Berdoa

Berdoa
©Dok. Pribadi

Seperti yang ditulis dalam buku “Love’s Strategy: The Political Theology of Johann Baptist Metz” (1999), tulisan ini tidak berupaya menjelaskan apa rumusan paling tepat dalam berdoa, atau protokol ritus doa manakah yang paling pas di muka bumi ini. Mengenai hal itu, Anda bisa temukan itu dengan membongkar diktat-diktat teologi.

Sebaliknya, tulisan ini ingin membuka selubung yang membuat doa menjadi begitu jauh, asing, dan sama sekali tidak berkaitan, bahkan bertentangan, dengan hidup manusia.

Mengapa?

Ya, karena berdoa adalah pengalaman hidup itu sendiri. Dengan kata lain, tidak semua seremoni keagamaan yang ditutup dengan “amin” adalah doa dan tidak semua doa mesti ditutup dengan melafalkan “amin”. Jika yang pertama berbicara tentang ritus keagamaan, maka yang kedua berbicara tentang kehidupan itu sendiri.

Karena berhubungan erat dengan hidup setiap orang, dimensi doa justru lebih kaya dari yang Anda bayangkan.

Oleh karena itu, jika Anda ingin menemukan tips agar doa Anda cepat dikabulkan, sebaiknya tulisan ini tidak usah dibaca.

Berdoa artinya menderita

Ini dimensi paling fundamental dalam doa. Bahasa doa bukan semata-mata mengekspresikan kesenangan individual terhadap pencapaian tertentu dan kecenderungan patronase melalui bahasa budak dan tuan. Doa juga bukan sebuah permainan abadi antara pertanyaan dan jawaban; juga bukan hanya akumulasi keinginan, tidak peduli seberapa kuat keinginan itu.

Sebaliknya, doa orang Kristen mesti melampaui apa yang tercatat dalam dogma. Hidupmu, itulah doa. Sebab ia adalah teriakan ratapan dari kedalaman spiritual. Tapi ratapan itu sama sekali bukan erangan yang samar dan bertele-tele. Itu memanggil dengan keras, terus-menerus.

Alih-alih menahan atau membatasi bahasa penderitaan, doa justru memperluas dimensi penderitaan itu menjadi tak terukur, tak terlukiskan. Doa memberi nama lain bagi penderitaan kita di luar bahasa yang diberikan oleh dunia.

Bandingkan ilustrasi berikut:

Dalam Injil, hanya dua kali Yesus berdoa dan doa itu selalu merupakan ratapan terhadap Bapa-Nya yang mengabaikan dan meninggalkanNya. Doa di atas kayu salib, misalnya, merupakan teriakan dari seseorang yang diabaikan oleh Allah. Demikian juga doa Yesus di Taman Getzemani sebagai ekspresi keraguan-Nya terhadap rancangan Allah.

Melalui dua pengalaman di atas, berdoa berarti masuk ke dalam situasi yang tidak menentu, keluar dari social safety net, dan kenyamanan sosial politik yang diberikan dunia. Dengan demikian, berdoa bukan lagi merupakan sebuah upaya mengeluarkan kita dari jurang melainkan masuk ke dalamnya, menerimanya sebagai bagian dari hidup dan melampaui jurang itu.

Sampai di situ, mengapa orang berdoa dengan harapan bahwa kekhawatiran tersebut hilang usai berdoa?

Doa bukan sebuah tangga imajinatif yang memungkinkan kita keluar dari kekhawatiran. Ia juga bukan dilakukan untuk mengatasi rasa kekhawatiran kita itu. Doa Yesus di taman Gethzemani (Matius 26:38) menunjukkan bahwa kekhawatiran justru tetap ada dan diterima—tidak dibuang. Sebaliknya, kekhawatiran, duka cita, dan bahaya dapat dengan mudah memberikan dorongan bagi kita untuk berdoa.

Disebut demikian karena tujuan berdoa bukan melindungi kita dari luka dan penderitaan. Sebaliknya, hanya dengan menerima semuanya itu, kita dapat dibebaskan, seperti Yesus yang dibebaskan dari rasa takutnya akan salib ketika berdoa di Taman Getzemani.

Berdoa artinya berpolitik

Jika kita berdoa dalam roh Kristus, kita tidak bisa berpaling dari penderitaan orang lain. Berdoa menuntut cinta kita terhadap sesama: tidak ada pilihan lain. Ini membuat doa secara dramatis menjadi berbahaya, terutama ketika kita menyaksikan kemanusiaan ditindas secara sistematis.

Itu juga bukan berarti bahwa Anda lalu dengan mudah mendoakan “agar umat miskin di India terselamatkan” atau “agar perang di Gaza dapat hilang dari muka bumi”, atau “kejahatan sirna dari planet ini”.

Itu jenis doa yang sama sekali tidak masuk akal karena kita harus berdoa, bukan hanya bagi mereka, tetapi bersama mereka hic et nunc (di sini dan sekarang).

Bagaimana mungkin Anda mendoakan orang miskin yang tinggal di lingkungan yang kotor dan kumuh dari dalam sebuah kapel atau kamar tidur yang bersih dan wangi? Doa macam apakah itu?

Jika Anda membolak-balik Injil, tidak ada satu pun perikop yang menunjukkan doa semacam itu, kecuali yang dilakukan oleh orang Farisi dan Ahli Taurat.

Sebagai orang Kristen, jangan tiru doa yang tidak punya unsur politis seperti ini!

Berdoa sebagai tindakan perlawanan

Berdoa merupakan tindakan perlawanan yang menentang kedangkalan yang mengancam hidup kita sebagai manusia. Dibahasakan secara berbeda, berdoa berarti menolak cara hidup manusia yang hanya fokus pada kebutuhan dalam paradigma budaya konsumerisme.

Mengapa?

Ya, karena dalam hidup modern, kebutuhan itu hadir untuk dipenuhi—bukan dirayakan. Sebaliknya, di dalam doa, parameter itu dirobohkan.

Berdoa bukan sebuah mekanisme tanya-jawab, juga bukan untuk dilihat seperti tindakan barter.

Melampaui pertukaran ekonomi yang mewarnai hidup kita, doa hadir untuk menjadikan pertanyaan dan permohonan kita tetap sebagai pertanyaan dan permohonan; dan itu mengasingkan keinginan kita, dan akhirnya membuat kita menilai kembali kepentingan kita.

Akhirnya, hanya melalui doa, kita mampu keluar dari lingkaran setan pertanyaan dan jawaban, sarana dan tujuan.

Persis di situ, berdoa berarti melawan mental masyarakat kita yang teknokratis, yang mengeliminasi secara bertahap dimensi kita sebagai makhluk yang senantiasa berharap. Sebab tanpa doa, kita tidak mampu mengharapkan apa pun.

Waiting for Godot karya Samuel Beckett, misalnya, bukanlah semua drama yang dapat dengan mudah diadaptasi secara teologis sebagai drama eskatologis tentang penantian Tuhan.

Ia tidak mengatakan apa-apa tentang Tuhan, tetapi itu berhubungan dengan “menunggu”, atau lebih tepatnya dengan “ketidakmampuan zaman ini untuk mengantisipasi atau mengharapkan apa pun”.

Mengenai hal ini Teilhard de Chardin menulis: “Berkali-kali kita terus mengklaim bahwa kita sedang menunggu dan menantikan Tuhan. Tetapi jika kita jujur pada diri sendiri, kita harus mengakui bahwa kita tidak lagi mengharapkan apa-apa”.

***

Bagaimana mungkin ada doa dalam masyarakat yang tidak mampu berharap? Bagaimana caranya membayangkan ada harapan jika cara berdoa kita tidak menjadi cara kita melawan? Apakah perlawanan kita adalah sebuah doa sehingga dengan cara itu perlawanan tersebut tidak mudah dimanipulasi oleh uang dan kuasa?

Gereja dengan jenis doa seperti apa yang kita hidupi selama ini?

Hans Hayon