Budiman Sudjatmiko, Dia Pasti Adalah Siapa-Siapa

Budiman Sudjatmiko, Dia Pasti Adalah Siapa-Siapa
©Twitter

Kalau saat ini dia benderang berada di sisi sebelah Ganjar, misalnya, 100 persen pasti gak ada kisah bulian padanya. Seratus persen gak ada ungkit-mengungkit dosa-dosanya yang benar-benar sangat sulit dicari.

Budiman terlalu lurus. Bisa dibilang dia satu dari sejuta politisi kita yang idealis dan maka tetap miskin tanpa data deretan mobil mewah di garasinya.

Dan lalu, ketika korupsi sebagai penyakit paling lumrah yang selalu diidap oleh banyak politisi kita tak pernah bisa menjangkitinya, dia dikuliti soal kemiskinannya. Utang-utang pribadinya menarik hati dan minat para pencari dan pencatat dosa.

Kenapa utangnya?

Ini agar nyambung dengan narasi yang akan dibangun oleh para pihak bahwa dia butuh banyak uang untuk melunasi utang-utangnya itu. Budiman dinarasikan sedemikian rupa sedang cari tumpangan hidup pada si tajir melintir & maka tak perlu harus mengedepankan etika.

Kenapa etika?

Karena dia dianggap tidak punya hal itu. Dia dicap tak punya etika dan kepekaan saat mendukung calon yang dinarasikan sedemikian rupa telah berlumuran darah rakyat.

Benarkah?

Baca juga:

Bila kamus tak beretika adalah karena dia eksplisit mendukung Prabowo, untuk bu Mega dan pak Jokowi, sebutan macam apakah pantas disematkan pada beliau berdua?

Ataukah mereka semua itu justru tidak dalam posisi sadar sedang membesarkan namanya setara atau lebih besar dengan dua presiden itu? Budiman dimaki habis dan namun bu Mega dan pak Jokowi tidak pernah mereka sentuh atas peristiwa yang hampir mirip itu.

Budiman memang lebih mendukung Prabowo dibanding capres lainnya. Tapi lebih dari itu, bu Mega justru pernah meminang Prabowo menjadi cawapresnya pada pilpres 2009, dan pak Jokowi melanjutkan sikap bu Mega dengan memasukkan Prabowo menjadi Menteri Pertahanan di kabinetnya.

Dan kita tahu bahwa posisi Menhan dalam UUD ‘45 adalah posisi ketiga tertinggi tepat di bawah wapres sebagai Triumvirat, tiga menteri yang diberi mandat berkuasa manakala keduanya, presiden dan wakil presiden, berhalangan tetap.

Artinya, bila karena satu dan lain hal presiden dan wakil presiden kita tiba-tiba berhalangan tetap, Menlu, Mendagri, dan Menhan adalah tiga penguasa yang setara dengan presiden.

Itu posisi sangat-sangat strategis dalam sistem pemerintahan kita. Dan pak Jokowi melanjutkan sikap bu Mega dengan secara khusus memberi jabatan sangat strategis itu pada Prabowo. Itu jelas fakta yang tidak bisa dibantah.

Artinya, meski terdengar konyol, bila dibanding dengan bu Mega & pak Jokowi, dukungan atau rasa percayanya pada sosok Prabowo itu bisa dibilang terlambat. Bu Mega bahkan sudah memercayainya sejak hampir 15 tahun yang lalu, pak Jokowi 4 tahun yang lalu & Budiman baru pada Juli 2023, satu bulan yang lalu.

“Tapi bukankah Budiman seharusnya lebih peka karena Prabowo adalah lawan dalam setaranya di masa lalu?”

Halaman selanjutnya >>>
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)