahasa.

Generasi tua memiliki kosakata yang khas dalam percakapan mereka dan generasi milenial memilik gaya bahasa sendiri. Begitu juga dunia hewan, tumbuhan, dunia kesehatan dan kedokteran memiliki ciri khas terminologi bahasanya sendiri. Bahasa memiliki faktor luar bahasa5 dan memiliki unsur simbol, objek, referensi dan subjek.6

Pada kesempatan ini, saya membahas tentang bahasa puisi. Bahasa puisi adalah bahasa artistik penyair. Penyair adalah seniman yang memiliki bahasa yang khas. Bahasa yang ia ciptakan tidak dipungut dari tutur kata keseharian, tetapi dari kedalaman cita rasa afeksional. Bahasa puisi adalah bahasa hati seorang penyair.7

Penyair dalam proses kreatifnya berjuang mengembangkan bahasa. Ia ‘menemui’ bahasa dan sekaligus ‘menemukan’ bahasa.8 Penyair hidup dalam konteks dengan bahasanya sendiri dan akrab dengan bahasa komunikasi keseharian. Namun ketika menulis sajak, penyair menemukan bahasa dari bahasa keseharian itu karena bahasa puisi yang ia ciptakan lahir dari kedalaman refleksi pengalaman dan mengambil bentuk estetis dalam karya tulis sastra, puisi.

Proses kreatif penyair adalah konstruksi dan rekonstruksi bahasa. Namun ia juga bisa mendekonstruksi bahasa seperti yang dibuat Sutardji Calzoum Bachri. Menulis puisi berarti menciptakan gaya bahasa, mengembangkan kosakata, memproduksi makna, dan membiarkan kata bebas dari beban makna normatif leksikal (denotasi). Dengan keterampilan mengolah bahasa, penyair oleh Heidegger disebut sebagai orang yang menjaga dan merawat bahasa. Bahasa di dalam kerja kreatif penyair mendapat arti dan perkembangan yang signifikan.

Kita bisa bertanya, apakah bahasa puisi adalah otonomi partikular milik penyair saja? Saya pikir tidaklah demikian. Secara praktis, ia khusus sebagai bahasa penyair yang dipakai waktu menulis puisi. Namun secara ontologis, bahasa puisi adalah bahasa semua manusia yang memiliki hati, perasaan, empati, dan cita rasa kemanusian. Bahasa puisi tidak pernah partikular eksklusif, tetapi universal, melintas batas ruang dan waktu, menyapa semua hati yang peka pada aksara sastra (puisi).

Manusia memiliki potensi puitik di dalam dirinya. Manusia memiliki motivasi dan kehendak estetis. Hoelderlin menulis, “Full of merit, yet poetically, man dwells on this earth.” Kita hidup di atas bumi ini secara puitik. Hidup dengan cita rasa keindahan dan harmoni. Puisi memberikan kepenuhan keberadaan. Heidegger menyebut puisi sebagai media terbaik manusia untuk mengada, karena memiliki karakteristik yang paling mampu menghadirkan makna dan melimpahi dan meneguhkan kesadaran.

Baca juga:

Penyair adalah subjek dari suatu konteks yang sungguh sadar akan hidupnya. Suasana hatinya selalu peka akan situasi bahkan sering diliputi kemurungan, kegelisahan, dan kecemasan. Penyair selalu merasa diri tidak tenteram. Hidup dari satu kesunyian ke kesunyian yang lain. Di dalam kesunyian itu, ia merasa bersatu dengan yang lain bahkan dunia dalam dirinya dan dunia di luar dirinya bersatu.9

Penyair tidak pernah menulis hanya tentang dirinya. Ia adalah bagian dari dunia dan puisi yang dilahirkannya adalah sebuah riwayat hidup bersama dalam dunia. Meskipun puisi lirik sekalipun yang mengungkapkan pengalaman personal, tetap selalu dalam korelasi dengan yang lain. Puisi adalah bahasa penyair tentang kehidupan.

Bahasa puisi memiliki karakteristik sendiri dengan ragam bahasa yang lain. Bahasa puisi tidak normatif (non-ilmiah), apalagi ideologis. Ia kaya akan makna dan interpretasi karena mengandung polisemi, konotasi, simbol, metafora. Bahasa puisi bersifat stilistik (kaya akan gaya  bahasa). Kekhasan ini mengahantar pembaca kepada arti yang mendalam tentang apa yang terucap dalam puisi. Puisi menjadi semacam jembatan teleologis yang menghantar subjek pembaca kepada suatu tujuan yang lebih tinggi, menemukan makna terdalam dari hidup.

Bahasa puisi adalah bahasa yang memiliki daya purifikasi, tetapi juga sensasional sehingga, selain merasa tenang karena batin dibersihkan, pembaca juga bisa hanyut ketika membaca sebuah puisi yang menyentuh hatinya. Bahasa puisi adalah bahasa hati penyair tentang kehidupan yang mampu menghantar pembaca sampai pada dunia makna, dan orang yang hidup dalam makna, artinya hidup di atas validitas yang lengkap, yakni validitas akal sehat, estetis, etik, dan religius (Paul Tillich).

Catatan Kaki

1F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian Sebuah Pengantar Menuju Sein Und Zeit (Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer, 2020), hlm. 47-48.

2Martin Heidegger, Filsafat Sudah Mati (penerj. Yudi Santoso) (Yogyakarta: Circa, 2019), hlm. 8-9.

3Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus Pemabahasan tentang Logika-Filsafat (Penerj. Stephanus Aswar Herwinarko) (Yogyakarta: Circa, 2020), hlm. 30.

4E. Sumaryon, Dasar-Dasar Logika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999), hlm. 25.

5Dalam kajian linguistik makro dibicarakan masalah bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor luar bahasa yang berkaitan dengan aktivitas manusia di dalam masyarakat. Karena itu dikenal masyarakat bahasa, variasi bahasa, aturan dan status sosial bahasa, , kontak bahasa, bahasa dan budaya, serta klasifikasi bahasa. Bdk., Yohanes Orong, S. Fil., M.Pd., “Lingustik Umum” (Bahan Kuliah di STFK Ledalero), 2014, hlm. 35-59.

6Unsur simbol berkaitan dengan kata, nama, atau frase yang dipergunakan untuk menyebut sesuatu. Unsur objek berhubungan dengan benda yang disebut dengan symbol. Unsur referensi merupakan merupakan makna yang menjembatani hubungan anatar simbol dan yang disimbolkan. Unsur terakhir, subjek, yaitu individu pelaku yang yang menciptakan symbol dan menggunakannya pada suatu hal khusus. Bdk., E. Sumaryon, op. cit., hlm. 27.

7Saya menyebut bahasa puisi sebagai bahasa hati penyair karena menulis puisi menuntut kecerdesan afeksi, konektivitas perasaan yang intim dengan diimbangi logika dan refleksi yang memadai. Menulis puisi melibatkan secara penuh perasaan dan sedikit pikiran yang mendalam. Menurut H. B. Jassin puisi merupakan suatu pengucapan dengan perasaan yang di dalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tangapan-tanggapan.

8Goenawan Mohamad menulis sebuah catatan pada bagian akhir buku puisinya Fragmen (2017). Dalam suatu paragaraf ia menulis, kata-kata ini saya pinjam dari Kafka. ‘menulis’ merupakan ketegangan antara menemui bahasa dan menemukan bahasa…. ‘menemukan’ bahasa berarti mendapatkan sebuah pengalaman baru dari dalam kata, meskipun kata itu sudah lama beredar. Pengalaman itu baru – mungkin bertaut dengan sugesti atau asosiasi – karena ia belum ada di kancah orang ramai. ‘Menemui’ bahasa adalah bergerak pada bahasa yang hidup di permukaan komunikasi, ‘menemukan’ bahasa berawal dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ibarat kawah di bawah kepundan yang mengeluarkan asap…, bdk., Goenawan Mohamad, Fragmen (Jakarta: Gramedia), hlm. 58.

9Rendra menulis, “Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa”. Rendra memahami keutuhan diri di dalam totalitas universum.

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)