Balada si Otong

Balada si Otong
©Kuyou

Saya dulu kenal satu muallaf yang berkesan. Beliau pekerja imigran dari Jogja, datang ke Jayapura untuk mengajar bahasa Inggris di satu sekolah waralaba. Waktu itu umur saya 26, beliau sekitar 60an. WNA dari AS, asli Florida, sebut saja namanya Otong.

Mr. Otong ini fenomenal. Dia tukang las, pensiunan marinir, duda. Sekitar 10 tahun sebelum tiba di Indonesia, setelah anak satu-satunya sudah mapan jadi peneliti di perusahaan farmasi dengan gelar S3, Otong mulai menggelar ulang jalan hidupnya. Ia ambil kuliah jurusan pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, lalu lamar kerja di satu sekolah berjejaring waralaba global, dengan niat keliling dunia.

Suatu kali Otong bilang ke saya, sebenarnya alasan yang lebih dominan baginya adalah meninggalkan AS, melepas masa lalu; ke mana pun boleh. Setelah beberapa tahun di Hongkong, Otong tiba di Jogja. Sambil mengajar, ia aktif di sebuah rumah singgah; mengurusi anak-anak terlantar dan putus sekolah.

Di Jogja itulah Otong mengenal Islam. Tapi bukan dari Muhammadiyah. Sori la ya.

Satu lagi yang berkesan dari Otong, adalah ia praktisi bela diri; khususnya Kung Fu. Ia mulai belajar sejak zaman demam Bruce Lee. Belajarnya pun serius, alirannya Shaolin, bukan cuma ikut ngetren kursus wing chun atau jitkundo.

Dalam pembelajarannya, Otong sudah mencapai tingkat penguasaan dan penyaluran energi murni, yang lazim disebut tenaga dalam. Sejak awal mengenal Islam, Otong mengaku mendeteksi sensasi baru dalam gerak arus energi, chi, di sekitar tubuhnya; saat pertama mendengar azan di Indonesia. Sebelum masuk negara dunia ketiga tidak jelas ini pun dia sudah pernah dengar azan, tapi tidak seperti di sini. Di luar memang merdu, tapi cuma merdu saja, tidak ada isinya. Di sini beda, katanya.

Otong mulai masuk Islam saat di rumah kontrakannya di Jogja mendadak ada Quran tergeletak di meja kerja. Entah saksi yehuwa siapa yang taruh di situ. Saat menggenggam kitab itu, Otong merasakan vibrasi yang sama seperti saat dengar azan. Dari situlah ia mulai mencari tahu, mempelajari, dan sebeloknya.

Vibrasi yang dia rasakan makin deras saat mempraktikkan salat di masjid. Di tahap awal itu Otong belum terlalu peduli dengan sisi iman/aqidah Islam; dia hanya ingin lebih menyelami vibrasi itu saja. Jadi awalnya seperti eksperimen energi.

Pertama kali mencoba salat sendirian, Otong mendapat pengalaman yang makin menguatkan komitmennya memeluk Islam. Saat itu salat sunah di tengah malam. Ia terbangun dan mendadak ingin salat. Setelah selesai, salam, dia kaget melihat ada anak kecil gundul duduk di sisi ranjang di kamarnya. Seketika itu dia menyadari ini bukan manusia. Sebab ujudnya setengah transparan.

Dengan reflek, Otong membentak tuyul itu, dengan suara yang dialiri energi murni. Si tuyul langsung minggat, lenyap menembus dinding.

Subuh itu juga Otong langsung sowan ke kiai (kan, sudah dibilang bukan muhammadiyah) yang mensyahadatkannya, lalu cerita pengalaman itu. Kiai senyum-senyum saja, lalu mulai menjabarkan pandangan Islam tentang makhluk-makhluk gaib di luar dimensi manusia.

Kalau berkutat pada pengakuan Otong bahwa keseriusannya pada Islam melonjak drastis pasca-kejadian itu, maka saya harus menamai fenomena ini hidayah berbasis tuyul. Washilah tuyuliyah. Tapi tidak etis lah, jadi ya wallahua’lam.

Syahdan setiba di Jayapura, Otong beserta tim guru bule yang didatangkan dari Jogja dan Surabaya segera menemui kenyataan pahit. Iming-iming kenaikan gaji 300 ribu, dari 4 juta di Jawa menjadi 4,3 juta, di sini ternyata tidak ada artinya. Fantasi kehidupan di pulau eksotis yang penuh dengan pantai perawan dan hutan berhias binatang ramah macam di film Tarzan, dalam minggu pertama langsung kandas. Pantainya sudah bersuami sampah, hutannya tidak beda dengan kotanya: dikuasai nyamuk dan kadal.

Dalam 3 bulan pertama, Otong dan komplotan kecil bule ini pun mulai menampakkan stereotip bule stres pada globalnya: sinis-sarkas dan penuh kegetiran. Tinggal saya pemuda berkarisma, patriot NKRI, yang harus menangkis segala pengaruh buruk itu.

Syukurnya iman dan budi pekerti luhur selalu menang melawan kebatilan, sehingga saya yang malah berhasil memengaruhi mereka; bukan saja menyadarkan bahwa sinis itu salah, namun juga memahamkan bahwa itu bukan budaya orang Indonesia; dan sebagai tamu sesarkemnya mereka menghormati budaya tuan rumah, di mana langit dijunjung, di situ tidak ada makan siang gratis.

Otong sendiri saya amati berjuang keras untuk menjaga sikap positif menghadapi cobaan hidup di Jayapura. Namun saya sudah terlalu sering melihat bagaimana batu karang teguh seperti itu hancur luruh diterjang tikus-tikus kota ini.

Belum setahun di sini, Otong sudah jatuh cinta pada karyawan di bar langganannya, yang langsung dia nikahi. Entah agamanya apa, yang jelas resepsinya tidak ada bau-bau agama apa pun. Tapi Otong mulai bawa bekal makan siang nasi dan babi asam manis.

Saya sendiri tidak urusan dengan apa yang dia minum atau makan. Apalagi tidak bagi-bagi pula. Saya lebih amati perubahan energi di sekelilingnya. Makin lama Otong makin sering merenung. Makin jarang guyon, makin banyak diam.

Sebagai guru senior, salah satu tugas Otong adalah memelihara mood guru-guru bule supaya betah dan menikmati kerja, sehingga lebih bagus kerjanya dan seterusnya. Otong makin banyak diam karena dia makin kehilangan amunisi saat harus menampung keluh kesah guru-guru tentang segala masalah yang mereka dapati di kesehariannya di kota ini. Sepertinya ia diam untuk menghindari terpancing emosi.

Saya kenal betul ekspresi itu, yang sudah saya temui di cermin sendiri saat kelas VII: mengangguk-angguk dengan kelopak mata menyipit nanar, bibir tersungging tapi sama sekali tidak mirip tersenyum. Ekspresi menahan amarah yang menahun mengakar, haus darah nan tak kunjung padam.

Baca juga:

Kadang-kadang Otong menjadi seperti saya, tapi bedanya saya begini saat sedang sendirian: dari jendela ruang guru di lantai 2, dia pandangi orang-orang di trotoar di bawah sana, dengan saksama sekali, lalu mendadak tertawa cekikikan sambil tunjuk entah adegan apa di bawah sana yang tidak ada lucu-lucunya. Kadang orang tersandung sandalnya sendiri, atau cuma topinya jatuh tertiup angin; tapi Otong bisa menertawakan itu sampai hampir setengah jam.

Saya paham sekali gejala ini. Begitu langkanya kesempatan untuk bahagia, sampai harus mencari-cari alasan untuk tertawa. Kasihan.

Ada satu yang paling membekas bagi saya, dan itulah penampakan Otong yang paling kerdil di mata saya. Seperti dia sudah kembali jadi tukang las lagi, bekerja bekerja bekerja. Tidak ada apa pun dalam hidupnya kecuali keharusan mencari uang. Seperti tuyul.

Saat itu Otong sedang makan siang. Semangkok nasi putih, dengan lauk babi cincang; tanpa sayur. Saya baru saja balik dari kelas, mau makan siang juga. Jadi saya sapa seadanya saja, “Wah enak tuh keliatannya.”

Normalnya Otong jawab biasa, “Iya lumayan, ini istri yang masak,” lalu saya pamit turun cari makan.

Tapi saat itu reaksinya beda. Dia lirik saya sedikit, lalu tangan kirinya ganti posisi, melingkari mangkok, seperti memeluk, lebih mirip menjaga itu mangkok supaya tidak dijambret. Lalu tangan kanannya lanjut menyuap dengan stabil, sesuap demi sesuap, mulutnya mengunyah perlahan, matanya menatap nanar manusia-manusia di trotoar.

Saya ingat saat itu merasa sedih. Seperti kehilangan kawan. Sayang sekali. Dia sudah menjadi tuyul.

Tidak sampai 2 bulan kemudian saya wisuda, lalu menghadap bos minta kenaikan gaji dari 1 juta 250 ribu yang saya terima selama hampir 2 tahun. Bos menolak, dan saya memilih keluar. Sekolah itu masih bertahan setahun lagi, sebelum akhirnya bangkrut. Nyawanya pergi seiring dengan pupusnya gairah guru-gurunya, seperti layang-layang putus benang di tengah topan, tidak usah diharap lagi.

Fritz Haryadi
Latest posts by Fritz Haryadi (see all)