Blessing in Disguise, Merawat Kebaikan

Blessing in Disguise, Merawat Kebaikan
©Shopee

Blessing in Disguise, Merawat Kebaikan

Apakah kebaikan itu takdir yang sudah diwariskan dalam diri setiap orang? Demikian pembacaan saya yang ‘mungkin’ jadi pergumulan penulis dalam novel dengan ketebalan 256 halaman ini.

Saya akan memulai dengan ulasan sederhana.

Adalah seorang penulis terkenal, Lucy Monroe, yang dalam salah satu bukunya mengisahkan bagaimana kisah ‘Cinderela’ itu ada dalam diri seorang putri yang kaya raya dan juga dalam diri seorang Pangeran Kerajaan. Kalau dalam imajinasi publik, Cinderela itu identik dengan ‘kaum kecil,’ marjinal terpinggirkan, toh Lucy malah sebaliknya.

Diawali dengan kisah apik tentang kerinduan Liyah Amari untuk bertemu sosok ayah kandungnya. Perlu diketahui bahwa Amari adalah anak yang lahir berkat hubungan ‘tak sengaja’ ibunya dengan seorang pemilik hotel. Setelah kematian ibunya, ia ingin menemui sosok ayahnya.

Untuk bisa bersua dengan ayahnya, ia harus bekerja di Hotel Chatsfield yang pemiliknya adalah ayahnya sendiri. Seharusnya dia bos juga ya, ia kan pemilik juga? Nah ini soalnya, ayahnya tersebut tidak mengetahui bahwa Amari adalah salah satu putri kandungnya. Sebagaimana wasiat ibunya, Hena Amari, Liyah akhirnya pindah kerja ke hotel ayahnya.

Singkat cerita, Liyah pun akhirnya bekerja di hotel milik ayahnya tersebut. Di hotel itu Liyah menjabat sebagai kepala pelayan yang khusus melayani tamu VVIP hotel. Tamu VVIP pertamanya ialah seorang pangeran dari Zeena Sahra. Sheikh Sayed yang dalam dua minggu ke depannya akan melangsungkan pernikahan kerajaan, dan berencana berbulan madu di hotel Liyah bekerja.

Misi Liyah untuk berbicara face to face dengan ayahnya pun tidak ia lupakan. Pada satu kesempatan ia bertemu langsung dengan Gene Chatsfield, ayahnya. Sayangnya, pasca pengakuan yang dilontarkan Liyah, cap ‘perempuan pemeras kekayaan’ disematkan pada dirinya.

Baca juga:

Liyah menderita dan mengutuk diri. Pengalaman ditolak itu mengantar Liyah pada frustrasi tinggi. Ia stres dan ‘menghabiskan waktu dalam kesendirian’. Ia bahkan mengutuk ibunya yang telah meninggal itu telah membohonginya.

Di hari bersamaan Aliyah ditolak identitasnya. Sheikh Sayed juga mendengar kabar bahwa calon emiranya, calon istrinya, Tahira, kawin lari dengan pelayan istana. Pangeran yang memiliki reputasi tinggi ini juga mengalami peristiwa pengkhianatan. Tragis. Ia mendapat suatu pukulan berat, seorang calon pemimpin bangsa dikhianati oleh seorang perempuan dan pelayan istana. Kisah dua manusia ini seperti…bersyanda…bersayndanya mba Maba yang lagi viral.

Entah Aliyah dan Sayed, sama-sama mengalami tragedi. Tragedi yang dialami dalam hotel mewah itu membawa keduanya pada perjalanan hidup yang memabukkan. Tragedi itu juga menjadi awal keduanya saling berbagi kisah kehidupan selanjutnya.

Cinderela Modern dan Pesan Moral

Kita sering mendengar adagium blessing in disguise. Pepatah klasik ini umumnya diartikan sebagai ‘berkat terselubung di balik keadaan sial’, ‘berkat di balik derita’. Lawan dari frasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga’.

Ada banyak dongeng dan kisah-kisah dari zaman manusia mengenal aksara hingga saat ini yang menyiratkan pesan tentang ‘berkah terselubung di balik penderitaan’. Cerita rakyat ‘bawang merah dan bawang putih’ misalnya yang memiliki kemiripan pesan moralnya dengan ‘kisah Cinderella’. Hal ini mau menunjukkan berkat dan kebaikan itu pasti tidak berjarak dari orang baik. Benar demikian?

Cerita Cinderela menjadi contoh yang mengafirmasi bagaimana skenario pepatah itu berlaku. Dongeng yang ditulis 1697 oleh Charles Perrault ini menujukkan pesan bahwa yang menderita akan mendapat pahala. Sebagai tokoh protagonis, Cinderela hidup didampingi oleh saudara dan ibu tiri yang begitu kejam. Ia harus jadi pembantu di rumah, melayani tokoh antagonis.

Memikatnya, dalam keadaan tertekan pun, ia tetap menjadi pelayan yang baik. Inilah yang mesti jadi pelajarannya, berkanjang dalam sikap dan kepribadian yang baik. Sepertinya kebaikan dan pelayanannya yang tiada tara itulah yang menggerakkan ibu peri untuk memberikan hadiah sepatu emas dan kereta kencana yang menawan.

Saya yakin setiap orang dalam hidup keseharaiannya juga ‘pasti’ punya pengalaman yang merasa ada ‘berkat di balik penderitaan’. Walau tidak mendapat kereta kencana dan menikah dengan seorang raja, toh dalam keseharian pun pasti ada satu momen yang paralel dengan kisah Cinderela atau Bawang Putih.

Halaman selanjutnya >>>
Fransiskus Sardi
Latest posts by Fransiskus Sardi (see all)