Bonus Demografi: Peluang atau Ancaman bagi Dunia Pendidikan?

Bonus Demografi: Peluang atau Ancaman bagi Dunia Pendidikan?
©Ilmupedia

Dunia pendidikan menjadi gerbang utama untuk meraih bonus demografi.

Ketika membicarakan mengenai masalah atau isu terkait dengan kependudukan, sepertinya memang tak ada habisnya. Sama halnya dengan negara Indonesia, sudah tidak asing bahwasanya Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah penduduk terpadat di peringkat empat dengan jumlah total populasi 270 juta penduduk, sama artinya dengan 3,51% dari jumlah populasi penduduk di dunia.

Besarnya angka tersebut menyebabkan Indonesia pada 2020-2040 diprediksi mengalami fenomena perubahan demografi berupa bonus demografi. Bonus demografi ialah suatu fenomena di mana struktur/komposisi jumlah penduduk sangat menguntungkan karena jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) mencapai 70% melebihi jumlah penduduk non-produktif sebesar 30% (<14 tahun dan >65 tahun).

Data Sensus Penduduk 2018 menunjukkan bahwa populasi penduduk Indonesia yang berusia produktif (15-64 tahun) yaitu 67,6% dari total jumlah seluruh penduduk Indonesia atau mencapai angka 179,13 juta jiwa. Artinya, dari adanya pengertian tersebut, jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif.

Adanya bonus demografi dapat menjadi sebuah peluang apabila diolah dengan strategi yang baik, benar, dan tepat sasaran atau bahkan bisa menjadi ancaman, baik dari aspek sumber daya manusia (SDM), pendidikan, ketenagakerjaan, maupun beberapa aspek lainnya apabila tak dipersiapkan dengan matang bagi kependudukan Indonesia atau tergantung bagaimana negara dapat mengelola tidaknya jumlah penduduk yang mereka miliki.

Tantangan utama Indonesia terkait bonus demografi ialah daya saing tenaga kerja yang masih rendah mengakibatkan tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2019, faktor utama dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan SDM yang dimiliki Indonesia merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk terciptanya peluang bonus demografi yang akan menghasilkan SDM yang dimiliki menjadi berkualitas? Tentunya dengan cara dan upaya pemerintah dengan menjadi agent of development dalam memanfaatkan bonus demografi, terlebih pada dunia pendidikan.

Dunia pendidikan menjadi gerbang utama untuk meraih bonus demografi. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas dan terampil, perlu adanya kerja sama dari semua elemen masyarakat dan lembaga terkait. Adanya dunia pendidikan yang mampu mencetak lulusan berkualitas pada lembaga atau institusi pendidikan dapat menciptakan generasi muda yang produktif dan terampil.

Dengan bertumbuhnya lulusan yang berkualitas mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang dianggap mampu menghadapi fenomena bonus demografi. Namun bukan hanya itu, generasi muda harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang berguna untuk menggurangi angka pengangguran.

Beberapa hal yang patut disyukuri, karena membuat optimis bahwa adanya bonus demografi menjadi peluang bagi dunia pendidikan, yaitu terkait pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memasukkan isu bonus demografi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019. Bahkan terdapat penjabaran mengenai kerangka pelaksanaannya. Hal semacam ini menunjukkan bahwa fenomena bonus demografi mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Salah satu cara dan upaya pemerintah untuk menghadapi bonus demografi selain melalui pelatihan ataupun pembelajaran di sekolah, yaitu pemerataan pendidikan sebagai dasar bagi seluruh penduduk Indonesia dengan memberikan beasiswa sebesar 1,3 Triliun dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Selain itu, pemerataan akses pendidikan dasar sangat perlu terutama bagi penduduk yang ada di pelosok dan kurang mampu. Karena secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.

Baca juga:

Selain akses pendidikan dasar bagi penduduk kurang mampu, akses terhadap perguruan tinggi juga penting dikarenakan perlu menyiapkan kurikulum yang mengacu pada inovasi dan kreativitas agar dapat menghasilkan generasi muda yang memiliki pola pikir berwawasan luas serta kreatif. Sesuai dengan arah Pemerintah, perguruan tinggi perlu mempersiapkan dengan matang untuk menghadapi future jobs demi terciptanya mahasiswa yang berkualitas dan perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup besar dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Selain perguruan tinggi, lembaga-lembaga pendidikan lainnya juga perlu menyiapkan dan membekali generasi muda dengan bekal kompetensi yang sesuai dengan bidangnya masing-masing, seperti pelatihan kejuruan yang diadakan di setiap daerah yang bertempat di Balai Latihan Kerja (BLK). Itu semua merupakan beberapa point penting dalam menghadapi bonus demografi ini.

Selain itu, pentingnya pendidikan kependudukan yang biasa dilaksanakan di sekolah-sekolah secara tidak langsung akan membentuk sikap dan perilaku yang responsif terhadap pemecahan masalah kependudukan sejak dini bahkan hingga usia lanjut. Dengan adanya proses pembentukan perilaku hidup yang berwawasan luas mengenai kependudukan melalui proses pendidikan baik formal, kediklatan, kursus atau melalui pemberian informasi dengan menggunakan media yang ada di masyarakat, maka diharapkan dapat mencetak generasi muda yang mampu mengetahui dan menyadari serta berperilaku responsive terhadap berbagai permasalahan kependudukan yang ada di Indonesia terutama untuk menghadapi bonus demografi.

Selain dengan adanya pendidikan kependudukan dan menerapkan perilaku hidup berwawasan luas mengenai kependudukan, bonus demografi menjadi sebuah potensi atau peluang yang besar apabila pemerintah dan masyarakat terdidik berhasil mempersiapkan lapangan kerja yang harus lebih banyak.

Meskipun Pemerintah telah memberikan berbagai solusi salah satu dengan cara meningkatkan mutu pendidikan, tetap saja ancaman atau tantangan bonus demografi perlu diwaspadai. Misalnya adanya kasus pengangguran. Ahmad Heri Firdaus Heri (Peneliti Institute for Development of Economics and Finance) mengatakan masalah terbesar yang dihadapi Indonesia yaitu jumlah pengangguran yang lebih banyak daripada lapangan pekerjaan atau bisa dikatakan adanya ketimpangan jumlah angkatan kerja dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Realitasnya, rata-rata para pengangguran di Indonesia didominasi oleh penduduk usia yang masih produktif dan pengangguran tersebut juga dikatakan menjadi pengangguran yang tergolong terdidik. Pengangguran terdidik ialah mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah hingga SMA bahkan hingga perguruan tinggi.

Namun sayangnya, meskipun mereka sudah terdidik dianggap sebagai pengangguran karena peluang untuk mendapatkan pekerjaan sangat minim bahkan kesempatan kerja yang ada sangat sempit. Tentunya hal seperti itu di masa transisi bonus demografi terkait masalah pengangguran bisa menjadi ancaman yang tidak terhindarkan.

Baca juga:
    Setiya Eka Puspitasari