Bangsa Ini Tidak Butuh Calon Pemimpin Pembohong

Bangsa Ini Tidak Butuh Calon Pemimpin Pembohong
LINE Today

Nalar WargaKita tentu tidak ingin punya pemimpin pembohong. Karena itu, Sandiaga Uno perlu menjelaskan kebenaran kisah yang ia tweet tentang perjuangannya bersekolah di AS.

Dalam twinya ia menulis, dulu ia bersekolah di AS dengan berbekal hanya tiket pesawat dari ayahnya untuk satu kali perjalanan. Tanpa tiket pulang.

“Hanya selembar tiket pergi tanpa tiket pulang,” tulisnya. “Di sinilah saya belajar bahwa saya harus bisa sukses di negeri orang dan pulang membawa prestasi.”

Dengan segera sejumlah twit membantah cerita itu.

Ada yang dengan meyakinkan bilang bahwa dia tahu Sandi ke AS dengan beasiswa penuh perusahaan minyak Caltex untuk anak karyawan Caltex (karena sandi anak karyawan Caltex). Jadi dia bukan saja dibiayai perjalanannya pulang-pergi, tapi juga biaya hidup dan biaya kuliah.

Ini dibenarkan seorang netizen lain yang menyatakan dia adalah karyawan Caltex dan tahu persis bahwa Sandi memang berangkat dengan beasiswa Caltex.

Ada lagi yang berargumen bahwa malah aneh kalau Sandi sudah punya tiket pulang saat baru mulai kuliah. Dia juga bilang bahwa tidak mungkin pemerintah AS akan membiarkan Sandi masuk dan menetap di negaranya tanpa izin belajar dan surat sponsor.

Bahkan ada pula yang mengutip berita tahun 2017 yang menampilkan pengusaha Edward Soeryadjaya menyatakan bahwa dialah yang membiayai Sandiaga kuliah di AS.

Jadi yang benar yang mana?

Marilah kita menerapkan praduga tak bersalah. Sandiaga Uno mungkin saja benar, tapi memang banyak kejanggalan di ceritanya.

Sandiaga bersekolah ke AS dua kali. Pertama kali, pada 1990, ia lulus S2 dari Wichita State University. Kemudian mengambil S2 di George Washington University, dan lulus pada 1992.

Kemungkinan besar yang S2 itu memang dibiayai Edward, mengingat saat itu ia memang bekerja di perusahaan milik konglomerat besar itu. Tetapi yang di Wichita itu yang tampak janggal.

Kuliah di AS tentu saja tidak gratis. Kalau ia menempuh kuliah selama beberapa tahun di sana, pasti ada yang membiayai.

Tidak mungkin ia membiayai kuliah yang amat mahal di sana dengan, misalnya, cari uang sebagai pelayan restoran. Kecuali tentunya kalau dia sudah berkelana di sana selama bertahun-tahun. Karena itu, pilihannya dua: bayar sendiri atau beasiswa.

Beasiswa ada dua pula: dalam negeri atau luar negeri? Kalau luar negeri, apakah dibiayai penuh universitas (yang akan diberikan pada mahasiswa yang luar biasa pintar) atau dibiayai lembaga pemberi bantuan pendidikan?

Ini yang harus dijelaskan oleh Sandiaga Uno. Mungkin terkesan remeh. Tetapi bangsa ini tidak membutuhkan seorang calon pemimpin yang pembohong.

Masalahnya, kubu pendukung Prabowo Subianto telah berulang kali menyebarkan kebohongan, dari kasus 7 juta surat suara palsu, pemukulan Ratna Sarumpaet, skandal Stan Greenberg, sampai keberhasilan Oke Oce di Jakarta.

Kali ini, mudah-mudahan Sandiaga bisa mengklarifikasi ceritanya.

Sebenarnya fakta bahwa Sandiaga menempuh pendidikan tingginya di AS sudah cukup mengesankan. Apalagi katanya ia meraih Indeks Prestasi 4.0 ketika lulus dari George Washington. Jadi kenapa juga harus ada drama tentang tiket yang cuma satu kali jalan?

*Rian Ernest

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet
    Share!