Berpacu Melawan Corona

Berpacu Melawan Corona
©Indonews

Berpacu melawan corona harus dimulai dari sikap terbuka (pemerintah, media, LSM, dan masyarakat) sekaligus dibutuhkan loyalitas.

Beberapa negara seperti Cina, Italia, Korea Selatan, dan Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan serius dan menggegerkan. Belakangan ini negara tersebut sedang dirundung dengan penyebaran virus corona (covid-19). Ini mengakibatkan segala aktivitas terhambat dan tentu saja menyisakan pilu yang mendalam.

Korban dari penularan virus ini makin meningkat hingga menciptakan kepanikan yang meluas di kalangan masyarakat.

Di Indonesia sendiri hingga saat ini penyebaran virus corona sudah mulai menyasar beberapa tempat seperti Jakarta, Surabaya, Malang, dan daerah lain di luar Pulau Jawa. Ini tentu menjadi persoalan serius di tengah masih minimnya alat kelengkapan kesehatan dan terbatasnya akses masyarakat terhadap pemenuhan kesehatan.

Penyebaran virus yang terbilang cepat (epidemi) menambah rumit upaya penangkalan virus corona. Penyebaran yang masif tentu membutuhkan kesigapan dan loyalitas penuh dalam memerangi virus ini merembes ke beberapa daerah lain yang belum terkontaminasi dengan virus ini. Langkah pemerintah dalam menanggapi penyebaran virus ini mulai ditingkatkan melalui penetapan virus corona sebagai masalah darurat yang segera ditangani.

Jika dilakukan kebijakan lockdown, maka sedapat mungkin bisa mengatasi penyebaran virus corona dan melalui instruksi work from home bisa meminimalisasi penyebaran virus corona. Langkah ini diambil di tengah kondisi negara sedang kacau dan darurat corona. Pemerintah melalui kementerian terkait berupaya merespons virus corona dengan langkah yang cukup hati-hati agar tidak terjebak dalam kepongahan.

Dalam banyak bentuk, sebenarnya penyebaran virus corona merupakan batu ujian bagi kita untuk mengukur tingkat kesigapan dan konsistensi kita dalam memerangi virus ini. Berpacu melawan corona harus dimulai dari sikap terbuka (pemerintah, media, LSM, dan masyarakat) sekaligus dibutuhkan loyalitas melawan corona.

Seperti negara Italia, dengan tingkat penyebaran virus yang hingga hari ini terus meningkat, pemerintah dan warga negaranya justru tidak bersikap panik. Justru di tengah makin meluasnya penyebaran virus ini, setiap warga Italia memajangkan bendera negaranya di depan rumah sebagai bentuk solidaritas. Ini bntuk semangat bahwa pemerintah dan masyarakat bisa mengatasi virus ini.

Baca juga:

Sikap ini menunjukkan betapa Italia sebagai negara dengan tingkat penyebaran virus yang ‘parah’ dan meningkat tidak menunjukkan suatu sikap yang pesimis, sembrono dan menyalahkan yang lain, namun berupaya merespons persoalan ini melalui semangat kerja bagi pemerintah.

Bentuk sikap seperti itu seharusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia yang di satu sisi masih belum meluasnya penyebaran virus ini ke semua daerah. Namun justru di tengah makin masifnya virus ini menyebar dan merembes hingga menjatuhkan banyak korban, kita masih dirundung dengan sikap panik, arogan, dan saling melempar kesalahan.

Di sinilah kita justru terjebak dalam ruang kemunduran. Bukan karena kita tidak mampu melawan corona, tetapi karena tingkat optimisme, loyalitas, dan kesigapan tidak tumbuh dalam nalar kita saat ini. Sehingga segala informasi yang datang dari luar (tentang virus corona) tidak mampu difilter dengan baik, akan tetapi lebih mudah menciptakan kepanikan.

Membangun Pemahaman Bersama

Di tengah makin meluasnya penyebaran virus corona, pemerintah telah mengeluarkan instruksi. Yakni, agar masyarakat bisa melakukan akitivitas dari rumah (work from home) dan menjaga jarak dari kerumunan (social distancing). Langkah ini sangat tepat dan relevan mengingat penyebaran virus corona melalui kontak fisik dan lewat udara.

Untuk itu, aktivitas di luar rumah sementara waktu diistirahatkan agar penyebaran bisa diminimalisasi. Dengan tingkat pemahaman yang beragam di kalangan masyarakat, tentu merepotkan pemerintah dalam menangkal virus ini berkembang.

Apalagi ditambah dengan persoalan di tingkat akar rumput (grass root) dalam menerjemahkan instruksi pemerintah. Ini mengakibatkan pemahaman melawan corona tidak mendapatkan tempat yang bisa kita atasi.

Untuk itu, membangun pemahaman bersama di tengah wabah corona merupakan alternatif yang tepat dan jelas. Kita perlu memikirkan jangka panjang dalam memerangi virus corona. Pemahaman bersama ini harus dimulai dengan sikap menghadirkan informasi seputar penyebaran virus dan bagaimana virus ini menyerang. Langkah sosialisasi melalui media online (daring) sangat diperlukan di tengah masifnya virus ini menyasar masyarakat.

Persoalan kita dari awal sebetulnya ialah pemahaman masyarakat terhadap penyebaran virus corona dan intensitas kerusakan akibat dari terkontaminasi virus ini. Sehingga dengan beragamnya pemahaman mengakibatkan segala kebijakan yang akan dan sudah diterapkan. Lockdown, social distancing, dan work from home tidak mendapatkan respons positif di kalangan masyarakat.

Baca juga:

Di sinilah upaya menangkal virus tidak menemukan hasil di tengah pemahaman yang membanjiri ruang publik dan media sosial. Sehingga keterbatasan pemahaman terhadap virus corona menyebabkan kita mudah pesimis. Kita mudah melemparkan kesalahan pada satu pihak sebagai orang yang harus bertanggung jawab.

Persoalan ini tengah menjadi perhatian kita bersama di tengah mengudaranya virus corona menyerang masyarakat yang notabene kekurangan sumber informasi dan rujukan sumber yang tepat dalam memahami virus corona. Pada aras ini sebetulnya, pemahaman bersama harus diwujud-nyatakan serta dioptimalkan. Hal ini penting guna membangun kesadaran kolektif dalam upaya memerangi virus ini makin meluas.

Pada akhirnya, di tengah ancaman wabah corona, sebetulnya tidak ada lagi tempat untuk menyalahkan satu pihak. Semua harus membangun kesadaran dan loyalitas bersama dalam upaya meminimalisasi virus ini.

Sampai pada tingkat ini, kebijakan akan berjalan dalam koridor yang tepat dan jelas. Karena kita telah disuburkan melalui pemahaman bahwa virus corona adalah masalah bersama. Itu berarti harus dengan sikap bersama untuk berpacu melawannya.

Patrisius Jenila
Latest posts by Patrisius Jenila (see all)