Bencong Keren

Bencong Keren
Ilustrasi: apr.org

Nalar WargaBeberapa hari terakhir ini, saya sering melihat penampilan dua bencong keren asal Klaten, Jawa Tengah, yang sering tampil bersama Ki Seno Nugroho, dalang keren asal Nyayogyokarto.

Sejak kecil, saya adalah penggemar wayang, baik wayang kulit maupun wayang nggolek. Dulu, ada beberapa dalang yang saya suka seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Sugino, dan tentu saja sang maestro Ki Narto Sabdo, dan lain sebagainya.

Dulu, senang sekali nonton wayang di kampung maupun mendengarkan wayang lewat radio. Kini, saya sedang kesengsem dengan Ki Seno Nugroho yang bukan hanya piawai memainkan wayang, tetapi juga diselingi dengan humor-humor kocak dan segar. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa nanggap beliau.

Dalam penampilannya, Ki Seno Nugroho sering didampingi oleh bintang tamu “pria feminin” yang hebring dan superkocak (klop dengan Ki Seno) bernama Mbak Apri dan Mbak Mimin. Nama asli Mbak Apri adalah Panut. Sedangkan Mbak Mimin bernama KTP Sukimin. Ini tidak ada hubungannya dengan “tokoh” Mamat-Mimin yang sering saya sampaikan di Pesbuk. Keduanya adalah “bencong keren”.

Mbak Apri memiliki paras jelita, kalah deh kaum perempuan bok he he. Ia juga bersuara emas. Merdu sekali kalau menyanyi. Saya sampai terpesona cie cie. Konon ia pernah menjuarai lomba menyanyi campur sari tingkat Jawa Tengah.

Bukan hanya itu saja. Mbak Apri juga mahir menari dan menjoget. Soal joget-menjoget ini, keok deh “kaum Hawa ori”. Kalau njoget, pantatnya egal-egol dan mendul-mendul, meskipun mungkin diganjal kain.

Kalau postur dan keahlian Mbak Mimin lain lagi. Ia berparas biasa bahkan “wajah dan bodi maskulinnya” masih kelihatan. Suaranya juga biasa saja. Kelebihannya terletak pada kepintarannya berbicara. Ia tampak seperti sosok yang cerdas dan pintar.

Lihat juga: Serentak Rayakan HUT RI 72, Kelompok LGBT Yogyakarta Titip Asa pada Negara

Melihat penampilan keren Mbak Apri dan Mbak Mimin (ada banyak video mereka di YouTube), saya jadi bepikir: apa dasar dan argumen yang mengatakan bahwa kaum LGBT adalah “perusak bangsa” dan “penghancur masyarakat”?

Bukankah yang perusak dan penghancur bangsa itu sejatinya adalah para koruptor tengik, elite busuk atau tokoh agama yang berwatak dan berperilaku seperti setan mendem?

Kenapa ada sekelompok orang dan umat begitu bernafsu ingin membumihanguskan kaum LGBT? Jika mereka menganggap LGBT adalah “penyakit”, kenapa mereka tidak berusaha “mengobati” dan “menyembuhkannya”, tetapi malah disumpahserapahi dan dicacimaki seperti orang kedemitan?

Anda yang hobi mencaci-maki kaum LGBT, belum tentu memiliki talenta seperti Mbak Apri dan Mbak Mimin.

Bukankah mereka, seperti yang lainnya, juga sama-sama sebagai “makhluk Tuhan” yang mestinya juga perlu kita hargai? Apalah artinya kita mengaku sebagai “pecinta Tuhan” kalau kita membenci dan tidak menghargai ciptaan-Nya?

Mari kita simak sejenak penampilan dalang keren dan bencong keren berikut ini:

*Sumanto Al Qurtuby

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet