Bandara dan Kapitalisme

Bandara dan Kapitalisme
┬ęDok. Pribadi

Platform 72, bandara Narita, Tokyo, penuh pagi itu. Sejumlah penumpang yang tidak kebagian tempat duduk berdiri bahkan ada yang memilih duduk di lantai sambil menunggu jadwal penerbangan.

Di platform yang padat itu, ada satu toko kecil. Toko itu menjual makanan, minuman, dan beberapa jenis pernak-pernik oleh-oleh. Itu satu-satunya toko yang ada di sana. Penumpang yang lapar hanya memiliki satu pilihan: toko kecil itu.

Toko itu memonopoli dan mendominasi pasar. Satu-satu saingan, barangkali, adalah penumpang yang bawa makanan sendiri atau penumpang yang tidak lapar.

Namun demikian, harga barang dan makanan di toko itu sangat murah. Saya beli dua makanan (semacam lemper ukuran besar yang dibungkus nori, bentuknya segitiga, sering saya lihat di Stasiun Sudirman, apa namanya?) dan satu botol air mineral. Harganya hanya sekitar 3 dolar sekian sen. Seorang teman beli kaos seharga 10 dolar lebih sedikit.

Saya heran seheran-herannya. Jepang adalah negara kapitalis. Kok ada toko yang memonopoli pasar tapi menjual barang dengan harga seperti umumnya harga di luar bandara?

Saya langsung membayangkan harga-harga di bandara-bandara negara saya sendiri yang anti-kapitalismenya minta ampun dan religius.

Ketika kami tiba di bandara Dallas, US, hal yang sama terjadi. Harga di toko-toko dalam bandara sama dengan harga di luar bandara.

Saya pesan cokelat panas. Harganya 2 koma sekian dollar. Wow sekali. Negara kapitalis besar ini tidak menaikkan harga di dalam bandara yang secara logis mestinya mereka tidak punya banyak saingan. Kok beda dengan bandara di negaraku tercinta?

Baca juga:

Saya duga kapitalisme memang lebih baik dalam pelayanan pada konsumen. Itu kesimpulan sementara saya. Silakan tambahkan penjelasan, kalau ada.

Washington DC, 25 Mei 2022

Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)