Bias Transformasi Gerakan Kaum Terdidik

Bias Transformasi Gerakan Kaum Terdidik
Foto: Franck Prevel/Getty Images

Bicara gerakan kaum terdidik, bicara dialektika dan gerakannya, telinga kita dibuatnya melengking dan hati penuh haru dan cinta. Kalau Anda tidak sependapat, bolehlah menengok kembali sejarah selain peritiwa 21 Mei 1998. Di sana, gerakan mereka tidak pernah lepas dari pergulatan politik-kekuasaan, Sumpah Pemuda, kemerdekaan Indonesia, gerakan 65 sampai 98.

Dari kesemuanya itu, mahasiswa menjadi tangan panjang dari suara rakyat melakukan perlawanan. Artinya, di mana terjadi penindasan dan kesenjangan di kehidupan sosial masyarakat, di situlah kaum terdidik berdiri tegak sebagai pembawa solusi (problem solving).

Suatu gerakan ini, meminjam bahasanya Gramsci (The Prisoon Noteboks, 1973), adalah gerakan kaum terdidik yang mengemban dan menjalankan fungsi sosialnya. Ia berfungsi mentranformasikan wacana dan perwujudan kesejahteraan bagi seluruh elemen rakyat Indonesia.

Mahasiswa sebagai kaum terdidik—intelektual organik—tidak bisa berdiam diri dalam lingkup kecil bernama perguruan tinggi, tapi harus berkontribusi untuk kesejahteraan sosial yang lebih nyata. Di sinilah gerakan mahasiswa sebagai kaum terdidik tidak mengabdi kepada kekuasaan, melainkan tugas mereka menciptakan kekuasaan sendiri. Sebagaimana Chomsky (Peran Intelektual, 2014) mengatakan bahwa kaum terdidik menolak legitimasi intelektual, teknokrat, dan para propagandis untuk kebijaksanaan negara.

Pertanyaannya sekarang, masihkah sama spirit dan perjuangan mahasiswa dengan peristiwa silam, tentang mahasiswa yang selalu kuat berhadapan dengan penguasa yang tidak memihak terhadap rakyat?

Pertanyaan di atas, jika dipikir-pikir, jawabannya sungguh ironi. Pasalnya, peristiwa silam yang sungguh mengagumkan itu kini telah menjadi cerita usang tinggal abu. Romantisme itu hanya menimbulkan gerak yang tak lagi kreatif, melainkan hanya bersifat reaktif.

Tidak ada satu gerakan yang dilakukan mahasiswa yang bersifat kontinu. Gerakan mahasiswa melulu reaktif dan spontan. Sehingga, gerakan mahasiswa menjadi tidak terpola dengan target yang jelas.

Pantas jika banyak yang sinis mengatakan, gerakan mahasiswa sekarang hanya berbasis isu. Bahkan ada yang mengira, sebagai gerakan tangan panjang penguasa, by order, yang digerakkan media massa korporasi.

Bias Transformasi

Selain kehilangan daya kreatif gerakan, wujud transformasi gerakan mahasiswa juga bias. Gerakan mahasiswa seperti kehilangan arah dan keberpihakan.

Situasi ini ditambah lagi dengan merebaknya arus informasi dan globalisasi yang begitu cepat. Parahnya, sebagai gejala sosial objektif yang tidak bisa dibendung, mahasiswa tidak mampu melakukan counter hegemony yang masif. Justru sebaliknya, gerakan mahasiswa terseret ke dalam arus yang sama.

Faktanya, tidak sedikit gerakan mahasiswa yang mengalami kelatahan sosial akibat perubahan itu. Mahasiswa lebih cenderung update kegiatan dan gerakan di media sosial yang tidak semuanya bisa disentuh oleh rakyat Indonesia, terutama masyarakat yang belum mengenal kemajuan tekhnologi.

Menjadi bagian dari era informasi dan teknologi memang tidak melulu keliru. Tapi persoalannya terletak pada keengganan mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat yang kesulitannya lebih kompleks dan nyata. Seolah-olah dengan menampakkan kegiatan dan gerakan di media sosial, tugas mereka sudah selesai menjalankan fungsi sosialnya sebagai kaum terdidik. Buktinya, hal tersebut tidak memberikan kontribusi apa-apa selain kenaifan gerakan mahasiswa.

Dari ilustrasi di atas, semakin tidak jelas arah gerakan mahasiswa mau dibawa ke mana. Keengganan mahasiswa untuk terjun ke lingkungan kesulitan rakyat menjadi bentuk dari penyimpangan idealitas dari yang sebelum-sebelumnya, terutama pada masa sebelum reformasi bergulir. Mahasiswa tidak menyadari bahwa tumbangnya rezim otoriter Orde Baru, penindasan tidak hilang, melainkan menjadi penindasan dengan model-model baru melalui budaya, pendidikan dan banyak lagi yang lainnya.

Kepungan setumpuk permasalahan itu telah menjadi musuh besar gerakan mahasiswa yang nyaris tidak dipahami oleh pihaknya sendiri. Maka penting baginya untuk hari ini melakukan pembacaan yang faktual dan kritis guna kembali membangkitkan gerakan mahasiswa dan mengembalikan kepada khitah-nya.

Jelas bahwa hal pertama yang perlu dilakukan oleh gerakan mahasiswa adalah melakukan perubahan konstruktif di dalam internal. Sebagai contoh yang paling mendasar adalah melakukan evaluasi dan melakukan konsolidasi antarorganisasi. Gerakan mahasiswa harus kembali menyatukan visi kebangsaan. Tidak lagi mencurigai satu sama lain, meskipun berbeda warna bendera dan ideologi.

Setelah melakukan evaluasi kritis di wilayah internal, penting juga melakukan pembacaan situasi faktual bangsa. Melakukan dialektika dan live in ke dalam masyarakat adalah hal urgen juga yang harus gerakan mahasiswa lakukan. Dengan demikian, ia tidak hanya mengonsumsi teori belaka, tapi juga menyinergikan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi rakyat. Agar ke depan mahasiswa tidak gagap dengan hanya meng-update kegiatan gerakan mahasiswa, atau hanya sekadar berfoto hoaks dengan teman dekatnya.

Karena satu hal yang penting, menurut Frans Magnis Suseno (2014), gerakan kaum terdidik Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan gerakan intelektual Jerman. Tulisnya, di Jerman, jarang sekali ada koran yang menulis situasi politik dari kaum intelektual. Barangkali di bagian feuilleton tokoh intelektual dibahas, atau bukunya yang baru.

Akan tetapi, pendapat seorang intelektual tentang situasi politik tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah, percuma dicari. Tetapi di Indonesia, pendapat seorang intelektual yang tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun, barangkali dia hanya dosen di sebuah perguruan tinggi, dapat menjadi headline di halaman pertama!

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Ahmad Riyadi (see all)