Berpacaran ala Antikorupsi

Berpacaran ala Antikorupsi
Ilustrasi: jatik.com

Jika selama ini kalian adalah pasangan yang memiliki deretan tanggal penting untuk diperingati, maka silakan cek kembali apakah 9 Desember telah masuk di dalamnya. Ini, tentu, hanya untuk kalian yang berpacaran saja, bukan untuk untuk para jomblo.

Penetapan tanggal penting, seperti hari jadian dan ulang tahun, diyakini memiliki efek kejut tersendiri dalam perbaikan hubungan; sebuah momen krusial dalam mewujudkan kemajuan dengan metode refleksi. Begitu pun halnya dengan tanggal tersebut di atas, harus didudukkan pada posisi yang sama.

Tepat, tanggal itu memang sengaja diciptakan untuk memperingati Hari Antikorupsi Sedunia. Jika kemesraanmu dengan si doi menganggap itu tidak penting, hambuslah dari belantara dunia ini.

Manakala pemberantasan korupsi tak kunjung usai, itu artinya ada ketimpangan penyelesaian yang seharusnya menggunakan teori atau praktik, ada gelagat politik yang bersandiwara agar tampak menggeliat; ada peran hukum yang berpura-pura kuat; atau ada pasangan muda-mudi yang acuh karena tak pernah (mau) tahu.

Hapus angan-anganmu untuk memberantas korupsi melalui jalur politis, sebab sejatinya mereka adalah konco. Jangan harapkan hukum di garda depan, sebab pembuat (aturan) dan pelaksana (kejahatan) hampir tidak dapat dibedakan. Cukupkan saja memberantas korupsi dengan budaya pacaran. Toh akan berdampak baik akibat mengurangi pertumbuhan statistik status jomblo yang telah menjadikan Indonesia sebagai bagian negara tergalau.

Sekali lagi saya tegaskan, memperingati Hari Antikorupsi menjadi penting bagi kalian pasangan muda-mudi. Caranya? Tidak mesti berduyun-duyun ke Monas dengan atribut hitu-heneng. Pun tidak perlu koar-koar di persimpangan apalagi menimbulkan keonaran.

Cukup lontarkan kata manja pada kekasihmu (yang baru saja diangkat menjadi bidadari) itu: “Aku sangat mencintaimu seperti aku sangat membenci korupsi.” Lalu berdiskusilah (tidak disarankan menggunakan fasilitas kos-kosan, penginapan atau hotel dalam seremonial ini).

Di Indonesia, peringatan Hari Antikorupsi diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari workshop yang diselenggarakan oleh bakal calon koruptor, hingga festival-festival yang dananya mungkin bakal dikorupsi. Apabila bagimu itu terlalu mainstream, boleh saja merasa cukup dengan menciptakan Forum Dialog  di sisa-sisa menit kebersamaan kalian mengingat 9 Desember kali ini bertepatan hari Sabtu yang malamnya adalah malam Minggu.

Sampaikan kegelisahanmu terlebih dahulu terkait masalah korupsi sebelum mempersilakan si doi menimpalinya. Misal, sulitnya transaksi rental motor karena tidak menyertakan KTP yang jelas-jelas dananya dikorupsi. Tamsil lain, seperti mustahilnya wisata yang ramah dan murah akibat korupsi masih menjadi kegemaran pengelolanya. Dua hal ini dapat diketengahkan guna memperbaiki hubungan yang selama ini telah dan sedang berjalan.

Selanjutnya, bertukar-pikirlah dalam memahami teks undang-undang antikorupsi, baik secara redaksional atau pasal per pasal. Sebab, sejatinya aturan (UU No. 20 Tahun 2001) tersebut mengikat masyarakat secara keseluruhan, tidak terkecuali bagimu yang sedang dilanda kemesraan. Slogan dunia hanya milik kita berdua, yang lain ngontrak tidak berlaku, coy!

Baiklah, saya bantu untuk memantik pembahasan korupsi di lingkup pacaran. Apa faedahnya membahas korupsi, akan kita jabarkan perspektif Undang-Undang:

Pasal 2 (memperkaya diri dengan merugikan pasangan). Pasal ini adalah konsep yang mesti ditentang dalam berpacaran; satu sama lain harus melek dalam membedakan antara “lagi disayang” atau “lagi dimanfaatkan”. Dengan begitu, hubunganmu bisa awet hingga akhir zaman now.

Pasal 3 (menyalahgunakan wewenang). Ini merupakan konsep yang harus digodok hingga matang. Bagi kalian yang dimanja kemesraan, jangan lupakan batas wewenang satu sama lain. Tidak ada hak untuk saling mengekang, tidak ada perlakuan khusus hanya karena status. Bila itu terjadi, tunggulah kasih sayang satu sama lain akan segera pupus.

Pasal 5, 6, 11 (penyuapan). Frasa ini mestinya tidak luput dari perhatian kalian; pasangan yang mengedepankan perasaan ketimbang pikiran. Orang yang melakukan penyuapan biasanya terselubung maksud untuk keluar dari ketentuan dan aturan. Tak jarang kita temui cowok/cewek yang bersedia memberikan hadiah berlebihan agar nafsu birahinya dikedepankan. Mungkin termasuk saya. Hehehe…

Pasal 8, 9, 10 (penggelapan dalam jabatan). Kasus ini acap kali saya dengar dari curhatan perempuan yang baru saja mengundi nasib di dunia perpacaran. Berlebihnya rasa kepercayaan terkadang dimanfaatkan pasangan untuk terus melakukan penggelapan-penggelapan meskipun toh hanya janji untuk mengembalikan yang diucapkan. Ini berbahaya, Guys! Bisa-bisa status jomblomu nantinya dibalut kemiskinan.

Pasal 12 (pemerasan dalam jabatan). Bagaimanapun asyiknya keadaanmu berpacaran, jangan lupakan di mana kau letakkan tuntutan dan di mana kau titipkan kewajiban. Jangan dibiarkan perlakuan cewek/cowok yang tuntutan dan kewajibannya tidak berimbang, apalagi sampai melakukan pemerasan. Haduh, awas tikam-tikaman.

Pasal 12B dan 12C (gratifikasi). Segera update barang (bergerak atau tidak) milik kekasihmu, siapa tahu itu adalah pemberian orang (kekasihnya) yang lain bila tak ingin berujung pada terbaginya cinta yang ia miliki. Atau bisa saja itu pemberian orangtuanya yang secara kebetulan tak menginginkan kehadiranmu di tengah-tengah keluarganya. Ini pengalaman lho!

Pemaparan di atas kemudian memunculkan pertanyaan, apakah itu sudah kau lakukan? Perlukah itu untuk kau lakukan? Berpacaran seperti apakah yang kau inginkan? Jawabannya, jadilah pasangan yang mencatat hari ini, 9 Desember, sebagai hari penting dalam hubungan kalian.

Melihat malam kian larut dan konklusi diskusi telah didapat, cukuplah alasanku untuk membaiatmu sebagai pasangan yang berpacaran ala Antikorupsi. Saatnya balik ke kos masing-masing (bila dianggap perlu).

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Abu Bakar (see all)