Belajar Toleransi dari Pramodawardhani, Ratu Mataram Kuno

Belajar Toleransi dari Pramodawardhani, Ratu Mataram Kuno
©Jababeka News

Belajar Toleransi dari Pramodawardhani, Ratu Mataram Kuno

Toleransi beragama merupakan perwujudan sikap saling menerima anatara satu dengan yang lainnya. Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, ras, suku dan budaya yang beraneka ragam, sudah seyogyanya bila perbedaan latar belakang tersebut disikapi dengan bijaksana.

Sebagaimana yang tersurat dalam serat Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang berisi suatu wejangan luar biasa yaitu “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang bermakna berbeda-beda tapi tetap satu dan tidak ada kebenaran kedua.

Dalam Kitab Sutasoma tersebut dijelaskan bahwa toleransi antar umat beragama sudah terjalin sejak zaman dulu bahkan sejak sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Perbedaan agama sudah ada sejak zaman dulu dan kadang kala menimbulkan gesekan konflik antara satu dengan yang lainnya.

Sikap toleransi hanya dapat terwujud bila ada keterbukaan berpikir antar kelompok beragama dan kesadaran akan pentingnya sebuah kedamaian. Marilah kita tengok sejarah pada masa lalu tentang toleransi beragama, dalam tulisan ini saya mengambil contoh toleransi yang ada pada masa Mataram Kuno dengan tokoh seorang Ratu yaitu Pramodawardhani.

Berdasarkan catatan prasasti Kayumwungan bertanggal 26 Maret 824 M disebutkan bahwa Pramodawardhani merupakan putri dari Maharaja Samaratungga. Dalam prasasti tersebut juga ditulis bahwa Pramodawardhani meresmikan sebuah bangunan megah yang disebut sebagai Jinalaya bertingkat-tingkat sangat indah. Oleh para sejarawan bangunan tersebut ditafsirkan sebagai Candi Borobudur.

Terdapat prasasti lain yaitu Tri Tepusan tertanggal 11 November 842 M yang menjelaskan bahwa ada seorang tokoh besar pada masa itu dan bergelar Sri Kahulunan, ia merupakan tokoh yang bijaksana. Pada masa pemerintahan Pramodawardhani ia dengan berani membebaskan pajak untuk desa-desa sekitar kerajaannya supaya penduduk ikut merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur)

Menurut penafsiran sejarawan Belanda, Dr. De Casparis mengatakan istilah Sri Kahulunan bermakna permaisuri dalam hal ini Pramodawardhani, sebab pada saat itu suami Pramodawardani yaitu Rakai Pikatan sudah menjadi raja. Menurut catatan prasasti Mantyasih Rakai Pikatan merupakan raja keenam Kerajaan Medang.

Mengenai agama yang dianut oleh Rakai Pikatan tersurat dalam prasasti Wantil bahwa ia menganut agama Hindu Siwa sementara istrinya, Pramodawardhani menganut agama Buddha. Pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramodawardani dianggap meredamkan konflik dari pihak kedua keluarganya.

Baca juga:

Dapat kita pahami bahwa pernikahan beda agama antara Hindu-Buddha yang dilakukan oleh Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani memberikan dampak positif bagi pemeluk agama Hindu-Buddha pada waktu itu sebab dari situlah kemudian memunculkan nilai-nilai toleransi, saya membayangkan bahwa pada masa itu penuh kedamaian dan keharmonisan antar umat beragama. Sekalipun pada awal abad ke-7 Agama Buddha mendominasi wilayah Jawa Tengah namun sikap toleransi masih berjalan harmonis.

Toleransi yang terjadi pada masa itu terbukti dalam Candi Borobudur. Candi besar di wilayah Kabupaten Magelang ini dibangun pada masa Wangsa Sailendra dan dipimpin oleh Maharaja Samaratungga. Sebelum candi itu diresmikan Samaratungga wafat dan posisi kerajaan kosong pemimpin namun sebelum wafat Samaratungga mewasiatkan bahwa tandu kerajaan akan dilanjitkan oleh putrinya yaitu Pramodawardhani.

Kemudian Candi Borobudur tersebut diresmikan oleh Pramodawardhani pada tahun 824 M dan Pramodawardhani resmi dilantik sebagai ratu pada tahun 833 M dengan didampingi oleh Rakai Pikatan. Pada masa pemerintahan Pramodawardhani toleransi beragama semakin kuat dan harmonis perdamaian antar umat beragama mulai tumbuh dihati masyarakat.

Boleh dikatakan jika Pramodawardhani hidup pada abad 21 ini ia akan memperoleh hadiah Nobel Perdamian. Selama menjadi ratu Pramodawardhani bersikap bijak, arif, dan adil sehingga masyarakat merasa tentram dan damai.

Bahkan Pramodawardhani memberi izin pada suaminya untuk membangun candi-candi Hindu di bawah wilayah kekuasaannya. Begitupun sebaliknya, Rakai Pikatan juga tak tanggung-tanggung membantu pendirian candi-candi Buddha. Warisan candi yang mereka bangun dapat kita jumpai hingga kini misalnya seperti candi Borobudur, Prambanan, Boko, Plaosan, Candi Ijo, Candi Sambisari dan masih banyak lagi.

Menurut pengamatan saya di antara candi-candi diatas yang menunjukkan bukti bahwa toleransi beragama pernah terjadi di wilayah tersebut yaitu Candi Plaosan. Candi ini cukup menjadi saksi bisu terjalinnya toleransi pada masa itu pasalnya terdapat kemuncak arca Buddha dan candi-candi perwara (cadi kecil) yang berbentuk stupa.

Hal ini menandakan bahwa candi tersebut merupakan Candi Buddha. Sementara candi-candi yang ada di sekitar candi Plaosan kebayankan bercorak Candi Hindu. Candi ini terdiri dari dua candi induk dan 58 candi perwara atau pendamping serta memiliki 194 stupa.

Dapat kita lihat tulisan yang terpahat di candi perwara menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan sumbangan seorang abdi kepada rajanya sebagi bentuk perlambangan loyalitas. Candi Plaosan yang di bangun oleh Rakai Pikatan dipersembahkan untuk istrinya, Pramodawardhani sebagi tanda cintanya. Seperti kita ketahui bahwa Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani memiliki perbedaan latarbelakang agama. Candi Plaosan merupakan perpaduan dari dua agama yaitu Hindu-Buddha.

Maka dari itu Candi Plaosan menjadi lambang dari keharmonisan dan toleransi dua agama tersebut. Pada tahun 856 Rakai Pikatan turun takhta dan menjadi seorang Brahmana dengan gelar Sang Jatiningrat. Kemudian takhta kekuasaan Medang dilanjutkan oleh putra bungsunya yang bernama Rakai Kayuwangi. Pengangkatkan Rakai Kayuwangi bukan tanpa alasan atas semua jasanya mengalahkan pembrontakan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni ia dipercaya memegang kekuasaan Kerajaan Medang.

Baca juga:
Ferry Fitrianto
Latest posts by Ferry Fitrianto (see all)