Berperan Tanpa Perasaan

Berperan Tanpa Perasaan
©Jurnal Sayyid

Jangan serta-merta menelan mentah-mentah kata-kata di atas. Bagaimana sikap Anda ketika mendengar judul di atas? Pasti hal utama yang tebesit di benak pikiran Anda adalah tentang cinta.

Namun tidak. Kenapa? Perasaan tak selamanya tentang hati. Agar tidak tercipta ambiguitas, mari kita selami makna dari judul di atas.

Peran, apakah arti peran menurut pemahaman anda? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “peran” memiliki arti pemain sandiwara. Sandiwara yang dimaksud di sini dikiaskan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan “perasaan” adalah kata yang berasal dari mufrodat, “rasa” yang berartian tanggapan indra terhadap keadaan. Tanggapan tersebut dikiaskan ke organisator yang tidak tanggap terhadap instansi yang diemban.

Di sekitar kita, sudah banyak siswa yang mengikuti tes seleksi masuk atau rekrutmen Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIM) yang merupakan induk dari segala organisasi di suatu sekolah. Pada tes seleksi tersebut, seluruh peserta tes mengagung-agungkan OSIM, tidak lain hanya bertujuan mengambil muka di hadapan penyeleksi.

Penyeleksi pun harus seorang yang sangat objektif. Bukan karena OSIM berlagak sok suci, tapi anggota-anggota baru OSIM haruslah dari seorang yang memiliki komitmen kuat serta semangat juang yang melangit.

Jika OSIM beranggotakan siswa-siswa receh atau bahasa kasarnya “mental sampah”, maka sebuah keniscayaan kantor OSIM akan menjadi sarang-sarang maksiat. Hal itu dikarenakan mereka masuk OSIM tapi tidak memiliki rasa terhadap OSIM tersebut.

Kembali ke soal penyeleksi. Kita contohkan seorang penyeleksi berasal dari kota A dan para peserta tes juga kebanyakan orang kota A.

Baca juga:

Ada sebuah pepatah yang mengatakan tapi tidak mengucapkan “buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Pepatah tersebut kita kiaskan lagi ke tes yang keberadaan orang kota A mendominasi. Pasti, kebanyakan peserta yang lulus adalah peserta yang berasal dari kota A.

Sedangkan, para bibit organisatoris yang sanguinis banyak diacuhkan. Alhasil, eksistensi OSIM kian hari kian memudar. Entah, kantor digunakan sebagai melanggar, berbuat asusila, hingga tempat tidur. Mereka ibarat “tong kosong nyaring bunyinya” yang sampul OSIM dikedepankan tapi isinya diluluhlantakkan.

Penjelasan di atas adalah salah satu contoh yang sudah hampir kaprah di Nurul Jadid. Jika kita telisik ke perangkat negara, pasti 1 lembar koran tak akan cukup untuk menarasikannya.

Di sini penulis akan menyingkat contoh dari sekian banyak orang yang berperan tanpa perasaan. “Koruptor”, bagaimana reaksi pikiran Anda ketika mendengar kata tersebut? Apakah jijik ataukah benci? Ya, koruptor adalah salah satu contoh seorang yang berperan tanpa perasaan.

Kenapa dikategorikan ke dalamnya? Hal itu dikarenakan tingkah laku tengiknya sudah terlihat sejak awal berkampanye.

Semisal, di daerah A, Simin mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Buncah kata indah dilontarkan di hadapan rakyat semasa kampanye. Rakyat yang menelan mentah-mentah perkataan Simin pasti akan langsung terbawa arus. Singkat cerita, Simin sudah menduduki kursi kehormatan legislatif.

Memang pada awal menjabat Simin tidak banyak bertingkah. Akan tetapi, setelah dua tahun menjabat, ia langsung menggencarkan akal bulusnya. hal itu dikarenakan fasilitas yang ada membuat dirinya terlena dan lupa akan tugas utamanya.

Berperan tanpa perasaan bukan hanya tentang ke-negatif-an. Tapi, juga ada yang berkaitan dengan intuisi atau gerak hati.

Baca juga:

Contoh di masa penjajahan Belanda, banyak rakyat Indonesia yang dipaksa mengaspal jalan dari Anyer hingga Panarukan dengan tanpa dibayar. Otomatis para pekerja tersebut terpaksa berperan tanpa memiliki perasaan (ikhlas). Alhasil, banyak pekerja yang mati kelaparan, kurus kering kerontang, hingga wajah bermandikan aspal setiap hari.

Beberapa contoh di atas adalah salah satu dari sekian banyak penganalogian kata “berperan tanpa perasaan”. Jadi, haruslah kita sadar, terutama bagi organisator, tentang pentingnya sebuah rasa kepemilikan terhadap instansi yang diemban. Peran tanpa rasa ibarat raga tanpa jiwa yang hanya berjalan tanpa tahu arah yang akan ditempuh.

Kesimpulan dari basa-basi di atas, kita harus memiliki perasaan untuk menjalani sebuah peran. Entah, di dalam organisasi maupun di kehidupan sehari-hari. Jika masih belum memiliki rasa, mari kita bangun sebuah rasa bersama-sama demi harumnya nama instansi yang kita emban. “Berperanlah dengan perasaan!”

Hayyi Tislanga
Latest posts by Hayyi Tislanga (see all)