Berbagai Dimensi Terorisme (dan Mengapa Tidak Perlu Sekolah Tinggi-Tinggi untuk Memahami Itu)

Berbagai Dimensi Terorisme (dan Mengapa Tidak Perlu Sekolah Tinggi-Tinggi untuk Memahami Itu)
©Acams

Segera setelah aksi teror, orang-orang berdebat: apakah ini terkait agama atau tidak? Dan seperti biasa kontroversi dimulai. Satu golongan mengatakan secara bersungut-sungut bahwa agama pasti berada di balik tindakan orang yang melakukan teror itu. Satu golongan lagi berpendapat bahwa pelaku teror bukan orang beragama.

Agama, kata golongan yang terakhir, tidak pernah menyuruh penganutnya untuk melakukan hal tercela, apalagi menghilangkan nyawa.

Yang lucu tetapi menyebalkan adalah kedua golongan tersebut malah berdebat, saling sindir, tidak karuan. Seolah-olah hanya pandangannya yang benar. Ironisnya, para proponen utamanya adalah orang-orang sekolahan! (Inilah, lagi, alasan mengapa saya menyarankan tidak usah sekolah tinggi-tinggi).

Bagi saya, kedua pandangan di atas ada benarnya. Agama, seperti juga ideologi-ideologi lainnya, adalah kekuatan yang mampu menggerakkan orang, termasuk untuk berbuat hal yang negatif. Namun cukup pasti dalam hal itu agama tidak bisa dan tidak pernah sendirian. Dibutuhkan unsur-unsur lainnya yang sangat kompleks, seperti deprivasi sosial ekonomi, untuk menyulut kebencian yang lebih luas.

Belum lagi kondisi-kondisi yang sifatnya lebih personal, pengalaman masing-masing individu pelaku teror yang spesifik. Semua unsur tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan atau yang satu satu lebih diistimewakan daripada yang lain. Semuanya menyatu bercampur baur membentuk tindakan.

Posisi agama memang krusial. Terutama sejak 2001, agama dibingkai sedemikian rupa sebagai seolah-olah satu-satunya penyebab terorisme. Pandangan esensialistik ini, sialnya, juga ditanggapi secara keliru oleh sebagian orang beragama. Mereka membantah dengan cara yang tidak kurang esensialistiknya, bahwa agama tidak mungkin salah. Kurang ajarnya, agama di sini selalu diasosiasikan hanya dengan Islam.

Kalau mau berpikir agak kompleks, berbagai pandangan yang gampangan tersebut tentu bisa diatasi dengan mudah. Namun kebanyakan orang tidak mau berpikir agak kompleks. Mereka mau gampangan. (Dan ini, tidak habis pikirnya, sering keluar dari opini orang-orang sekolahan).

Cara berpikir yang gampangan, yang hitam-putih, justru merupakan dasar epistemologis kekerasan. Sejak seseorang berpikir sekadar “kalau ini, maka itu”, sejak itu pula dia menggadaikan potensi akal budinya pada sesuatu yang lebih rendah: katakanlah semacam insting kehewanan. Dari sinilah, kalau mau dilacak secara radikal, tindakan terorisme memulai perjalanannya.

Meski demikian, pada akhirnya, generalisasi harus dihindari. Terorisme terbentuk melalui pola yang ajeg, tetapi juga terkadang tidak. Oleh karena itu, pendalaman terhadap mengapa satu peristiwa terjadi di sini saat ini, bukan di sana saat itu misalnya, mutlak diperlukan sebagai awal dari penanganan.

Semoga pihak-pihak yang berwenang bisa segera mengatasinya dan mengantisipasi aksi-aksi yang mungkin terjadi lagi berikutnya.