Bencana Kemanusiaan dan Pergulatan Eksistensial

Bencana Kemanusiaan dan Pergulatan Eksistensial
©Amnesty International

(Membaca Bencana Kemanusiaan dalam Terang Filsafat Eksistensial Søren Aabye Kierkegaard)

Bencana kemanusiaan hadir dalam berbagai wajah. Terorisme, aborsi, pemerkosaan, rasialisme, radikalisme agama yang berujung pada pengusiran, intimidasi merupakan peta suram yang mewarnai kehidupan modern. Bencana alam seperti tanah longsor, banjir, letusan gunung berapi telah menjadi persoalan pelik yang menggugah eksistensi manusia.

Manusia masuk dalam pengalaman keputusasaan akibat penderitaan yang tak tertangguhkan. Ketidaksadaran akan realitas ini menempatkan manusia menjadi “hamba” dari perbuatannya sendiri.

Kierkegaard melihat keputusasaan manusia terjadi dalam tiga hal.[1] Pertama, ketidaksadaran akan dirinya yang merupakan sintesis antara yang mewaktu dan abadi, sehingga tidak menyadari persoalan pelik yang menimpa hidupnya. Kedua, akibat tamparan nasib manusia juga jatuh pada sikap mencela hal-hal yang bersifat abadi dan tenggelam pada hal yang temporal. Ketiga, manusia telah menyadari tegangan fundamental dalam dirinya sebagai makhluk yang temporal dan abadi. Namun ia berusaha untuk menghadapinya dengan kekuatannya sendiri. Kierkegaard menyebutnya sebagai keputusasaan keinginan menjadi diri sendiri.

Pergulatan hidup manusia merupakan situasi yang terus terjadi dalam kehidupannya. Kegelisahan hidup terus menggelitik hidup manusia, sehingga ia perlu melihat gejala ini sebagai panggilan untuk hidup secara autentik. Krisis kemanusiaan adalah tanda ketidakautentikan hidup manusia. Realitas sosial menampilkan peta suram kehidupan modern yang materialistik, konsumtif, dan individualistik.

Manusia modern hidup pada wilayah estetis. Kesenangan menjadi target utama dan dijadikan standar dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun politik. Keberhasilan dan pencapaian manusia modern diukur dari kalkulasi materi dan kejayaan ekonomi. Akhirnya dengan cara apa pun manusia dan alam dieksploitasi yang berdampak buruk pada keberlangsungan hidup.[2]

Keegoisan dan sikap ingin menguasai berdampak pada alienasi kehidupan manusia. Pembunuhan, intimidasi, dan pelanggaran-pelanggaran HAM adalah bentuk ketidakberdayaan manusia di hadapan realitas. Manusia telah menjadi momok bagi sesamanya. Standar kehidupan diukur dari sudut pandang dirinya atau kelompoknya. Pluralitas diterima sebagai sebuah anacaman yang harus dimusnakan. Relasi dengan sesama dilabeli dengan kepalsuan. Hidup menjadi tidak berbentuk (formless) karena menghilangkan hakekat kehidupan sebagai anugerah.

Manusia hadir dengan “birahi kapitalis” yang ingin mengeksploitasi alam bahkan sesama manusia itu sendiri. Kemanusiaan dijadikan produk ekonomi yang menyebabkan perdagangan manusia (human trafficking), masalah surogasi dan adopsi embrio, kloning bahkan hibridisasi manusia. Martabat manusia dipolitisasi sebagai alasan legim untuk mendapat sesuatu yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya semata.

Bencana kemanusiaan adalah faktum kesombongan manusia. Manusia ingin menjadikan dirinya super di hadapan sesama, alam dan Tuhan sebagai realitas terakhir (causa sui). Keinginan untuk menguasai alam menyebabkan dirinya sendiri sebagai tawanan bencana alam yang memorakporandakan tatanan kehidupan. Pelanggaran Hak Asasi Manusia makin mempertegas ketidakautentikan hidup manusia itu sendiri.

Lantas, siapakah yang menjadi aktor utama peristiwa ironis ini? Siapakah yang harus bertanggung jawab dengan bencana kemanusiaan ini? Apa yang harus diubah dalam kehidupan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita untuk memahami tahap-tahap jalan hidup yang dipertimbangkan oleh Kierkegaard.

Manusia adalah aktor utama dari bencana kemanusiaan yang menyebabkan duka bagi sesamanya. Krisis-krisis ekologi maupun kemanusiaan adalah tanggung jawab manusia itu sendiri.

Tuduhan manusia terhadap realitas lain yang menyebabkan bencana kemanusiaan adalah bentuk distraksi dari realitas yang tak tertahankan oleh manusia. Keogisan dan keangkuhan manusia telah menempatkan manusia sebagai produk kejahatan yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Kengerian dan absurditas bencana kemanusiaan mengubah cara pandang manusia untuk melihat kehidupan secara baru.

Krisis kemanusiaan perlu ditanggapi dengan langkah preventif. Langkah yang perlu diambil oleh manusia adalah menemukan keotentikan dirinya. Artinya, manusia perlu merumuskan tujuan hidupnya bukan hanya untuk mencari kesenangan indrawi semata, tetapi berorientasi pada hidup yang akan datang. Dengan demikian, arah dan tujuan hidup manusia terarah kepada Allah sebagai pemberi kehidupan dan kepada-Nya segala yang hidup tertuju.

Kierkegaard mengusulkan pertama-tama yang diubah bukan realitas sosial (situasi yang berada di luar diri manusia) yang menyebabkan krisis kemanusiaan. Pertama-tama yang perlu diubah adalah diri sendiri (oneself).[3] Kierkegaard mempertimbangkan bahwa manusialah menjadi faktor utama dari bencana kemanusiaan. Refleksi diri menjadi tuntutan absolut bagi manusia untuk menemukan identitas dirinya di hadapan realitas. Makna hidup manusia terletak pada subjektivitas manusia.

Kierkegaard melihat subjektivitas manusia ketika ia berani bergumul dengan penderitaan, pilihan hidup sekalipun mengalami ketersiksaan dan penderitaan. Syarat untuk menjadi diri sendiri adalah masuk dalam keheningan. Dalam keheningan, manusia menemukan sesuatu yang melampuinya.

Manusia perlu membangun sikap reflektif yang menyadarkan dirinya kepada Yang Ilahi. hubungan yang intim dengan Yang Ilahi membuat manusia dapat hidup secara etis. Dorongan-dorongan estetis manusia dapat diredam oleh pilihan etis yang mengarahkan manusia pada hidup religius. Panggilan menjadi diri adalah panggilan etis dari hidup estetis dan mengarahkan dirinya pada hasrat yang benar.

Bencana yang mencederai nurani kemanusiaan adalah sebuah konsekuensi dari pilihan hidup manusia yang tidak autentik. Pilihan yang tidak autentik ini lahir dari persepsi manusia yang keliru tentang kehadirannya dalam realitas sosial. Manusia terikat pada kesenangan indrawi, spontanitas yang destruktif dan sarkasme. Subjektivitas manusia hanyalah euforia yang tak bermakna.

Emmanuel Levinas melihat subjektivitas manusia memiliki struktur etis karena manusia terikat pada Yang Lain (Allah). Subjektivitas etis seperti inilah yang mengarahkan manusia pada sesamanya sebagai yang-lain (for-the-other).[4] Kehadiran manusia sebagai subjek adalah untuk yang-lain.

Dengan demikian, bencana kemanusiaan adalah pengambilalihan kehidupan dari Yang Ilahi sebagai pemberi kehidupan. Tanggung jawab manusia adalah hidup secara etis dan mengarahkan hidupnya pada Yang Ilahi sebagai realitas di mana kehidupan manusia disingkapkan.

Panggilan menjadi diri sendiri merupakan panggilan untuk menemukan makna kehidupan manusia. Panggilan ini berkaitan dengan pergulatan manusia untuk menemukan eksistensi dirinya di tengah dunia. Manusia dipanggil untuk membangun rekonsiliasi dengan sesama, alam dan Yang Ilahi.

Luka-luka akibat nafsu indrawi manusia dipulihkan kembali oleh karena keterbukaan total pada realitas yang berubah. Manusia kembali membangun relasi yang etis dengan orang lain. Relasi yang etis dengan sesuatu yang berada di luar dirinya merupakan ciri hakiki dari subjektivitas manusia.

Namun perlu dipahami secara baik bahwa Kierkegaard melihat subjektivitas berkaitan dengan kebenaran moral religius, yakni bagaimana cara manusia menghayati kehidupan, nilai-nilai yang diembannya dan keputusan-keputusan yang harus dibuatnya.[5]

Peristiwa dehumanisasi maupun krisis ekologi lahir dari sikap manusia yang egoistik. Manusia kurang memperhatikan siapa yang memberikan berkat dan hanya memfokuskan diri pada isi berkat yang ditujukan padanya. Manusia adalah pengurus, pelayan atau biasa disebut stewardship. Ia harus mengelola segala ciptaan tanpa dominasi karena dirinya adalah pelayan.[6]

Manusia perlu membangun dirinya dengan habitus baru yaitu menjadikan dirinya sebagai subjek yang memberi. Barometer keautentikan hidup manusia ialah membangun relasi yang harmonis dengan sesama, alam dan Yang Ilahi. Realitas kehidupan manusia mengundang manusia untuk berbalik menemukan dirinya di tengah kehidupan yang suram.

Ia harus hidup dengan nilai-nilai religius yang merupakan nilai tertinggi dari segala nilai yang diembannya. Nilai religius harus bermuara pada sikap etis terhadap kehidupan. Ia harus menjadi maestro yang menunjang laju kehidupan menuju arah transformatif. Ia harus memiliki keberanian untuk menggumuli realitas dan bersikap altruistik untuk meredam egoisme yang ada di dalam dirinya.

Manusia sejatinya memiliki tanggung jawab terhadap situasi kaos yang ada dalam kehidupannya. Ia harus membuka selubung kepalsuan dalam dirinya, dan berani melakukan transendensi realitas dirinya. Hal ini merupakan implikasi etis dari hidup manusia ketika ia bergumul dengan Yang Ilahi sebagai pemberi kehidupan.

Relasi dengan Yang Ilahi adalah panggilan untuk mencintai kehidupan. Investigasi manusia pada akhirnya harus merupakan realisasi dari aktivitas cinta. Hidup yang etis harus bermuara dalam kegiatan mencintai, karena cinta adalah tindakan etis yang paling lengkap.[7]

Bencana kemanusiaan memetakan jarak antara manusia dan kehidupannya. Akibat kepalsuan diri, manusia hidup dengan naluri inderawi yang menghambat dirinya untuk hidup secara autentik. Dalam bertindak, manusia harus membuat dirinya sebagai subjek dari tindakan tersebut.

Manusia tidak saja bertindak atas dorongan naluri dan rangsangannya semata. Tindakannya harus mengarahkan dirinya pada suatu tujuan yang hendak dicapai. Manusia harus bertindak dengan sadar dan menjauhkan dirinya dari berhala kepalsuan, sehingga kesenangan indrawi tidak memperbudak dirinya. Manusia perlu bersikap reflektif di tengah bencana kemanusiaan, karena ia sendiri adalah pelaku dari kehidupan sekaligus penanggung jawab atas realitas.

Bencana kemanusiaan sebagai jalan pembebasan manusia dari alienasi. Manusia dibebaskan dari hidup estetis, yaitu egosime dan naluri untuk bertindak destruktif, serta eksploitasi yang berlebihan. Hal itu dapat terjadi apabila manusia kembali kepada subjektivitas dirinya dan hidup secara etis. Sikap reflektif dan mengarahkan diri pada Yang Ilahi menjadi kepenuhan hidup manusia. Bagi Kierkegaard, kegagalan bereksistensi adalah ketika manusia menjadikan dirinya sebagai penguasa tunggal kehidupan.

Bencana kemanusiaan membuka ruang bagi manusia untuk bertanggung jawab atas kehidupan. Manusia sebagai subjek yang mengada harus menemukan keautentikan dirinya dalam realitas penderitaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Ia harus mengada dalam waktu sembari mengarahkan dirinya pada Yang Ilahi sebagai sumber kehidupan berasal.

[1] Thomas Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (Jakarta: Gramedia, 2019), hlm. 20105-106.

[2] Aloysius Germina Dinora & Sholahuddin Al-ahmed, Logika Kritis Filsuf Klasik dari Era Pra-Sokrates hingga Aristoteles (Yogkyarta: Penerbit Sociality, 2020), hlm. 171.

[3] Usulan Kierkegaard untuk mengubah diri sendiri sebagai hal yang pertama sebelum realitas yang ada di luar dirinya merupakan antitesis terhadap filsafat Hegel mengenai keterasingan dan menemukan sumbernya dalam realitas politik dan ekonomi masyarakat. Baginya Filsafat Hegel gagal memperhatikan pergulatan eksistensial dan subjektivitas manusia. Thomas Hidya Tjaya, op. cit., hlm. 154.

[4]Thomas Hidya Tjaya, Emmanuel Levinas-Enigma Wajah Orang Lain (Jakarta: Penerbit Gramedia, 2019), hlm. 107.

[5]Thomas Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, op. cit., hlm. 122.

[6]Benny Phang, O. Carm, Rahim Untuk Dipinjamkan, Moralitas Kristiani pada Awal kehidupan Manusia (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2017), hlm. 159.

[7]Dr. Agustinus W. Dewantara, S.S., M.HUK, Filsafat Moral, Pergumulan Etis Hidup Manusia (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2021), hlm. 98.

    Iron Sebho
    Latest posts by Iron Sebho (see all)