Beragama dengan Nalar Saintifik

Beragama dengan Nalar Saintifik
©Sociedelic

Kebutuhan pada fikih saintifik kian mendesak. Di era modern ini, IPTEK menghegemoni kehidupan kita secara langsung dan tidak langsung dan kita wajib menghadapi segala problem dengan pandangan ilmiah.

Mitos, takhayul, dan cerita mistik sudah tidak bisa atau tidak ampuh lagi untuk mengontrol dan menyelesaikan problem di masyarakat. Kita sudah beralih dari cara hidup kuno kepada cara hidup yang modern. Contohnya, jikalau kita sakit, kita tidak akan lari ke dukun tradisional, namun pertama-tama pasti ke dokter modern.

Kita sudah tidak memerlukan ritual minta turun hujan, sebab kita bisa memprediksi dan merekayasa hujan. Kita sudah tidak butuh lagi memberi sesaji kepada gunung berapi yang aktif, sebab para insinyur kita telah dapat membuat irigasi agar letusan lahar gunung bisa mengalir tanpa merusak alam sekelilingnya.

Juga tidak perlu menanyakan suatu informasi pada juru propaganda desa, sebab kini koran, TV, Radio, internet sudah siap memberi informasi 24 jam nonstop pada kita.

Dominasi IPTEK sudah sedemikian kuatnya dalam kehidupan kita, tidak bisa kita tolak dan hindari. Nah, agama kita, bagaimanapun, memiliki sisi adikodrati atau spiritual yang tidak bisa kita jawab secara ilmiah.

Bahayanya, jika fenomena adikodrati yang terdapat dalam kitab suci (yang sebenarnya hanya metafora) orang telan secara mentah dan gunakan saat ini sebagai suatu kejadian yang mutlak benar. Banyak ulama yang menolak teori evolusi, teori Heliosentris, sistem demokrasi dengan dalil “tak tercantum dalam kitab suci” dan “apa yang terdapat dalam kitab suci adalah benar mutlak walau bertentangan dengan sains”.

Akibatnya, orang orang berpikir bahwa antara sains dan agama saling bertentangan dan tak bisa akur. Dilema seperti ini tidak hanya terjadi dalam agama Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu memiliki problematika yang sama.

Jikalau kita menafikan IPTEK, itu tidak mungkin (bagaimana Anda bisa hidup di era sains modern sedangkan Anda menolak sains?). Namun, jikalau kita menafikan agama, itu juga tidak mungkin (bagaimanapun, manusia memiliki sisi spiritualitas yang hanya bisa agama penuhi).

Baca juga:

Karena itulah, agama harus bisa berkolaborasi dengan sains. Bukan meng-“agama”-kan sains atau men-“sains”-kan agama, tapi kedua metode tersebut (paradigma keagamaan dan sains) kita praktikan sekaligus.

Apakah bisa? Tentu bisa.

Dalam menjelaskan tentang fenomena alam, kita berpandangan secara saintifik. Namun, sebagai seorang religius, kita tetap meyakini adanya sosok adikodrati yang melampaui fenomena alam ini, sehingga dengan begitu kita bisa berpikir secara rasional dan bertindak secara salih dalam mengamalkan agama.

Dalam Islam, ada yang namanya fikih. Fikih adalah kumpulan norma dan aturan Islam. Fikih juga merupakan ilmu mengenai hukum lslam. Paradigma fikih ini yang saat ini mendominasi umat. Karena fikih kadang mengacu pada teks kitab suci.

Dalam masalah-masalah kontemporer para fukaha sering kali keliru dalam memberi fatwa yang berkaitan dengan IPTEK. Padahal, fatwa para fukaha tersebut sangat berharga bagi kaum awam.

Bayangkan jika fatwanya kacau, maka pikiran umat juga kacau. Inilah urgensitas fikih sains, yaitu cara berpikir saintifik dalam pengkajian masalah-masalah fikih. Proyek fikih sains adalah awal dari praktik saintifikasi Islam. Jikalau pola berpikir sains masuk dalam kajian usul fikih, dapat kita pastikan problematika umat modern akan dapat terpecahkan.

Baca juga:
Reynaldi Adi Surya
Latest posts by Reynaldi Adi Surya (see all)