Bukan Kriminalisasi Ulama, tetapi Ulamaisasi Kriminal!

Bukan Kriminalisasi Ulama, tetapi Ulamaisasi Kriminal!
Sketsa Islam Kita: "Kriminalisasi"

Nalar WargaTuduhan kriminalisasi ulama yang dilakukan oleh rezim Jokowi adalah murni politik. Para pencetusnya adalah politisi yang tersingkir dan ingin merebut kembali kekuasaan. Mereka memanfaatkan situasi psikologis umat yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga rezim Jokowi digambarkan sebagai anti-Islam.

Akan tetapi, tuduhan tersebut bisa muncul—dan laku—karena adanya perubahan sosial yang luar biasa di tengah komunitas muslim Indonesia. Sejak akhir 1980-an, antusiasme terhadap agama meningkat tajam terutama di masyarakat perkotaan.

Dalam situasi itu, para ustaz datang membawa pesan-pesan agama yang sederhana. Yang disampaikan mereka bukan ilmu agama, melainkan resep-resep hidup bahagia.

Dengan demikian, para ustaz tersebut berbeda dengan para kiai yang hidup di masyarakat tradisional. Kalangan yang terakhir ini mengajarkan ilmu agama yang telah tersusun dalam kitab-kitab kelimuan sekian banyaknya. Kitab-kitab tersebut tidak bisa dipelajari sebentar, sehingga harus berjenjang, sebab memuat pembahasan permasalahan keagamaan yang panjang lebar.

Karena lebih sulit memelintir pandangan para kiai, politisi memilih berkolaborasi dengan para ustaz perkotaan dalam menjalankan kepentingannya. Ustaz-ustaz tertentu diorbitkan, belakangan melaui media sosial, agar mendapat tempat yang kuat di tengah umat.

Ustaz-ustaz seperti ini sangat ringan dalam berucap, sangat mudah dalam mengkafirkan, sangat percaya diri seolah-olah paling Islam, karena sesungguhnya mereka tidak mempunyai beban yang terlalu besar. Umat mereka adalah umat yang cair, kadang hanya bersifat virtual, sehingga mudah untuk dimasuki dan sekaligus ditinggalkan.

Rezim Jokowi, saya kira, mempunyai komitmen yang kuat untuk mengatur ulang perubahan-perubahan yang luar biasa di tengah komunitas muslim itu. Namun, kita tahu, masalahnya ternyata sangat kompleks. Rezim sebelumnya, khususnya di era SBY, justru membiarkan perubahan-perubahan tersebut berlangsung tanpa kontrol sama sekali.

Bahkan, lebih dari itu, SBY memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan politiknya sendiri. Oleh karena itu, tidak heran jika hari ini dia teriak-teriak mengenai kriminalisasi ulama, padahal yang terjadi adalah ulamaisasi kriminal, pengulamaan kriminal—yang sebagian besar lahir dan tumbuh ketika dia berkuasa di negeri ini 10 tahun lamanya.

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: