Bersetubuh dengan Tradisi Intelektual Tidak Mesti Hot

Bersetubuh dengan Tradisi Intelektual Tidak Mesti Hot
©Universitas Darussalam Gontor

Mimpi dan hasrat untuk pengetahuan dari tradisi intelektual Islam ingin mencoba mengubah konsep modernitas sekaligus tradisi itu sendiri menjadi orientasi masa depan.

Secuil saja membaca ulang buku “Islam and Modernity”. Judul lengkapnya, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, buku karya Profesor Fazlur Rahman, intelektual besar dan pemikir pembaruan Islam kontemporer.

Buku itu diterbitkan oleh lembaga prestitius dan kredibel dunia, The University of Chicago Press tahun 1982.

Terhitung 2022, 40 tahun dari momen penerbitannya, muncul teks tertulis tentang Islam dan pemikirannya dipadatkan melalui buku tersebut. Meskipun cukup lama berselang, buku itu masih relevan atau menarik bagi pembaca dan sebagian kalangan yang terlibat dalam diskursus intelektual.

Suatu jangka waktu cukup lama. Empat dekade dan mungkin sesudahnya masih dinantikan oleh kaum terpelajar atau kalangan intelektual di negeri ini. Kapan lagi khazanah pembaruan pemikiran Islam di Indonesia menyeruak di ruang publik?

Tetapi, sekarang sedang terjadi paradoks. Satu sisi, girah untuk memulai membicarakan satu tema atau diskursus pembaruan pemikiran Islam. Pada sisi lain, keengganan oleh sebagian individu untuk membicarakan tema pembaruan pemikiran, karena khawatir akan dicap atau dinilai telah “keluar dari Islam” dan tuduhan bernada peyoratif lain.

Sejak empat dekade buku tersebut diterbitkan berada dalam keadaan redup, bangkit, megap-megap, dan mulai terangsang untuk membicarakan tema pembaruan pemikiran Islam dalam bidang kajian lebih luas dan berbeda, di Indonesia dan di dunia Islam lain masih riuh rendah.

Jasser Auda (2007) menempatkan Fazlur Rahman sebagai sosok dalam upaya ‘reinterpretasi reformis’, karena kemampuannya menggunakan mode pemikiran melalui metodologi interpretasi yang berbeda hingga memadukan antara disiplin atau kajian Islam dan Barat. Paling tidak, tahun 2000-an, pengaruh pemikiran Rahman relatif masih membekas jejak-jejaknya.

***

Sekelumit, buku Islam and Modernity mulai mengulas di bagian Pendahuluan. Berawal dari sejarah pemikiran Islam di zaman pertengahan dalam tahapan pembentukan. Fazlur Rahman menyebutkan “intelektualisme Islam” dibangun melalui institusi pendidikan Islam lebih tinggi.

Baca juga:

Tidak khayal, dalam tradisi Islam di zaman Pertengahan menggambarkan tentang yang mana sisi keberhasilan dan yang mana sisi kegagalan sebuah sistem pendidikan Islam akan berdampak luas pada pemikiran Islam. Maka metode interpretasi atas Alquran perlu dibenahi.

Sebagaimana kita mengetahui, bahwa zaman pertengahan menjadi lingkaran kegelapan dunia Barat, justru ‘masa keemasan’ bagi dunia Islam, sekitar tahun 800-1208. Cukup mengarah pada romantisisme sejarah pemikiran Islam.

Begitulah arus, retakan, dan celahnya turut menguji fase pembentukan tradisi Islam di bidang pemikiran. Bagaimana tanda dan jejak pemikiran filosofis seperti direprentasikan oleh Ibnu Sina dan mistisme yang digawangi oleh Ibnu Arabi mewariskan tradisi intelektual Muslim yang dinamis.

Siapa tidak suka dengan tradisi Islam, seperti filsafat, penafsiran (exegenesis), dan sufisme atau mistisme? Siapa yang menghindari perbincangan, yang sumber tradisinya dianggap bukan dari tradisi Islam terutama tradisi filsafat? Siapa pihak penentang terhadap penerjemahan dan pengulasan pemikiran filsafat Barat, seperti Plato dan Aristoteles yang dilakukan oleh Al-Farabi dan Ibnu Rusyd?

Dalam “kaca mata” Fazlur Rahman dan intelektual modernis lain akan menyebutkan pihak penentangnya adalah ortodoksi Islam seperti teologi al-Asy’ari’ah. Akhirnya, semuanya berubah dari bentuk pertentangan menuju sesuatu yang plural dan dalam keterbukan dari masing-masing aliran pemikiran dan tradisi intelektual di masa itu.

Pemikiran tradisional atau konvensional Islam berdasarkan pemikiran teologi al-Asy’ari’ah memang memberi sumbangsi intelektualitas Islam. Tetapi, mereka tidak begitu respons terhadap perkembangan dari tradisi Islam yang bercorak intelektual menuju modernitas, yang kelak akan memberi warna tersendiri sebagai tradisi intelektual yang lebih terbuka dan plural.

Fazlur Rahman dalam bukunya secara tersirat malahan tidak menyenangi hal-hal yang biasa saja tanpa onak atau rintangan dan mulus-mulus saja ketika membentuk tradisi intelektual dan pemikiran modernis yang berbeda dengan pemikiran Islam sebelumnya.

Mimpi dan hasrat untuk pengetahuan dari tradisi intelektual Islam ingin mencoba mengubah konsep modernitas sekaligus tradisi itu sendiri menjadi orientasi masa depan. Jadi, modernitas itu juga merupakan tradisi intelektual, dalam relasi timbal-balik.

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi