Bangkrutnya Filsafat sebagai Self-Criticism

Bangkrutnya Filsafat sebagai Self-Criticism
©Kagama

Nalar Warga – Luthfi Assyaukanie, dalam satu ulasannya di media sosial (3/11), menilai pernyataannya sendiri tentang bangkrutnya filsafat sebagai self-criticism. Hal ini merupakan respons dirinya atas beberapa orang yang katanya keberatan dan tampak tersinggung dengan tulisan sebelumnya.

Salah satu yang menjadi titik kritik terhadap pernyataan Luthfi adalah tentang orang yang masuk Jurusan Filsafat umumnya karena tidak bisa masuk ke jurusan lain.

“Saya akui, ada generalisasi di sini. Tapi, ini merupakan pengalaman saya pribadi bergaul dan memperhatikan filsafat selama lebih dari 20 tahun,” tulis Luthfi.

Sebagai orang yang pernah kuliah di Jurusan Filsafat dan pernah mengajar filsafat lebih dari 10 tahun, Dosen Paramadina itu merasa ada yang salah dengan bagaimana filsafat diperlakukan selama ini, khususnya di Indonesia.

“Beberapa contoh yang saya berikan tentang bangkrutnya filsafat adalah hasil interaksi saya dengan dosen-dosen filsafat yang saya kenal dan jumpai di forum-forum diskusi.”

Diceritakan bahwa seorang dosen lulusan filsafat UGM pernah bercerita kepadanya bahwa dia masuk Fakultas Filsafat karena ingin berkuliah di UGM, bukan karena ingin belajar filsafatnya.

“Pilihannya itu adalah Sastra atau Filsafat. Dia mempertimbangkan kemungkinan bisa diterima.”

Menurut si dosen, minat terhadap Jurusan Filsafat lebih kecil, dan karenanya ada kans (kesempatan) besar untuk diterima.

“Strateginya berhasil. Dia bisa kuliah di UGM dan kini menjadi dosen.”

Dikisahkan pula bahwa si dosen tersebut tidak sendirian. Ada beberapa temannya yang lain yang menggunakan modus serupa.

“Yang penting masuk UGM, begitu alasannya.”

Strategi tersebut, bagi Luthfi, sebetulnya tidak hanya terjadi untuk Jurusan Filsafat. Beberapa jurusan lain yang kurang diminati, seperti Sastra Jawa atau Sosiologi, menjadi alasan seseorang untuk kuliah di universitas bergengsi.

“Tak penting fakultasnya. Yang penting bisa kuliah di PT elite.”

Baca juga:

Luthfi pun menegaskan bahwa beberapa orang masuk jurusan “kering” karena terpaksa. Misalnya, anak-anak pesantren yang ingin masuk ke PT negeri, kecil kemungkinan untuk masuk ke jurusan eksakta atau ilmu sosial yang rumit (Ekonomi, misalnya).

“Yang paling mungkin dan dekat dengan lulusan pesantren adalah Jurusan Filsafat. Mereka masuk Jurusan Filsafat karena jurusan-jurusan lainnya sudah terkunci. Bahwa kemudian mereka tertarik dengan filsafat, itu menjadi sekunder.”

Mungkin karena alasan itulah, atau alasan lain, yang menurutnya mengapa Fakultas Filsafat UGM tidak melahirkan pemikir-pemikir hebat. Di beberapa PT negeri lainnya pun, katanya, bernasib sama.

Padahal, menurut Luthfi, idealnya Jurusan Filsafat menghasilkan pemikir dan pembaru yang bisa mendorong dan meramaikan pertukaran gagasan.

“Saya bayangkan, Fakultas Filsafat harusnya melahirkan tokoh-tokoh pemikir hebat seperti Kuntowijoyo, Mubyarto, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, dan Nurcholish Madjid. Sayangnya, mereka semua itu bukan jebolan Filsafat.” [LA]

    Warganet