Bangkit

Bangkit
©Greek Polis

tulang kami rapuh di peradaban orang timur mediterania,
timur tengah, asia, dan afrika.
jazad kami masih sebentuk kata di abad 1200  s.m-6 s.m
perang dan parang membentuk mata air
di pelabuhan kreta
seperti mimpi para dewa yang melepaskan anak panah pada tidurmu

Perikles dengan apinya berjalan meluruskan pantat kaisar
bertahun menindas ingatan,
menyimak tulang lama di perairan Knosos.
tak ingin anak-anak bagai burung plontos
menyeruput dewa lain sebab alam mengajari kami
memelihara doktrin sendiri
sebagai zoroastrian, monoteisme, imortalitas, dan dikotomi
yang memenuhi mitos pada tubuh yunani.
maka berlayarlah kami sebagai badai
sebagai musim panen nanti
sebagai luka
sebagai hati
sebagai belati
sebagai luka hati milik belati.

Miletos

Ke manakah kita akan pergi, perikles?
di timur adalah miletos
Persia pernah menyuguhkan logos
kepunahan yang menjadi monumen athena
kita pun turut memungut tiang lapuk
serta gulungan papyrus suci itu.
perahu thales sekonyong-konyongnya
adalah amunisi bagi sufi
dan semesta berpuisi
dengan petir, angin, hujan, panas tetapi
bara kagum menjadi mitos bagi miletos
kala kita berlayar ke asia dengan peta
berisi upeti kepala dewa udara.
mungkin saja waktu menemukan italia
sekecil pelita di tubuhmu.

Politeisme

perjalanan yang melelahkan adalah darah
yang tak akan berhenti meleleh.
lihat di sekujur matamu, langit serupa dewa-dewi.
Kau akan kuloloskan pada aphrodite
dari cerita homer yang hanya menjelma kutukan
bagi theogoni.
hanya saja kita adalah penyair
poly dan theos di hadapan filsafat yunani
adalah zeus, apollo, aphrodite, poseidon
yang menenun semesta dalam bentuk aligori
yang ilahi ialah ingatan sementara yang imani
adalah insani.
di abad sekitar 6 sebelum masehi. dewa-dewi
semacam manusia dalam hati wisata.

Poseidon

di abad ke-6 sebelum masehi sampai abad ke-4 sebelum masehi
rumah kami runtuh semacam perahu karam di laut mati.
Poseidon. di hadapan air kalian adalah laut
segera tak memangil namaku mimpi-mimpi akan basah
dari perkara ikan paus dan pirana yang menyantapmu
dalam bentuk pesta.
lumba-lumba pasti menolongmu segera
sebab laut adalah kerajaanku.

Pericles, angkat tilammu dan jangan sekali-kali
kau tak percaya padaku-ikan berkepala banteng.
di bola matamu akulah Deus.

Nyanyian Apollo

; nubuat akan segera kuutarakan ke utara

wahai muse petik dawai dan seruling,
wahai hermes ciptakan lira kidungkan paian
hingga helios jatuh di pelukan selena.

Aphrodite

cinta semacam parang dan tombak yang siap menombak langit
maka murad, mawar merpati, burung pipit dan angsa bersukaria
di wajahku. serumpun kemenangan beryanyi di cythera, siprus, korintus
dan athena. kemarilah dan akan kuajak kau kencani anggur manis.

    Yohan Mataubana
    Latest posts by Yohan Mataubana (see all)