Belajar tentang Gandhisme dalam Film Lage Raho Munna Bhai (2006)

Belajar tentang Gandhisme dalam Film Lage Raho Munna Bhai (2006)
©YouTube

Belajar tentang Gandhisme dalam Film Lage Raho Munna Bhai (2006)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya. Kiranya ungkapan itulah yang selama ini dipegang oleh negara India. Kenyataan ini bukan tanpa alasan. Salah satu pahlawan India yang paling terkenal di dunia, yakni Mahatma Gandhi, telah begitu meresap dalam kehidupan bangsa India.

Berbicara negara India memang tidak lepas dari peran Mahatma Gandhi. Selain sebagai tokoh revolusi, Gandhi juga dikenal dengan sosok yang bijaksana dan baik hati. Sosok bijaksana dan baik hati inilah yang coba ingin diterapkan atau lebih tepatnya diperlihatkan dalam beberapa hal, termasuk diperlihatkan dalam film.

Film India selama ini identik dengan kisah percintaan dan joget-joget. Namun, ternyata tidak semua film India seperti itu. Ada banyak film India yang memiliki nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan yang ditawarkan melalui sosok pahlawannya, yakni Mahatma Gandhi.

Film itu berjudul “Lage Raho Munna Bhai” tahun 2006 yang disutradarai oleh Rajkumar Hirani dan diperankan oleh Sanjay Dutt. Meski film ini tergolong film lama yang dibumbui kisah komedi, nilai-nilai yang diajarkan dalam film ini masih relevan di dalam kehidupan masa kini.

Sinopsis Film “Lage Raho Munna Bhai”

Lage Raho Munna Bhai bermula pada karakter Munna Bhai (Sanjay Dutt), seorang ketua geng mafia. Meskipun terkenal dengan posisinya yang ditakuti dan disegani oleh banyak orang, ternyata ada satu hal yang membuat Munna Bhai tidak bisa apa-apa di hadapan cinta. Ia Munna Bhai jatuh cinta dan terpikat pada seorang penyiar radio bernama Jhanvi.

Munna Bhai sangat tergila-gila dengan Jhanvi dan ingin sekali berjumpa dengannya. Namun, dengan posisinya sebagai ketua geng mafia yang dikenal negatif, Munna Bhai tidak yakin bisa kenal apalagi dekat dengan Jhanvi wanita yang dipujanya.

Namun, pada suatu hari Jhanvi melalui siaran radio yang dibawakannya mengadakan kompetisi yang pemenangnya mendapatkan hadiah bisa diundang ke studio Jhanvi dan siaran langsung bersamanya. Kompetisi itu terkait dengan pemahaman seseorang akan ajaran sosok Mahatma Gandhi. Mendengar hadiahnya bisa bertemu dengan Jhanvi, Munna Bhai secara nekat mengikuti lomba tersebut, meski dirinya bukanlah orang yang mengenal dan paham dengan ajaran Ghandi.

Munna Bhai kemudian melakukan pengorbanan dengan mempelajari dan mengetahui ajaran sosok Mahatma Gandhi di perpustakaan Universitas Mumbai. Di sinilah kemudian muncul sosok seorang Gandhi yang menemui Munna Bhai, tetapi yang bisa melihat Gandhi hanya Munna Bhai. Pengorbanan serta perjuangannya mempelajari ajaran sosok seorang Gandhi tidaklah sia-sia. Pada akhirnya Munna Bhai bisa bertemu dengan sosok idamannya Jhanvi.

Baca juga:

Setelah diundang dan bertemu di studio tempat siaran Jhanvi. Munna Bhai kemudian mulai akrab dengan Jhanvi. Jhanvi kemudian mengajak Munna Bhai untuk main-main ke rumah Jhanvi dan bertemu keluarganya. Ternyata disini Jhanvi tinggal bersama orang-orang lanjut usia yang berjumlah enam orang. Tetapi Jhanvi mengundang Munna Bhai ke rumahnya bukan tanpa syarat, dalam kesempatan itu, Jhanvi meminta Munna Bhai untuk mengajari orang-orang lanjut usia tersebut tentang ajaran Gandhi.

Berkat bantuan sosok “imajiner” Mahatma Gandhi pada akhirnya Munna Bhai mampu menjelaskan tentang ajaran-ajaran Gandhi. Seiring berjalannya waktu, semakin hari Munna Bhai semakin paham mengenai ajaran Mahatma Gandhi. Pengetahuan mengenai ajaran Gandhi ini kemudian diterapkan oleh Munna Bhai di setiap kesempatan, seperti saat dirinya menghadapi seorang pengacara yang korup. Menurut, Munna Bhai pengacara korup yang merugikan rakyat mestilah diganti. Ia kemudian mencontohkan ajaran mengenai Gandhi.

Mahatma Gandhi berkuliah di London dan praktik di Afrika Selatan, pengacara ini (Gandhi) akan memberi kita solusi dengan bijak tanpa harus menggunakan kekerasan. Di kempatan lain, Munna Bhai kemudian dipercaya untuk menyampaikan ajaran-ajaran Gandhi melalui siaran radio milik Jhanvi. Disini Munna Bhai mulai sedikit demi sedikit memberi nasihat-nasihat bijak kepada semua orang atas dasar ajaran Gandhi, seperti:

  • Munna Bhai memecahkan masalah seorang pria yang memakai duit ayahnya tanpa sepengetahuan ayahnya. Di sini Munna Bhai dibantu oleh sosok “imajiner” Gandhi Munna menasehati bahwa “pertama jangan menghindari masalah hadapi dan akuilah”.
  • Munna Bhai kemudian memecahkan masalah seorang kakek bernama Tono yang ingin meminta uang pensiunnya. Namun, sudah dua tahun tak kunjung diterima. Munna memberinya solusi, yakni membuat petugas malu dengan menunjukkan sikap korupnya. Kakek Tono kemudian menemui petugas dan memberikan semua barang yang ia punya sambil menyebut satu persatu harga barangnya hingga petugas itu malu dan segera mencairkan dana pensiunnya.

Meski secara fisik Mahatma Gandhi sudah tiada, namun ajaran-ajarannya tetap dikenang sepanjang masa.

Ajaran dan Nilai Kebijaksanaan Mahatma Gandhi

Film Lage Raho Munna Bhai ini sungguh sebuah sederhana kehidupan sehari-hari manusia yang dibungkus dengan nuansa komedi. Meski dibungkus dengan nuansa komedi, tetapi film ini mampu menyentil kita semua tentang fenomena kehidupan manusia yang semakin tidak bermoral dan melupakan ajaran para orang-orang bijak.

Sentilan pertama dari film ini adalah ketika Munna Bhai ke perpustakaan untuk mempelajari ajaran-ajaran Gandhi. Scene dalam film ini ingin memperlihatkan bahwa semakin hari orang semakin lupa mengenai Gandhi sosok yang penuh kebijaksanaan. Artinya semakin kesini kita juga secara tidak langsung lupa mengenai bagaimana hidup dengan penuh kebijaksanaan.

Foto-foto Gandhi hanya menjadi seremonial penghargaan tanpa tahu dan mau mempelajari kebijaksanaanya. Melalui film ini semua itu diingatkan kembali mengenai apa artinya hidup dengan bijaksana dan tanpa kekerasan. Dua nasehat Munna Bhai di dalam film tersebut, tatkala dirinya menasehati seorang pria menunjukkan tentang ajaran Gandhi mengenai ahimsa. Kata “ahimsa” secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta dari kata (himsa=han, yang berarti membunuh) sedangkan “ahimsa” ditambahkan awalan “a” maka menjadi kalimat negatif “tidak”.

Baca juga:

Sehingga “ahimsa” dalam arti yang sebenarnya tidak membunuh, tidak menyakiti, dan tidak melukai. Ahimsa sendiri merupakan kekuatan cinta yang merupakan penghormatan terhadap semua bentuk kehidupan.

Di dalam film ini, Munna Bhai selalu menasehati seseorang untuk  mengedepankan cinta tanpa melakukan kekerasan. Bagi Gandhi, ahimsa bukan hanya sekedar tingkatan tidak melakukan pembunuhan, kekerasan, dan penyerangan secara negatif, tetapi tingkatan cinta positif, berbuat baik bahkan kepada pelaku kejahatan.

Kasus seorang kakek bernama Tono memperlihatkan bahwa meski ia terzholimi dengan tidak dipenuhi hak-haknya terkait dana pensiun. Namun, Munna Bhai yang dibantu sosok “imajiner” Gandhi menyuruhnya untuk tidak melakukan kekerasan, melainkan cukup dipermalukan. Sebab Gandhi menyakini bahwa hanya ahimsa atau tanpa kekerasan (nir-kekerasan) yang akan bisa menaklukkan kejahatan.

Dimas Sigit Cahyokusumo