Batu Bara yang Ganas Membara

Batu Bara yang Ganas Membara
©YouTube

Batu bara tak layak dijadikan sebagai energi untuk membangkitkan tenaga listrik melalui sudut pandang yang ekologis serta politis.

Tahun ini adalah tahun yang paling menyedihkan bagi saya. Hampir tiap hari saya mendengar kabar orang meninggal dari kawan, saudara maupun kerabat. Mereka yang meninggal itu acap kali ialah orang terdekat saya dan sedikit-banyak mempunyai kontribusi bagi hidup saya. Karena itu, saya selalu berharap dan berdoa semoga Tuhan mengampuni kesalahan mereka dan memberikan mereka tempat yang istimewa.

Di media sosial pun, saya melihat kejadian demi kejadian yang begitu menyedihkan. Ribuan orang terinfeksi dan meninggal akibat Covid-19; kekurangan pasokan oksigen yang terjadi di mana-mana; membludaknya pasien di banyak rumah sakit dan banyak tenaga medis yang kehilangan nyawanya. Ironinya, dalam kondisi yang katastrofik ini, masih banyak oranng yang tak percaya (atau menganggap sepele) Covid-19.

Selanjutnya, tak perlu saya katakan lagi jika pemerintah belum mampu mengendalikan Covid-19. Beredar banyak sekali meme yang sarkas sebagai respons atas hal tersebut. Pada titik ini, izinkan saya mencomot argumen Slavoj Zizek yang begitu satire:

Mereka yang bertanggung jawab atas negara sedang dalam keadaan panik karena mereka tahu, tak hanya bahwa mereka tak bisa mengendalikan situasi, tetapi juga bahwa kita, rakyatnya, mengetahui hal ini. Impotensi kekuasaan sekarang dibiarkan terbuka.

Kita semua tahu adegan klasik dalam kartun: kucing mencapai tepi jurang, tetapi terus berjalan, mengabaikan fakta bahwa tak ada tanah di bawah kakinya; lalu mulai jatuh hanya ketika melihat ke bawah dan melihat jurang. Ketika kehilangan otoritasnya, rezim seperti kucing di atas jurang: untuk jatuh, ia hanya perlu diingatkan untuk melihat ke bawah (Slavoj Zizek, 2020).

Atas kondisi tersebut, saya berniat menenangkan pikiran dengan menonton film. Barangkali dengan hiburan ini pikiran saya menjadi segar kembali.

Saat mencari daftar referensi film, saya tak sengaja menemukan film garapan Watchdoc berkolaborasi dengan Greenpeace dan Enter Nusantara. Film itu berjudul Sesak: Kisah Mereka yang Tumbuh di Energi Kotor. Judul dan tampilan filmnya yang begitu menarik mendorong saya, tanpa basa-basi, untuk langsung menonton film tersebut.

Jujur, dari awal hingga akhir menonton film tersebut, alih-alih tenang, pikiran saya justru makin runyam. Betapa tidak, film tersebut menyibak dampak buruk bagi masyarakat yang hidup di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sebagai seorang manusia yang masih mempunyai hati nurani, tentunya saya merasa tak tega dan kasihan terhadap mereka.

Film tersebut menyorot 3 PLTU yang berdiri di Indonesia ini: PLTU Pangkalan Susu di Sumatra Utara, PLTU Jeneponto di Sulawesi Selatan, dan PLTU Cilacap di Jawa Tengah. PLTU yang konon berfungsi untuk mencerahkan daerah-daerah yang belum tersentuh listrik, justru menggelapkan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Banyak masyarakat yang mengidap penyakit infeksi kulit dan sesak nafas.

Belum lagi zat-zat beracun seperti, Nitrogen Dioksida, Sulfur Dioksida, Kromium, Arsenik, Nikel, Merkuri dan Timbal mengakibatkan berbagai penyakit, tumbuhnya sel-sel kanker dan bahkan kematian. Zat-zat yang keluar dari cerobong asap tersebut juga mengakibatkan tanaman-tanaman yang kelak mereka makan menjadi tercemar.

Tak berhenti di sini, laiknya air sungai yang mengalir ke penjuru arah, dampak tersebut juga merayap ke aspek mata pencaharian. Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan harus puas dengan hasil tangkapan yang sedikit akibat zona penangkapan yang dibatasi dan tercemarnya sungai yang berasal dari reruntuhan tongkang-tongkang batu bara.

Nasib yang senapas juga dialami oleh pembudidaya rumput laut yang mengaku kualitas rumput lautnya memburuk dan hasil pendapatannya melorot drastis. Begitu pun dengan para petani yang harus rela dengan gagal panen dan hama yang kian meningkat.

Ironinya, pemerintah justru mengeluarkan limbah batu bara dari kategori berbahaya dan beracun di dalam Undang-Undang turunan Omnibus Law. Limbah yang dimaksud di sini ialah Fly Ash dan Bottom Ash. Alasannya ialah karena limbah tersebut dihasilkan oleh teknologi boiler minimal Circulating Fluidized Bed (CFB) yang cenderung ramah lingkungan.

Namun, gambaran-gambaran yang ditampilkan dalam film ini bisa menjadi bukti bahwa teknologi tersebut belum bebas dari kerusakan lingkungan. Justru, dengan legitimasi ini, perusahaan tidak perlu susah payah untuk mengelola limbah yang dihasilkan. Ini mengindikasikan bahwa hak-hak ekologis masyarakat yang tinggal di dekat PLTU telah dikorbankan oleh negara.

Tak bisa dimungkiri bahwa film ini mengangkat topik yang sama seperti film Watchdoc Sexy Killers yang begitu laris dan sempat menjadi Trending Topic. Baik film ini maupun Sexy Killers berusaha mendemonstrasikan bahwa batu bara tak layak dijadikan sebagai energi untuk membangkitkan tenaga listrik melalui sudut pandang yang ekologis serta politis.

Meski demikian, menurut saya, ada perbedaan esensial dari kedua film tersebut. Film Sexy Killers menggunakan topik batu bara sebagai landasan untuk memblejeti rahasia yang sengaja ditutupi: mata rantai cukong-cukong oligarki tambang yang menyokong kubu Jokowi maupun Prabowo.

Bertepatan dengan pentas Pemilihan Presiden 2019, film tersebut setidaknya mengandung pesan bahwa baik Jokowi maupun Prabowo pada dasarnya setali tiga uang. Antara kubu Jokowi maupun Prabowo sebenarnya memiliki keterkaitan kerja sama ekonomis yang kuat. Karena itu, bisa dikatakan bahwa Pilpres 2019 itu merupakan momen bagi-bagi kekuasaan.

Sedangkan, film Sesak: Kisah Mereka yang Tumbuh di Energi Kotor merupakan fragmen-fragmen tragedi yang menimpa anak-anak yang tumbuh di dekat PLTU, di mana mereka hidup dengan menghirup udara kotor dan menghadapi ancaman berbagai penyakit. Hak-hak ekologis mereka ditumbalkan demi keuntungan ekonomis yang pragmatis.

Bersamaan dengan Hari Anak Sedunia yang dirayakan pada 23 Juli, film ini berusaha menampilkan bahwa negara justru mengabaikan dan tak menyediakan tempat yang aman bagi anak-anak di sebagian besar wilayah Indonesia. Dengan demikian, film ini juga menunjukkan bahwa angan-angan negara untuk memanfaatkan dan menambang devisa dari bonus demografi hanyalah mimpi di siang bolong.

Muhammad Akbar
Latest posts by Muhammad Akbar (see all)