Bidadari Terakhir

Bidadari Terakhir
©Pixabay

Jika Tuhan mengizinkan aku sembuh, aku ingin hidup bersamamu seribu tahun lagi.

Sebuah harapan yang belum terselesai, sebelum air mata membekas jadi luka yang tak kunjung kering. Harapanku ketika sedang jatuh cinta, tetapi selalu saja terhalang oleh jam dinding yang setia memanggilnya pulang lebih awal. Lebih dari itu, ada yang lebih membutuhkannya daripada aku yang diam mengasingkan diri di rumah.

Tepat pukul sembilan malam, deringan telepon kembali memanggilnya. Sedang di ruang tamu, jarum jam yang lugu itu menari terus, tak menoleh dan bosan mengeluarkan bunyi tek, tek, dan terus-menerus seperti itu.

Sedang kopi masih hangat dengan asap mengepul, aku duduk memikirkan seseorang yang terus menarik ingatanku dan terus tidur dalam kepala. Dia melakoni sebuah drama dalam kepalaku dan memerankan fragmen-fragmen masa lalu.

Fragmen kehidupan yang berubah menjadi ruang tunggu tempatku menunggunya pulang dalam sebuah kenyataan yang sesungguhnya dia tidak akan pulang lagi. Tapi entah apa, ada keyakinan yang diam dalam diriku yang meyakinkan bahwa dia akan pulang dalam wujud yang lain kuberi nama.

Aku menunggu kapal yang berangkat dari Solor ke Larantuka. Itu kapal yang sakit. Kutunggu biar kapal itu tiba pada waktunya aku akan memperbaiki segala kerusakan-kerusakannya yang ada.

“Tentu, kau boleh tinggal dalam kepalaku, Lenia. Di ruang hatiku masih ada namamu tempat segala keteduhan berlabuh. Tak ada yang lain. Hanya ada namamu. Lenia. Tidak ada yang lain,” kataku pada suatu malam ketika diamku terusik dengan bunyi jam dinding itu.

Jam itu berdetak dengan cepat dan angin hanya diam dan terus menembus dari semua arah. Angin yang tidak mampu kubaca lagi. Angin yang mati. Angin yang tak mampu kuselami lagi. Dan ketertahananku pada ruang tunggu menjadi yang lain. Lebih tepatnya menjadi sebuah kesunyian yang hilang dalam gelap paling kelam. Ya. Di ruang tunggu ini.

***

Dulu, waktu pertama kali mengenal Lenia, aku sering mengunjungi rumahnya dan setiap kali kunjungan itu angin selalu meretas tetas dalam alas yang tak pasti. Angin itu kemudian menyentuh gorden dan laba-laba dengan lugu memintal sarang menyerupai sebuah kerucut.

Kulihat kamarnya yang penuh dengan foto Jokpin dan juga beberapa buku puisi milik Jokpin. Ada keheranan yang muncul karena aku belum pernah melihat atau mendengar pengakuannya mencintai puisi. Sedangkan di atas meja belajarnya kulihat foto masa kecil aku dan Lenia yang digabungkan.

“Biarkan malam ini menjadi malam rindu untuk kita.” Aku tersentak kaget setelah dia mengatakan kalimat itu.

“Malam rindu?” tanyaku.

“Ya. Malam rindu.”

“Mengapa begitu?” aku bertanya lagi.

“Karena dari sekian banyak malam yang lewat, tidak ada malam yang lebih pawai dari malam ini.”

“Maksudmu?”

“Sebenarnya aku tak tahu, rindu sejenis apa yang mengantarkanku ke pelukanmu dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.”

Bola mataku sedikit melotot, bertamu ke aura wajahnya. Tedu memang, tapi sama sekali tak memanjakan.

“Jokpin benar, malam rindu memang mempunyai kecemasan tersendiri. Dan kecemasan itu aku. Mungkin suatu saat kita tidak bersama dan tidak ada malam rindu yang mempertemukan kita. Sebab anarki bisa saja muncul dari sebutir benci atau sebongkah trauma yang menodai malam rindu. Aku takut jika kau mengalaminya.”

Aku diam setelah dengan cerdik dan lugunya menjelaskan puisi malam rindu milik Jokpin itu. Masih kumainkan lentik jemari sedang tidak habis pikir dia secerdik ini. Perempuan memang lebih piawai menganalisa pengibaratan dibanding laki-laki, sebab perempuan adalah yang memiliki hati.

Laki-laki juga memiliki, tetapi memiliki dari luar. Perempuan pemilik sejati.

“Lenia, apa maksud dari kecemasan dan sebutir benci atau sebongkah trauma yang menodai malam rindu?”

“Kau seharusnya tahu, tidak selamanya denyut jantungmu ada di denyut jantungku. Dan pintu hatimu yang kau tutup untuk yang lain demi aku selalu saja membuka diri menerima sebuah kedatangan yang ragu-ragu, takut, cemas, haus, lapar, biar semuanya menjadi kisah di sini.”

“Lenia, tak ada yang menggantikanmu dalam hatiku. Bagiku, kau adalah yang pertama dan terakhir yang menjadi penghuni hatiku. Tidak ada yang lain, Lenia, selain untukmu seorang.”

“Cukup! Aku tidak mau mendengar pembelaanmu. Suatu saat kau akan mengerti.”

Aku diam. Tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Suasana angin malam itu semakin menjadi-jadi. Lalu tiba-tiba muncul sebuah ketakutan menghantuiku.

Aku ingin menghibur diri dengan mengeja kembali sajak Jokpin tentang malam rindu itu. Sebab pikirku, kalau-kalau aku bisa mengerti setiap pengibaratan yang dikatakan Lenia tadi. Tapi tidak bisa. Seperti ada yang menahanku untuk bicara.

***

Waktu menetas demikian cepat sampai jenangnya memahat beberapa bulan tanpa tahun. Dan Lenia tetap menjadi penenjang rindu dalam malam rindu yang makin lisut lantaran makin sahid menerjemah rindu dari malam rindu yang dipercaya.

Namun inilah faktanya. Sebuah piguran hati yang tetap anonim. Anonim dan yang tak aku akui bahkan sadari.

“Lenia, apakah kau masih menemukan rindu kita pada malam rindu yang kau percaya?” aku bertanya kepadanya suatu malam ketika kami kembali menerjang dalam peristiwa ngetehkan kopi dan mengopikan teh.

Seperti yang sudah-sudah, karena bagi kami ngetehkan kopi merupakan momen awal yang mempertemukan kami di sebuah kafe dekat kampusnya. Sedangkan mengopikan teh mengingatkan kami akan sebuah lagu nostalgia karya Ebit G. Ade mengenai sebuah rindu yang dititipkan untuk ayah.

Aku akui kalau Lenia begitu rindu dengan ayahnya dan ingin menitipkan rindu kepada ayahnya. Lebih dari itu, kisah perjuangan ayahnya melawan sakit yang begitu menyayanginya hingga saat-saat terakhir. Dan Lenia menamai itu sebagai pengalaman pahit seperti pahitnya kopi. Dan inilah alasan mengapa dia tidak menyukai kopi dan lebih memilih teh.

“Lenia, apakah kau masih menemukan rindu pada malam rindu yang kau percaya itu?” aku bertanya lagi.

“Ya, aku masih menemukan rindu pada malam rindu, tetapi dalam diri yang lain. Bukan pada dirimu.”

Aku terdiam. Lama kubongkar-bangkir lagi kata-katanya yang simbolis dan optimis itu.

“Mengapa kau menemukan rindu pada malam rindu, tetapi dalam diri yang lain?”

“Karena mereka adalah yang terbuang.”

“Maksudmu?”

“Kau tahukan, apa yang sedang terjadi sekarang. Banyak orang menjadi korban virus mematikan itu. Selain itu, banyak yang diam tak ada kabar di ruang isolasi. Lebih tepatnya mereka membutuhkan rindu.”

“Jadi, kau memutuskan untuk memenuhi rindu mereka pada setiap malam yang kemudian?”

“Ya. Maafkan aku, karena tidak menjadi rindu sebagai tempat untukmu pulang.”

“Tidak, Lenia! Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Lagian ini sangat berisiko untukmu.”

“Aku sudah memikirkan hal itu. Dan aku harus pergi. Bahkan kepergianku tidak lagi menciptakan harapan untuk pulang. Maaf, Alex, aku harus pergi. Lagian ini adalah tugasku dan aku siap menerima risiko dari tugasku ini.”

Aku hanya diam dan menyaksikan rambutnya yang tergerai oleh angin. Di pipinya, air mata luruh membentuk satu garis lurus. Aku tak selalu kuat melihat dia menangis. Hatiku tersesat di antara perasaan-perasaanku sendiri. Lalu entah kenapa, malam terasa lebih pekat dari biasanya, dan kedinginan menjalar di tembok-tembok malam.

Tapi aku sadar pada akhirnya ada yang harus kulepaskan. Dan malam ini menjadi malam terakhir aku berjumpa dengan dirinya pada malam rindu.

***

“Puisimu itu luar biasa sekali, tuan,” kataku kepada Jokpin.

Dia duduk sambal menikmati secangkir kopi di beranda rumah miliknya. Dia sastrawan Indonesia yang lahir pada tahun 1962. Dia juga pernah mendapat penghargaan untuk penulis Asia Tenggara. Mungkin hal ini terjadi karena karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indoneisa.

Lebih dari itu, dia berhasil membuat Lenia pergi demi rindu yang ditulis dalam puisi malam rindu. Malam Rindu. Dan memang aku boleh merindukan Lenia pada setiap malam, sebelum aku berjumpa dengan penulis puisi itu sendiri.

Kami memang belum bertemu sebelumnya. Itu karena aku tidak mendatangi undangannya saat perjamuan Chong-Guan waktu itu, karena aku selalu sibuk; merindukan Lenia pada setiap malam rindu. Akhirnya aku bertemu dengan dia saat dia menawarkan kopi koplo yang adalah racun rindu.

Aku pun tahu, betapa Jokpin, tuanku ini, lebih memahami isi hati anak-anaknya. Salah satu dari yang lain adalah aku dan Lenia.

Malam rindu. Hatiku ketar-ketir.
Ku tak tahu, apakah demokrasi dapat mengantarku
Ke pelukanmu dengan cara saksama
Dan dalam tempo sesingkat-singkatnya

Begitu kata Jokpin saat kami sedang ngopi bersama. Dia berharap Lenia tahu siapa lelaki pertama yang selalu merindukannya; bukan hanya pada malam rindu, tapi pada setiap malam.

Kemudian dia menyodorkan sebatang rokok kepadaku. Aku menerima dan membakar rokok itu dan mengisapnya penuh emosi, seolah-olah yang duduk bersamaku saat ini bukan Jokpin, tetapi Lenia. Hal ini aku lakukan supaya Lenia tahu betapa aku merindukannya.

“Nak, kau memang pandai menyusun kata-kata, tapi kau tak pandai mengartikan sebuah jarak.”

Aku sadar bahwa apa yang dikatakan Jokpin itu benar. Aku memang tak pandai menyelami percakapan sunyi dengan banyak macam gaya. Buktinya, aku tidak mampu mengartikan rindu yang dibatasi jarak antara aku dengan Lenia.

***

Hingga kini, aku dan Jokpin terbiasa dengan rindu yang kami ciptakan sendiri. Rindu Jokpin kepada puisi dan aku kepada Lenia.

Tepat di terminal Lamawalang, aku dan Jokpin menunggu bus Larantuka ke Maumere. Kami putuskan untuk bertemu dengan Lenia di sebuah Rumah sakit tempat Lenia bekerja merawat orang-orang yang terinfeksi virus corona.

Dalam perjalanan menuju Maumere, denyut jantungku makin kencang berdetak. Jokpin juga. Denyut jantung kami yang sama-sama kencang ini bermuara selalu kepada Lenia.

Lenia pun tiba-tiba menjadi ramai dibicarakan mulai dari orang yang berusia senja sampai anak-anak yang duduk di bangku kanak-kanak. Bukan hanya itu, banyak media juga memberitakan tentang Lenia, mulai dari media online dan juga media-media lokal. Mata kami berbinar-binar. Antara malu dan tak mau malu. Antara tahu dan seolah tidak tahu, kami hanya membaca dalam hati.

Jika Tuhan mengizinkan aku sembuh, aku ingin hidup bersamamu seribu tahun lagi,” demikian judul dari headlines yang menjadi alasan mengapa nama Lenia disebut-sebut.

Aku begitu heran mengapa orang begitu ramai membicarakan tentang Lenia. Tiba-tiba muncul sebuah ke- kuatir yang muncul dalam diriku. Percakapan dengan Lenia kembali menghantuiku.

Aku tidak sabar lagi untuk tiba di rumah sakit dan menyaksikan apa yang sedang terjadi dengan Lenia. Saat tiba di rumah sakit, diamku terusik dengan percakapan penuh emosi dari dua orang bocah yang sedang bermain.

“Dokter Lenia terinfeksi virus corona.”

Aku begitu kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh dua bocah tadi. Tapi ketidak-percayaanku itu serentak berubah menjadi percaya saat aku sendiri foto Lenia yang tergeletak tak berdaya di dalam ruang isolasi pada halaman pertama sebuah majalah.

Air mataku tiba-tiba jatuh saat di kalimat terakhir tulisan itu, tertulis harapan Lenia; jika Tuhan mengizinkan aku sembuh, aku ingin hidup bersamamu seribu tahun lagi.

Kupeluk erat majalah itu dengan sebuah kebanggaan kepada Lenia karena telah memberikan yang terbaik kepada mereka yang dia layani dengan sebakul rindu pada malam rindu. Memang benar rindu selalu punya caranya sendiri untuk digapai bahkan sampai kehilangannya pun kau tetap merindukannya.

Sebelum Ahad tiba, anarki bisa saja muncul
Dari sebutir benci atau sebongkah trauma,
Mengusik undang-undang dasar cinta, merongrong
Pancarindu di bibirku, dan aku gagal
Mengorbankan Sumpah Pemuda di bibirmu.

Kini aku pun sadar, pada akhirnya harus ada yang kulepaskan. Bagiku, cinta juga berani melepaskan. Maka ketika semuanya terasa makin rumit, tak ada alasan untuk tetap di hadapannya. Dia pergi karena alasannya sendiri. Dan aku menguatkan diriku untuk tidak berpaling.

Aku menembusi malam dan berlalu tanpa kehadirannya lagi. Bagiku, dia adalah bidadari terakhir yang tinggal di kepalaku dan menjadi kenangan yang tidak akan kubiarkan luruh ke dalam mataku. Dan aku memahaminya. Bukankah cinta juga berarti memahami? Dan aku minta Jokpin tetap dengan puisi-puisi rindunya.

*Keterangan: cerpen ini saya terinspirasi dari puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Malam Rindu” dan beberapa puisinya yang lain seperti “Perjamuan Chong-guan dan Kopi koplo”.

Sonny Kelen
Latest posts by Sonny Kelen (see all)