Berorganisasi dan Jangan Lupa Arah Jalan Pulang

Berorganisasi dan Jangan Lupa Arah Jalan Pulang
Ilustrasi: locita.co

Salah satu langkah kongkret sebagai upaya untuk melawan individualis itu adalah berorganisasi.

Tak terasa saya sudah menjadi mahasiswa semester 7. Sudah semakin tua di kampus dan embel-embel senior sesekali mampir ke telinga saya. Itu artinya saya sudah berada pada fase di mana saya harus berpikir bagaimana cara menutup studi saya dengan berkesan, khusnul khotimah, bermanfaat untuk daerah. Syukur-syukur menjadi lulusan terbaik. Salah satunya adalah memperbaiki mata kuliah yang jeblok dan dibahasakan menjadi pendalaman materi untuk sedikit menutupi kesan “mengulang”.

Di semester 7 kali ini, saya tengah menjalani magang profesi sebagai tuntutan syarat untuk lulus di perguruan tinggi. Saya magang di salah satu media di Yogyakarta dan bekerja layaknya profesional. Berangkat jam 8 pagi, pulang jam 5 sore setiap hari.

Belum lama ini, seperti biasa, saya pulang dari tempat magang ketika senja, saat azan Maghrib berkumandang, bersaut-sautan. Rutinitas saya selanjutnya di kamar kos adalah istirahat sejenak untuk kemudian mandi dan bergegas ibadah memenuhi panggilan-Nya. Setelah itu, saya mengumpulkan energi sembari ketap-ketip, bermain gadget, serta tak ketinggalan ngelinting, meracik tembakau asal kota kelahiran, Temanggung.

Hal ini saya lakukan sebagai upaya agar tak lupa pada tanah yang sudah memberi nasi, air, dan segala kekayaannya, sehingga saya merasa berutang budi padanya. Maka tak ada alasan lain bagi saya bahwa suatu saat saya harus pulang.

Tidak lama kemudian, terdengar suara yang memanggil nama saya, sehingga sontak saya terbangun untuk mencari tahu siapa yang memanggil itu. Ternyata dia adalah teman kos kamar sebelah yang baru saja pulang dari Istanbul, Turki.

Panggilan akrabnya Firman, saya biasa memanggilnya Kang Fir. Ia baru saja melawat ke Istanbul untuk mempresentasikan jurnal ilmiahnya di hadapan peserta dari berbagai negara. Ia berada di Istanbul selama kurang lebih 10 hari, tentu waktu yang cukup untuk jalan-jalan berkeliling Istanbul mengingat acara presentasi jurnalnya hanya 2 hari dari tanggal 26-27 Oktober 2017.

Ia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya yang membuat saya iri. Namun, satu hal yang saya puji dari dia adalah meskipun terkagum-kagum dengan Istanbul yang terdengar indah di telinga itu, Kang Fir tetap merindukan satu kata selama di sana: pulang.

Banyak perbedaan yang ia rasakan antara Indonesia dan Turki. Dari makanannya, alamnya, suasananya, suhunya, jalanannya, budayanya, sosialnya, pendidikannya, sepak bolanya, dan segala hal di sana berbeda dengan Indonesia. Terlebih yang ia rindukan dari Indonesia dan sulit ditemukan di negara itu adalah nasi dan gorengan. Menurutnya, makanan di sana kurang cocok untuk lidah orang Indonesia.

Seperti lazimnya orang melancong, tak lengkap rasanya jika tidak membawa oleh-oleh. Kang Fir ini membawa souvenir, makanan, pakaian, dan satu yang istimewa adalah rokok Turki. Hanya saja, sangat disayangkan, ia hanya membawa satu batang. Beruntung rokok itu tak patah di dalam tas.

Rokok tersebut saya coba bandingkan dengan rokok Indonesia, dan tentu rokok hand made saya (lintingan). Ternyata rokok itu sangat berbeda, mulai dari rasanya, aromanya, kepulan asapnya. Bahkan jika dibanding dengan lintingan saya, masih terasa nikmat lintingan saya. Dari situ saya kembali bersyukur bahwa tembakau tempat kelahiran saya memang berkualitas. Situasi yang membawa saya semakin yakin bahwa sejauh mana saya pergi, saya harus pulang.

Dan cerita Kang Fir yang terakhir malam itu sebelum ia v-call dengan emaknya adalah tentang orang-orang Turki. Seperti yang kita tahu, Turki terbagi menjadi dua bagian, yakni Turki Asia dan Turki Eropa. Orang-orang Turki Asia lebih santai dalam kesehariannya, sedangkan orang-orang Turki Eropa lebih tergesa-gesa seolah segala aktivitasnya dikejar waktu. Itulah yang menurutnya orang-orang Turki Eropa hidup lebih individualis.

Saya membayangkan bagaimana jika individualis itu terjadi di kalangan mahasiswa. Bagaimana jika mahasiswa lebih mementingkan ambisinya sendiri. Bagaimana jika mahasiswa buta dengan kondisi sosialnya. Dan parahnya lagi, bagaimana jika mahasiswa enggan mengabdi pada daerahnya sendiri.

Musuh Mahasiswa

Pertanyaan siapa musuh mahasiswa sering terdengar di lingkungan mahasiswa, utamanya mahasiswa pergerakan. Ada yang melihat musuh mahasiswa ada di lingkungan kampus, seperti dosen, kebijakan birokrasi yang tidak berpihak pada mahasiswa. Dan jelas, musuh mahasiswa adalah kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.

Contoh hari ini, mahasiswa sejatinya telah sadar bahwa salah satu problematika pendidikan kita adalah mahalnya biaya pendidikan. Di perguruan tinggi yang menerapkan Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya pendidikan semakin tahun semakin mengalami peningkatan dan semakin tak terjangkau oleh mereka yang tak mampu.

Argumen yang dibangun UKT sejak kelahirannya adalah subsidi silang. Sederhananya, mereka yang mendapat golongan UKT tinggi akan menutup biaya mereka yang mendapat golongan UKT rendah.

Argumen yang seolah-olah saling membantu itu nyatanya tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Justru banyak mereka yang mampu mendapat golongan rendah, sementara yang tak mampu mendapat golongan tinggi.

Sebagai bukti adalah banyaknya mahasiswa yang melakukan banding UKT di kampus saya. Pun demikian dengan banyaknya demonstrasi di berbagai kampus yang menyuarakan tentang ketidakberesan UKT.

Apa yang disuarakan itu tidak lain agar pendidikan merata dan amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai. Namun sayang, sayup-sayup mahasiswa yang memperjuangkan biaya kuliah murah saat ini mulai meredup. Mungkinkah ini pertanda mahasiswa mulai hidup individualis?

Jika memang mahasiswa hari ini telah terbawa dalam gaya hidup individualis, maka musuh utama mahasiswa hari tidak lain adalah dirinya sendiri. Mahasiswa harus mengenyampingkan kepentingannya sendiri dan kembali untuk bahu-membahu memperjuangkan kepentingan orang banyak. Sehingga dari sana, jargon agent of change dan agent of social control tetap relevan di era milenial ini.

Salah satu langkah kongkret sebagai upaya untuk melawan individualis itu adalah berorganisasi. Disadari atau tidak, bagi mahasiswa, organisasi adalah suatu kebutuhan. Teori yang telah dipelajari di ruang kelas dapat diaplikasikan melalui organisasi. Organisasi juga mengajarkan bagaimana cara hidup bersama-sama, mengasah kepekaan sosial, memahami orang lain, dan banyak ilmu yang akan didapat dari organisasi.

Kembali ke Daerah

“Bila kaum muda yang sudah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang hanya bekerja dengan cangkul dan memiliki cita-cita sederhana, alangkah baiknya pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” ~ Tan Malaka

Kutipan dari Tan Malaka tersebut sangat relevan untuk direfleksikan dengan keadaan yang ada di era sekarang. Di tengah gencarnya arus globalisasi dan digitalisasi, mahasiswa banyak yang enggan kembali ke daerahnya. Kebanyakan mahasiswa menganggap ilmu yang dipelajarinya kurang tepat untuk diterapkan di daerahnya. Padahal, orang daerah tentu menunggu inovasi, terobosan pemikiran, dan sumbangsih para mahasiswa untuk kemajuan daerahnya.

Berorganisasi, dalam hal ini di organisasi daerah, lahir bukan hanya karena disatukan oleh satu nasib. Tetapi lebih dari itu, berorganisasi di sana adalah sebagai jalan untuk berkontribusi terhadap daerah.

Persoalannya hari ini adalah eksistensi organisasi daerah kurang diminati serta sistem kaderisasi dalam berorganisasi yang kurang jelas. Lebih dari itu, arah gerak organisasi daerah acapkali masih diragukan dan dipandang sebelah mata.

Dalam menjawab persoalan itu, berorganisasi harus mampu memiliki formulasi baru di berbagai sektor. Salah satu yang paling penting adalah arah gerak organisasi daerah. Organisasi daerah, selain tetap mengkritisi pemerintahan daerah, juga harus mampu memajukan potensi yang ada di daerahnya.

Memajukan potensi daerah setidaknya mampu menjadi solusi untuk menekan angka urbanisasi yang kian meningkat. Kembali ke daerah juga dapat mempertahankan eksistensi desa yang hari ini mulai tergilas oleh maraknya pembangunan, lahan pertanian terus menyusut, dan profesi petani mulai ditinggalkan.

Oleh karena itu, apa yang mahasiswa dapat dari proses belajar di berbagai kota, bahkan hingga luar negeri, harus mampu diaplikasikan untuk kemajuan daerahnya.

#LombaEsaiMahasiswa

*Hadi Molsky, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Anggota KPM Temanggung; Kader PMII Cabang DIY; dan Jurnalis LPM Rhetor

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)