Bu Risma Bukanlah Wonder Woman

Bu Risma Bukanlah Wonder Woman
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Foto: SINDONews)

Bu Risma kaget gara-gara Surabaya diguncang bom dua hari berturut-turut pada 13 dan 14 Mei 2018. Bom yang meledak dan menimbulkan korban jiwa di empat tempat berbeda ini paling menyita perhatian. Meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta,menandakan ada sentimen anti-Kristen dan hal ini membuat Bu Risma mengelus dada.

Menurut walikota wanita yang bernama lengkap Tri Rismaharini, dengan pedenya, bahwa Surabaya, kota yang dipimpinnya itu adalah salah satu kota yang aman dari tindakan teroris. Surabaya itu sudah tertata dari banyak sisi. Rakyat Surabaya yang heterogen pula dianggap sudah dewasa menilai keberagaman.

Adalah hal yang di luar nalar aksi terorisme melanda Surabaya, kota dengan kepercayaan diri yang besar akan perdamaian dan kerukunan itu. Apalagi setelah diketahui polisi, pelakunya adalah orang Surabaya sendiri. Terdiri dua keluarga – Dita Supriyanto dan Tri Murtiono – yang masing-masing mengikutsertakan anak-anaknya sendiri. Ironis dan miris, korban jiwa yang berjatuhan dari kalangan jemaat ada yang masih anak-anak pula.

Menangislah Bu Risma. Sembari mengelus dada, kenapa kok Surabaya, kotanya? Mengapa pelakunya terdiri keluarga utuh? Mengapa ia orang yang berdomisili di Surabaya sendiri? Mengapa sampai hati melibatkan anak-anaknya? Dan mengapa mereka tega menghancurkan dan membunuh saudara sesama manusianya sendiri?

Dada Bu Risma bergejolak. Ia merasa sedih, bahkan sangat sedih. Kepada para korban yang masih hidup dan trauma, bersama himpunan psikolog se-Jawa Timur, diadakanlah pendampingan menanggulangi trauma yang pasti menakutkan itu. Pokoknya, para korban yang selamat, harus pulih sesegera mungkin, baik fisik dan psikisnya.

Bu Risma pun emosi dan marah. Ia mengutuk kebiadaban itu. Baginya, Surabaya harus kembali pulih dengan semangat berani melawan ketakutan. Daripada takut, lebih baik berani.

Tidak hanya itu, kemudian ia bertindak sigap. Mengumpulkan para kepala sekolah. Mengumpulkan pula para takmir masjid se-Surabaya. Tujuannya satu, mereka semua diminta ikut serta menengok sekolahnya dan masjidnya. Kalau ada indikasi paham keagamaan garis keras menyusup, segera tindaklanjuti dengan melarangnya.

Namun Bu Risma malah dikagetkan lagi. Dalam forum pertemuan para takmir masjid tersebut yang diadakan di Gedung Wanita Kalibokor, Surabaya (16/5/2018), ternyata mereka tidak satu suara. Beberapa ada yang menyoal respons tanggap inisiatif Bu Risma itu. Tanpa pikir panjang, Bu Risma langsung menghampiri takmir pemrotes itu. Lalu ia meminta maaf kalau inisiatif tersebut mereka sangka menyalahi. Heboh, Bu Risma bersujud di hadapannya.

Kenapa Bu Risma bersujud? Dengan situasi yang campur aduk, penolakan beberapa takmir masjid itu membuat Bu Risma geleng-geleng kepala. Ini aneh, situasi gawat yang membutuhkan persatuan dan kesatuan ide dan dukungan, justru ada yang menolak. Untuk peristiwa yang biadab ini, mereka malah tidak sependapat. Maka sujudnya bukan menyembah, tetapi semata menunjukkan emosi yang dipendam.

Tapi Bu Risma jalan terus. Meskipun ia menangis. Meskipun ia seorang perempuan. Yang menurut saya yang laki-laki tulen ini, belum tentu loh pemimpin yang laki-laki bisa sekuat dan secepat responsnya seperti Bu Risma. Ini terlampau cepat bagi ukuran birokrasi kita selama ini.

Lihat juga: Ketika Dialog Antaragama Tak Memadai Lagi

Saya percaya, kecepatan respons Bu Risma melebihi kemauan banyak omongnya. Atau kalau beliau banyak omong, maka segera diharmonisasi dengan kerja nyata dan konkret. Hari ini berencana, besuk kesampaian, sebab ini urusan kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan.

Di acara dialog di Kompas TV beberapa malam silam, seorang ibu saksi mata kejadian bom di sebuah gereja menangis tersedu-sedu. Ia sedih saat diwawancari Rosi, sang host acara, karena teman-temannya banyak yang menjadi korban.

Tetapi adanya respons cepat dari Bu Risma, sontak mengubahnya bisa bangkit kembali, bersemangat menjalani kehidupan. Ia sangat mengagumi kerja nyata Bu Risma yang senantiasa mengayomi itu.

Kenyataan pemimpin model Bu Risma yang bisa jadi seribu satu itu memampangkan sebuah angin segar di republik ini. Iya, selama ini yang saya—dan mungkin pembaca rasakan, birokrat dan politisi elite kita itu lebih banyak omongnya daripada kerjanya.

Lebih banyak cuap-cuapnya daripada turun ke lapangan rakyat. Bisa ngomong tapi tak bisa kerja. Buktinya sudah banyak berseliweran di media-media, berapa banyak beban kerja mereka terbengkalai belum terselesaikan.

Adanya Bu Risma, saya jadi terkejut, oh ternyata ada loh pemimpin daerah atau politisi yang seperti ini. Sebab respons cepat ala Bu Risma tidak hanya persoalan kebiadaban ini saja. Sebelum-sebelumnya juga ia sama seperti itu. Konsisten bekerja, sedikit bicara.

Lihatlah pemimpin daerah lainnya, yang banyak tersangkut korupsi, dan sebagian mereka adalah wanita. Mereka banyak yang tidak sama dengan Bu Risma. Dulu mereka tidak bekerja secara nyata, karena kerja nyatanya hanya menyapu bersih uang rakyat. Kini mereka dibelenggu penjara.

Tapi lain dengan beliau, ia masih konsisten menjadi pengayom dan pemimpin yang sejati bagi warga Surabaya. Yang diutek bukan anggaran terus-terusan. Paling nyata yang dirasakan warga Surabaya tentu saja rekayasa lalu lintas yang lebih rapi dan tumbuhnya taman-taman di beberapa titik, yang di situ ada peran Bu Risma yang sangat besar.

Namun, perlu saya tekankan dengan jujur, hebatnya beliau tidaklah lantas kita bangga-banggakan terus-menerus. Kita tidak usah menjunjung-junjung dan merasa terlalu heran dengan sikap Bu Risma. Biarlah ia sebagai manusia biasa saja, bukan Wonder Woman. Karena memang jabatan walikota yang diembannya, hakikinya pelayan rakyat juga.

Dan kebetulan beliau sendiri memosisikan dia seperti itu. Sebab ia tahu bahwa jabatan itu sebatas SK-nya. Sementara yang sejati ia adalah pelayan yang harus wara-wiri menengok rakyatnya. Semua gerak tubuh dan otaknya, dihadiahkan kepada rakyatnya. Ia tidak bisa mengelak, sebab rakyat Surabaya itulah rajanya.

Kalau menurut Cak Nun pada kata sambutan di dalam buku Alam Sedang Menyapa dan Problematika Negara yang ditulis Suparto Wijoyo, Bu Risma ini tipikal pemimpin yang “belepotan lumpur, celananya basah bergumul banjir, bajunya ‘mangkak’ karena keringat kenyataan dan ‘bau’ kerakyatan”.

___________________

Artikel Terkait: