Berguru pada Bumi

Jalanan tampak gerah dengan rasa sesak paling purba
Mengingat kenangan adalah menanam setiap hijau daun
Saat matamu rancu di simpang dusun.

Kuingin kembali ke masa lalu, menjahit gombalan rancu
Yang beredar di layar kaca
Saat rimbun pohon melebat di telapak tangan kakek.

Mata yang demikian perih,
Kini mecatat rinai kenangan kepasrahan.

“Ayah, bagaimana membalas mata air dari rahim ibu?”

Setelah lama tak bersua dan
Matahari semakin luntur
Menancapkan luka pada ubun kepalaku

Ledalero, 2019

Kota yang Sesekali Macet

Kukirim surat kepada ayah
Agar sewaktu-waktu bisa turun ke beranda rumahku
Memandang setiap bunga dan embun yang kutanam.

Basah pada tanah adalah hening yang bersembunyi dengan separuh tanya
Sebab bertanya adalah usaha berdamai dengan luka
Seperti ingatan kepada jarak
Seperti kompromi pada demokrasi;

Ledalero, 2019

Kelupaan yang Santun

Lupa yang paling sederhana
Adalah Kala kita telah bersama
Mempersoalkan siapa yang terbesar
Merekam amarah dan sesal
Mengunci ruang maaf bagi sumpah;
Lalu mengaduh tentang
Nusantara ini milik siapa?

Ledalero, 2019

Penantian Seorang Anak bernama Nasar

Di pulau terujung
Anak-anak bermain dengan emas
Melahirkan tawa paling leluasa
Mereka serupa mawar yang mencintai dengan harum sebagai karunia paling ajaib.

Mengaso dengan tabah ketika harapan terasa letih dan tanah dirampas paksa.

: ”Sampai kapan, kami berdiri? Kalau kami dianggap sampah?”

Demikianlah ketika lajur laku tak semulus kata
Sedang janji hanya bertengger pada tubuh hukum.

Kini mawar itu berusaha untuk dipetik agar ditaruhlah sebagian janji lagi pada lembar kelopaknya.

Anak-anak tak lagi terlihat ceria sebab wajah hanyalah gambar yang luruh di hadapan senja
Mereka kini layu dan diam menyiapkan rusuh
Mawar merah menginginkan
Dan menolak untuk dilukai.

Maka karena keadaan
Malam pun datang dengan begitu lekas
Menjahit sampai tumit kepalaku
Lalu menghubungkan kata dan bisu

Ledalero, 2019

Paul Ama Tukan