Bertemu Si Pembunuh Tuhan di Kannenfeld

Bertemu Si Pembunuh Tuhan di Kannenfeld
©Psyche

Bertemu Si Pembunuh Tuhan di Kannenfeld

Si pemuda tiba di kontrakan menjelang pukul 20.00 WIB. Setelah seharian bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Tanah Abang.

Ia membersihkan badannya yang kotor dan beraroma kambing busuk. Aroma busuk itu yang membuat orang-orang di pasar najis berdekat-dekat dengan dirinya, termasuk mereka yang memerlukan jasanya.

Setelah cukup segar dan aroma busuk tubuhnya hilang, ia duduk bersila di atas karpet tempat tidur. Matanya terpejam. Ia resapi sendi-sendi tubuhnya yang hampir lepas karena seharian mengangkat beban puluhan kilogram, naik turun tangga, mengikuti arahan si pengguna jasa, persis seperti kerbau di sawah.

“Nasib bujang lapuk kere. Tak ada yang menyayangi. Apa-apa harus diresapi sendiri,” ucapnya dalam hati.

Beberapa jurus kemudian, setelah dadanya terasa cukup lapang, si pemuda membuka mata perlahan-lahan. Kemudian, tangannya meraih buku bekas di samping kanan tubuhnya. Buku itu ia beli dua hari lalu di Kramat Kwitang. Tiga kali dalam sebulan ia sisihkan uang untuk membeli buku bekas. Buku-buku yang ia beli itu bertumpuk mengelilingi karpet tidurnya.

Si pemuda membaca buku yang ada di tangannya. Diejanya kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Tak sampai dua puluh halaman matanya mulai terkulai. Tapi ia tetap bertahan setidaknya untuk beberapa menit. Di halaman ke dua puluh tiga, tubuhnya tak kuasa menahan diri, ia tersungkur lembut di atas karpet, lalu tertidur.

Puluhan jurus kemudian si pemuda berada di sebuah taman, tempat yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ia berjalan menyusuri taman hingga sebuah papan nama menghentikan langkahnya. Tertulis di sana: Kannenfeld Park.

Baca juga:

Kannenfeld Park adalah taman terbesar di kota Basel, Swiss. Kota ini tumbuh dalam kompleksitas sejarah. Di timur Kannenfeld Park mengalir sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa. Turun ke bawah sedikit berdiri megah Universität Basel. Dekat dari situ ada situs bersejarah Basilisken-Brunnen. Kota Basel berada di perbatasan tiga negara: Swiss, Jerman dan Prancis.

Sang pemuda meneruskan langkah menyusuri taman. Ia melihat seorang laki-laki berkumis tebal sedang berdiri memandangi Le Monument Aux Morts. Sebuah monumen peringatan tewasnya tentara Prancis melawan Prusia pada 1870-1871. Laki-laki berkumis itu perlahan menoleh dan memanggil pemuda itu dengan isyarat tangan.

Sang pemuda mendekat mencoba memastikan siapa gerangan di sana. Ia terkejut karena laki-laki berkumis itu mirip seorang pemikir besar abad sembilan belas. Mirip sekali. Kumis macam tanduk mungil, rambut klimis, tampilan necis. Gambar orang ini banyak tersebar di internet. Hari-hari ini, ketika fenomena depresi semakin menggila, ucapan orang ini banyak dikutip sebagai aspirin.

“Apakah Anda Nietzsche, maksud saya Friedrich Wilhelm Nietzsche?”

“Tentu. Saya Nietzsche sahabatmu, Bung. Apa kau lupa?”

Si pemuda mendelik bingung. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa Nietzsche menyebutnya sahabat. Padahal Nietzsche adalah filsuf besar yang banyak dibicarakan di ruang diskusi, di buku-buku, di mana-mana. Seorang filsuf kontroversial.

Pernah pada tahun 1882, Nietzsche menerbitkan sebuah buku yang di dalamnya terdapat perkataan yang membuatnya menjadi sosok kontroversial sepanjang zaman. Ia berkata, “God is dead —tuhan sudah mati. God remains dead —tuhan tetap mati. And we have killed him —Dan kami telah membunuhnya.” Inilah perkataan yang membuat ia dijuluki sang pembunuh tuhan. Julukan paling berani yang pernah disematkan pada manusia.

Di hadapan pemuda itu, Nietzsche tampak antusias, seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Spontan mereka bercakap-cakap layaknya teman lama. Mula-mula si pemuda merasa aneh. Tapi kemudian tak ingin melewatkan momen itu, si pemuda pun mengabaikan perasaannya. Si pemuda melanjutkan percakapannya bersama Nietzsche. Mereka menikmatinya, hingga di ujung percakapan, mereka terlibat dalam percakapan yang agak sentimental.

Halaman selanjutnya >>>
Agung Hidayat