Bias Tes (P3K, CPNS, UTBK, dll)

Bias Tes (P3K, CPNS, UTBK, dll)
©Liputan6

Hanya manusia yang berpikiran biner seperti mesin yang percaya sepenuhnya pada hasil tes tulis berbentuk pilihan ganda.

Sebenarnya kita ini secara naluriah nggak percaya kok dengan tes tulis apalagi yang pilihan ganda. Mau bukti? Pernah Anda sebelum menikah memberikan soal pilhan ganda kepada calon pasangan Anda? Atau Anda menguji kesetiaan teman Anda dengan soal pilihan ganda? Nggak, kan?

Untuk hal-hal terpenting dalam hidup Anda, tes kuantitatif itu nggak Anda percaya. Yang Anda lakukan untuk menilai pasangan atau teman Anda adalah perilaku mereka sehari-hari bersama Anda.

Beragam tes tulis inilah yang sering menjadi bias di mana-mana. Bayangkan coba dengan entengnya pemerintah menetapkan pegawai pilihannya dari opsi pilihan ganda yang dijawab peserta tes. Yakin bahwa soal dapat mengikur kemampuan peserta tes yang sebenarnya? Udah valid, udah reliable?

Bayangkan soal semacam “apakah yang ada lakukan jika menemukan uang di jalan?”, maling ayam sampai koruptor kelas kakap pun akan memilih opsi mengembalikan daripada memasukkan dalam saku celana.

Bayangkan lagi soal semacam, “teman Anda sakit dan Anda harus berangkat kerja, apa yang Anda lakukan?”, bahkan seorang Upin pun akan memilih opsi pilihan ganda meninggalkan Ipin dan berangkat bekerja hanya agar dia terlihat disiplin tinggi.

Tapi apakah ketika kejadian itu terjadi betulan, maka opsi seperti mengembalikan uang dan tetap berangkat bekerja akan dilakukan? Saya kok ragu.

Kalau kualitas tes kita memang benar-benar baik, lantas mengapa kinerja para pegawai kita masih di bawah yang kita harapkan? Belum lagi tes itu menyingkirkan nilai-nilai harian yang mungkin tak mampu dioptret dalam soal tes.

Baca juga:

Bayangkan seorang tua berusia 57 tahun mengabdi menjadi guru bergaji rendah, apakah loyalitas mereka dapat dipotret soal? Apa kabar guru-guru yang harus menempuh hutan belantara untuk mengajar, apakah perjuangan mereka dapat diketahui dari tes yang diujikan? Bagaimana kita bisa menyingkirkan begitu banyak nilai-nilai positif seorang guru di lapangan selama tahunan dan menggantikan dengan tes yang cuma dua jam?

Apalagi dengan canggihnya teknologi saat ini dan informasi yang jadi murah sekali. Untuk menjawab tes orang tak perlu mendedikasikan hidupnya pada suatu pekerjaan. Juga tak perlu belajar dalam waktu yang lama. Sebab ada banyak trik cepat yang bisa digunakan untuk menjawab itu.

Mau soal UTBK sampai soal P3K selalu ada orang yang dapat menemukan jalan pintas. Seorang yang tak pernah menjadi guru berbekal les dan bimbel, bisa lebih berpeluang lulus CPNS atau P3K menggeser guru-guru yang menghabiskan waktunya untuk pengabdian mengajar tanpa dibayar.

Tes tulis dalam bentuk pilihan ganda ini sudah makin meracuni berbagai aspek terutama pendidikan. Berapa banyak orang yang lebih memilih berlatih untuk mengerjakan tes daripada belajar untuk meningkatkan kompetensi? Sedikit sekali.

Kita terlalu percaya dengan angka-angka dan melupakan kacamata kita sebagai manusia. Tes tulis semacam ini yang menurut Barbara Oakley dapat menimbulkan ilusi kompetensi.

Lalu gimana kalau nggak dites tulis? Adakah solusinya?

Ada portofolio. Raksasa perusahaan seperti Google, Apple, dan Microsoft sudah memulainya. Mereka tidak lagi percaya angka-angka ysng dituliskan melainkan karya apa yang sudah dibuat pelamar. Begitulah jutaan startup bermula.

Ajak dan pacu semua guru untuk berkarya. Dengan begitu guru punya kesempatan belajar, berkolaborasi, dan berkembang. Lalu rekrut mereka yang portofolionya sudah mencapai syarat tertentu. Portofolio berbicara dan bercerita lebih banyak daripada angka-angka hasil tes.

Tapi, tentu tidak mudah merekrut pegawai berdasarkan portofolio mereka. Butuh lebih banyak effort dan tenaga. Kita ini kan senengnya yang instan-instan. Makin banyak yang gak lulus kan makin aman uang negara. Gitu kali mereka mikirnya.

Rachmat Hidayat
Latest posts by Rachmat Hidayat (see all)