Bahaya Laten (Akselerasi) Generasi Milenial

Bahaya Laten (Akselerasi) Generasi Milenial
©Chirpstory

Fungsi laten hanya mampu menyediakan banyak sekali kelas sosial terbawah.

Jagat nasional dihebohkan—setidaknya dalam pengamat subjektif penulis—dengan hadirnya dua anak muda yang ‘kritis’ di dunia maya: Tsamara dan Afi. Tsamara tetiba muncul dalam ruas politik nasional dengan kicauannya di media sosial tentang argumen-argumen penolakannya terhadap politisi, salah satunya adalah Fahri Hamzah.

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia ini menjadi selebritas politik di dunia maya. Umurnya relatif belia. Ia baru semester enam di Universitas Paramadina, mengambil jurusan ilmu komunikasi.

Sejak itu, media mulai ramai membicarakannya. Masyarakat menyimak dengan saksama. Komentar kagum hingga menghina pun bermunculan. Tema besar yang kerap menjadi jualan adalah pemuda apolitis. Penjelasannya, anak muda sekarang (baca: generasi milenial) anti atau tidak banyak menyukai terjun di dunia politik.

Nah, hadirnya Tsamara seolah bisa menjadi antitesis dari asumsi tersebut (yang tidak semuanya benar adanya). Tsamara dianggap sebagai anak muda yang akan memberikan contoh. Bahwa politik itu ‘baik’ dan bukan ruang kompetisi kotor yang melulu proyeksi tertingginya merebut kekuasaan.

Dalam konteks yang lain, tetiba muncul nama Afi. Beberapa tulisannya di laman media sosial miliknya menjadi buah bibir di jagat maya. Momentum fanatisme—eksklusivisme agama—telah mengantarkannya menjadi ‘dewa’ penyelamat keberagaman dan kebinekaan.

Sayang, kendati Afi sudah telanjur dipuja, bertemu Presiden Jokowi dan duduk di kursi seminar Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan ketikan ‘plagiatnya’ yang belakangan menjadi manuver ‘kejatuhannya’.

Laten

Adalah Robert K. Merton, sosiolog fungsional-struktural, mengatakan fungsi struktur sosial atau lembaga sosial tidak melulu mempunyai konsekuensi positif. Itu sebagaimana dijelaskan oleh George Ritzer dalam bukunya Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern (Pustaka Pelajar, 2012).

Menurutnya, fungsi-fungsi tidak boleh hanya didefinisikan sebagai konsekuensi-konsekuensi yang dibuat untuk adaptasi atau penyesuaian suatu sistem tertentu. Karena secara sengaja ia menafikan bias ideologi yang tersembunyi di dalamnya.

Dari sinilah Merton mengembangkan apa yang disebutnya sebagai disfungsi. Menurutnya, struktur-struktur atau lembaga-lembaga dapat berperan dalam pemeliharaan bagian-bagian lain sistem sosial. Mereka juga dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi negatif untuknya.

Ambil contoh perbudakan di Amerika Selatan beberapa puluh tahun silam. Jelaslah mempunyai konsekuensi-konsekuensi positif bagi orang-orang kulit putih di Selatan, yakni menyediakan buruh murah, mendukung ekonomi kapas, dan status sosial.

Tetapi di lain pihak, ia juga mengandung disfungsi. Itu membuat orang-orang Selatan terlalu bergantung pada ekonomi pertanian sehingga tidak menyiapkan diri untuk industrialisasi.

Melalui fenomena itulah akhirnya muncul istilah fungsi laten dan fungsi nyata. Merton mengatakan bahwa fungsi nyata adalah fungsi yang disengaja, sedangkan fungsi laten adalah tidak disengaja.

Dalam kasus perbudakan itu, fungsi nyatanya adalah untuk meningkatkan produktivitas ekonomi Selatan, tetapi ia mempunyai fungsi laten pula, yakni menyediakan banyak sekali kelas sosial terbawah. Ini berfungsi meningkatkan status sosial kulit putih Selatan, baik yang kaya maupun yang miskin.

Penjelasan itu, meminjam bahasanya Peter L. Berger (1963), adalah “memperlihatkan hal yang sebenarnya”, atau melihat kepada efek-efek yang nyata di luar maksud-maksud yang dinyatakan.

Fenomena Akselerasi

Berpijak pada pandangan Merton di atas, penulis menemukan lompatan-lompatan yang teramat cepat (kalau tidak mau dibilang instan), mengenai lahirnya “figur” generasi muda. Barangkali di satu sisi, berlatar milenial yang akrab dengan Internet dan cepatnya dalam mengakses informasi, gagasan-gagasan kritis muncul dan mudah dikonsumsi. Tetapi di sisi yang lain, terdapat banyak bias yang mengekorinya.

Penulis kerap bertanya, aktivis-aktivis gerakan mahasiswa yang hidup di dalam lingkaran organisasi mahasiswa baik ekstra maupun intra, apakah tidak ada yang secerdas dan sekritis Tsamara dalam hal menganalisis dan berargumen mengenai politik?

Bukankah adalah mereka yang seharusnya tampil dalam gelanggang politik nasional karena merekalah yang kerap turun ke jalan menolak kebijakan kenaikan harga BBM, mengadvokasi masyarakat pinggiran, mengikuti proses kaderisasi yang berkarakter ideologis?

Begitu juga dengan aktivis-aktivis mahasiswa yang aktif di Gusdurian, semisal, yang gencar menyuarakan pluralisme atau lebih luasnya ide-ide Gus Dur. Mereka yang hadir di tengah-tengah komunitas Ahmadiyah yang selama ini dipojokkan, atau mereka yang tengah rela malakukan transformasi nilai-nilai keberagaman, baik melalui seminar-seminar maupun terjun langsung ke masyarakat. Mengapa harus Afi yang bisa secara langsung bertatap muka dengan Presiden Jokowi?

Baca juga:

Di titik inilah tampak bahwa telah terjadi disfungsi sosial yang rumit. Terkadang dengan hadirnya generasi milenial, kita merasa bangga karena lahir Tsamara dan Afi. Tapi di sisi yang lain, kita menafikan dan menghilangkan peran-peran pemuda yang menghibahkan hidupnya berproses dan berjuang secara tekun belajar politik dan keberagaman hingga melakukan tindak transformatif di masyarakat.

Karena penulis meyakini, meminjam istilah Kristeva (Manifesto Wacana Kiri, 2014), hakikat dari gerakan politik (organisasi, red) mahasiswa pada umumnya adalah perubahan.

Bukan bermaksud melarang untuk berselancar di dunia media sosial dengan suara-suara kritis, tetapi alangkah lebih baiknya untuk berproses secara tekun di dalam organisasi-organisasi mahasiswa. Mesti mencoba mengadvokasi masyarakat sehingga mengetahui betul bagaimana realitas yang senyatanya.

Apalagi hanya memanfaatkan untuk sekadar eksis, tetapi melakukan transformasi sosial sebagai hasil dari kajian belajar dan advokasinya.

*Kharis Khabibi, Aktif di Forum Silaturahim Mahasiswa Batang (Forsimba) DIY

    Kontributor

    Kontributor Nalar Politik
    Kontributor

    Latest posts by Kontributor (see all)