BJ Habibie yang Dulu Dihina Kini Dikenang

BJ Habibie yang Dulu Dihina Kini Dikenang
©Twitter Image

Warganet bernama Muhammad Toha punya cara tersendiri mengenang sosok Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Melalui catatannya di media sosial, ia kisahkan bagaimana dulu dirinya dihina, diperlakukan bak pesakitan.

Kini, sosoknya dikenang bagai pahlawan. Karena memang, jasa-jasanya teramat besarnya bagi Indonesia, meski jabatannya sebagai presiden hanya berlaku dalam kurung waktu yang relatif singkat.

Berikut ini kami lampirkan catatan lengkap Muhammad Toha. Kami merangkumnya dalam Nalar Warga.

***

Nalar Warga – Negeri ini pernah menghina-dinakan dirinya laiknya pendosa tak terperi. Di gedung terhormat yang diisi oleh orang-orang terhormat, dia dipermalukan seperti begal tak berharga.

Pada 14 Oktober 1999 silam, di Sidang Istimewa MPR. Hari itu, BJ Habibie sebagai Presiden yang menjabat pasca-lengsernya Soeharto memasuki ruang sidang istimewa MPR yang dipimpin oleh Amien Rais sebagai ketuanya.

Adalah kelaziman protokoler, apabila seorang presiden memasuki ruangan, maka seluruh hadirin menyambutnya dengan berdiri. Tetapi di layar TV yang menyiarkan acara ini ke antero nusantara, pemirsa menyaksikan bagaimana selangkah setelah kaki Habibie memasuki ruangan sidang, gedung MPR tiba-tiba bergemuruh dengan suara: Huuuuuuuuuuuuu berkepanjangan!

Koar itu bergema dari mulut hampir seluruh peserta sidang. Ditimpali pula oleh teriakan ejekan dari beberapa lintir orang.

Baca juga: Habibie, Sampai Jumpa di Keabadian

Di layar TV, Habibie terlihat melangkah ringan menuju samping podium. Tetap melempar senyum lebar ke arah para anggota majelis, yang sebagian tak beranjak dari duduknya. Cemohan itu baru berhenti setelah Habibie menempati tempat duduknya.

Habibie hendak disidang seperti pesakitan!

Cukup sampai di situ?

Tidak!

Hinaan dan cemoohan itu justru berlanjut manakala Habibie berdiri di podium kenegaraan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban presiden. Hampir sejam Habibie menyampaikan pidato yang berisi keberhasilan Indonesia yang mampu entas dari keterpurukan ekonomi dan politik pasca-tumbangnya Soeharto.

Tapi apa lacur, tak sekalipun applause tepuk tangan menyambut pidatonya. Justru, berulang kali pidatonya terinterupsi oleh suara gaduh dan teriakan, yang tak sekalipun ditegur oleh pimpinan sidang.

Sementara anggota yang tak gaduh dan berteriak, lebih memilih lelap dan tertidur.

Puncaknya ketika pada 20 Oktober 1999. Palu sidang yang diketok Amien Rais menyatakan secara bulat penolakan pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden.

Artinya, Habibie dianggap tak becus mengemban amanat sebagai presiden. Kerja kerasnya memulihkan keterpurukan Indonesia tak dianggap punya nilai apa-apa.

Baca juga:

Bagi pria kelahiran Pare-Pare ini, cemoohan dan hujatan sejatinya tak pernah membuatnya risau. Sebab nyaris tiap kesempatan, selama setahun lebih menjadi Presiden, dirinya tak pernah lepas dari hujatan. Pria yang kala senggang jarinya tak pernah lepas dari tasbih ini memaklumi hujatan itu sebagai eforia kebebasan pasca-reformasi.

Tetapi, tatkala kerja keras dan segala daya upayanya dicampakkan sebagai hal yang tak bernilai, BJ Habibie tak mampu menutupi kesedihan hatinya.

Di malam hari setelah MPR menolak pertanggungjawabannya, Habibie menyampaikan pidato yang secara tersirat hendak pamit dari hiruk pikuk dunia politik Indonesia. Dia hendak menepi serta menarik diri dari segala tetek bengek politik dan kekuasaan.

Dan Indonesia kini benar-benar menyaksikan. Setelah meletakkan jabatannya sebagai presiden, Habibie tak sedikit pun tergiur untuk kembali ke dunia politik dan kekuasaan.

Tatkala beberapa mantan pejabat Indonesia begitu sulit melepaskan diri dari post power syndrome alias sindrom ingin berkuasa kembali, Habibie justru tetap hening dan tak terpancing untuk tampil kembali.

Habibie memang berhasil menepi dan menarik diri, tetapi beliau tidak bersemedi.

Di hari tuanya sepeninggal Ibu Ainun, beliau masih tetap berkontribusi bagi negeri dengan memberi begitu banyak sumbangsih dalam bidang ilmu dan terobosan teknologi. Habibie memilih menjadi guru bangsa dan teladan abadi kendati negeri ini pernah mencaci maki dan menghinanya.

Selamat jalan, Profesor Habibie. Doa tulus dari kami anak negeri, semoga tempat terbaik untukmu.

Alfatihah.

#UncleTOM

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)