Bank Syariah versus Bank Digital

Bank Syariah versus Bank Digital
©Fintech

Menarik melihat dua fenomena dunia perbankan belakangan ini. Yang pertama adalah fenomena kebangkitan bank syariah. Ini dipicu oleh merger tiga bank syariah milik pemerintah: BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah, diberi nama Bank Syariah Indonesia.

Penggabungan tiga bank itu menjadikannya masuk dalam daftar 10 emiten berkapasitas pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Per tanggal 25 Februari, emiten dengan kode BRIS ini mencatatkan nilai kapitalisasi sebesar Rp115 triliun, melejit dari Rp4,96 triliun di awal pencatatannya.

Fenomena kedua adalah kebangkitan bank-bank digital. Hal ini terkait dengan aksi akuisisi atas bank-bank kecil oleh korporat digital.

Gojek menguasai setidaknya 22 persen saham di Bank Jago (ARTO) sejak Desember 2020. Induk perusahaan Shopee, Sea Group, mengambil-alih Bank Kesejahteraan Rakyat dan mengganti namanya menjadi SeaBank. Group ini bersama Grab juga mengincar Bank Capital Indonesia (BACA). Demikian halnya dengan Bank Bumi Artha (BNBA) yang kemungkinan juga menarik investasi dari Sea Group.

Fenomena ini membuat harga saham bank syariah dan bank digital di pasar modal meningkat tajam.

Yang justru menarik perhatian saya adalah aktor di belakang pergerakan dua fenomena ini. Bank syariah tampaknya didorong oleh aktor negara atau pemerintah. Merger bank itu sendiri adalah bank negara. Dalam pelbagai kesempatan, wakil-wakil pemerintah secara gamblang melakukan promosi atas perbankan syariah ini.

Sementara kebangkitan bank digital diprakarsai oleh pihak swasta, terutama Gojek, Shopee (Sea Group), dan Grab.

Walaupun, tentu saja, pemerintah, melalui presiden, juga bicara tentang ekonomi digital. Tapi yang terjadi saat ini, kebangkitan bank-bank kecil yang bertransformasi menjadi bank digital dilakukan oleh aktor-aktor non-negara. Sementara negara sendiri tampaknya, untuk sementara waktu, masih fokus pada membangun istana pasir bernama ekonomi syariah.

Ketika kekuatan ekonomi swasta sedang membangun masa depan melalui bank dan ekonomi digital, pemerintah justru bergulat dengan pembangunan ekonomi syariah. Kontras yang terang-benderang. Mereka perlu diingatkan.

Baca juga:
Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)