Beauty of Mourning

Beauty of Mourning
©Pinterest

:untuk yang berdukacita

“Semakin dalam ikatan, semakin besar rasa sakitnya”—Fred Craddock.

***

Di bandara Yogyakarta
sebelum berpisah
aku kau peluk
Itu tidak berguna!
untuk apa memeluk seseorang
yang hendak kau tinggalkan?
Di bawah kaki salib
ribuan tahun silam kita berteriak
betapa indahnya luka itu?

Yogyakarta, 18 Juni 2020)

***

Kita diciptakan dari cinta dan luka dengan batas-batas yang kabur. Di hadapan kemungkinan-kemungkinan, kita terpaksa memilih: 𝘣𝘦𝘵𝘸𝘦𝘦𝘯 𝘸𝘩𝘪𝘤𝘩 𝘣𝘳𝘪𝘥𝘨𝘦 𝘵𝘰 𝘤𝘳𝘰𝘴𝘴 𝘢𝘯𝘥 𝘸𝘩𝘪𝘤𝘩 𝘣𝘳𝘪𝘥𝘨𝘦 𝘵𝘰 𝘣𝘶𝘳𝘯—𝘸𝘩𝘪𝘤𝘩 𝘸𝘢𝘺 𝘵𝘰 𝘣𝘦 𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭 𝘢𝘯𝘥 𝘸𝘩𝘪𝘤𝘩 𝘸𝘢𝘺 𝘵𝘰 𝘣𝘦 𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘰𝘯.

Homerus, penyair Yunani Kuno, dalam buku ke-6 cerita besar 𝘐𝘭𝘪𝘢𝘥 menulis, sebagaimana generasi daun-daun, begitulah generasi manusia: suatu ketika angin mengguncang dedauan hingga rontok ke tanah, tapi kemudian hutan yang rimbun melahirkan, dan musim semi hadir.

Sayangnya, Homerus hanya melihat daun. Padahal pohon selalu punya kulit: sesuatu yang menetap. Sesuatu yang bercerita bahwa manusia dibentuk bukan hanya oleh atom, tetapi juga sejarah hidupnya dengan manusia lain (mode of engaging, mode of encountering).

Singkatnya, jika Yunani adalah bangsa yang pertama kali mendefinisikan apa itu cinta, orang Romawilah yang menemukan arti sebuah hubungan. Kita menemukan itu dalam legenda tentang Roma yang termasyhur: di bukit tempat kota indah itu didirikan, Romulus membunuh saudara kandungnya Remus, sebelum tata dan tertib lahir. Sejak saat itu hingga hari ini, kita tahu bahwa jarak antara cinta dan luka, intimasi dan kekerasan memendar.

***

Dalam konteks itulah tulisan ini membahas dukacita, luka, dan kesedihan sebagai sesuatu yang indah. Dimensi keindahan ini penting untuk dibahas, terutama ketika peradaban hari ini membuat kita gamang dalam merumuskan apa itu keindahan dan bagaimana kita mengalaminya. Eric Kastner dalam 𝘐𝘯 𝘔𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪𝘢𝘮 𝘔𝘦𝘮𝘰𝘳𝘪𝘢𝘦 menulis, “Siapa lupa akan apa yang indah, dia akan jadi jahat. Siapa lupa akan yang buruk, dia akan jadi bodoh”.

Tapi, bagaimana mungkin ada keindahan dalam dukacita?

Hampir setiap hubungan yang mendalam dan bermakna yang kita miliki dalam hidup ini akan berakhir dengan kesedihan—entah kesedihan itu adalah sesuatu yang kita rasakan sendiri, atau kesedihan yang kita sebabkan untuk orang lain rasakan.

Bagaimanapun juga, sebagian besar dari kita menjalani hidup sambil mengharapkan orang tua kita hidup untuk melihat momen besar kita. Anak perempuan mengharapkan Ayah mereka untuk mengantar mereka ke altar, kita berharap Ibu kita ada di sana untuk menjawab telepon ketika kita membutuhkan kepastian, dan kita menipu diri sendiri untuk percaya bahwa itu akan terjadi—sampai tidak.

Lalu mengapa kita terus mencari hubungan dekat ketika kita sudah tahu hasilnya?

Disadari atau tidak, kita membentuk sebuah hubungan karena satu hal ini: kesedihan, luka, dan dukacita itu indah. Kenangan yang kita tinggalkan dalam kesedihan kita adalah kenangan yang sama, yang kita hargai selama sisa hidup kita.

Disebut demikian karena kita, manusia, diciptakan untuk hubungan yang mendalam, untuk kesedihan yang indah ini. Itulah sebabnya tidak merasakan sesuatu yang merupakan bagian dari pengalaman manusia (entah duka cita, entah suka cita) adalah tragedi yang lebih besar daripada kematian itu sendiri.

Dengan kata lain, kita tidak akan pernah merasakan sakit yang mendalam jika kita tidak benar-benar mampu merasakan kebahagiaan yang mendalam. Inilah inti terdalam dari pengalaman kita sebagai manusia. Atau mengutip apa yang diungkapkan oleh Alfred Lord Tennyson, “Lebih baik mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah mencintai sama sekali.” Jika kita berduka karena kita mencintai, maka rasa sakit itu, kesedihan itu, berasal dari cinta—dan itu tidak dapat dipisahkan darinya.

Jadi, saat kita berduka, saat dada kita sesak dengan isak tangis, saat lapisan air mata membanjiri wajah kita, saat setiap inci tubuh kita terasa sakit, itu indah. Ada keindahan dalam rasa sakit karena ada keindahan di setiap bagian kehidupan. Merasakan kesedihan yang mendalam berarti Anda telah mencintai secara mendalam, dan tidak ada yang lebih indah dari itu.

Keindahan dukacita menunjukkan bahwa ketika Anda berkabung, itu mengungkapkan betapa Anda sangat mencintai makhluk lain. C.S. Lewis membicarakan hal ini dalam bukunya, 𝐴 𝐺𝑟𝑖𝑒𝑓 𝑂𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑒𝑑: Cinta yang Anda bagikan itu indah dan tetap begitu bahkan setelah kematian.

Perspektif ini membawa implikasi etis, antara lain:

Baca juga:

Pertama, kesedihan kita tidak hanya merupakan pengakuan atas hubungan yang mendalam, tetapi juga merupakan undangan untuk hubungan baru melalui tindakan kasih sayang. Dibahasakan secara berbeda, orang yang paling berbelas kasih adalah mereka yang telah melewati kedukaan yang menggetarkan.

Henri Nouwen tahu baik hal ini ketika ia menulis bahwa welas asih benar-benar “menderita bersama orang lain”. Ketika kita menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang berduka, atau ketika seseorang menunjukkan belas kasihan kepada kita, kita sebenarnya saling berbagi rasa sakit dan kesedihan. Kesedihan bersama ini mengarah pada hubungan yang mendalam dan berdampak. Hubungan ini muncul dari kesedihan kita.

Kedua, ketika kita berduka atas kematian orang yang kita cintai, itu memberi makna bagi hidup mereka dan siapa mereka bagi kita. Saya percaya, jika budaya kita dapat melihat kesedihan dan proses berkabung sebagai bagian normal dan indah dari kehidupan, kita akan memiliki belas kasih yang lebih besar terhadap satu sama lain. Kita akan lebih anggun dan sabar dengan diri kita sendiri. Itu akan membuat kita mampu menerima kematian dan belajar bagaimana mengintegrasikan kematian ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketiga, mencintai orang lain adalah satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan. Sementara seluruh dunia kita berantakan oleh dukacita karena meninggalnya seseorang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencitai orang-orang terdekat yang ia tinggalkan (anak-anak, istri/suami, dan kerabatnya).

Akhirnya, jika cinta selalu mengandung luka, mengapa kita senantiasa membangun hubungan mendalam dengan orang lain? Jawaban Anda menentukan siapa diri Anda hari ini dan di masa depan.

Selamat mencintai dan terluka! Karena hanya itulah alasan sekaligus tujuan kita menjadi manusia.

    Hans Hayon
    Latest posts by Hans Hayon (see all)