Bukannya Aku Risi

Bukannya Aku Risi
©Pixabay

Aku merasa kasihan saja pada hidupmu
Bertahun-tahun kau tunaikan salat lima waktu
Puasa sunnah dan wajib pun tak pernah kau lewatkan
Zakat Mal dan Fitrah lengkaplah tak pernah kau abaikan
Namun apa daya, semua itu lantaran sekadar amalan di kulit semata
Kau terlalu sibuk menumpuk pahala
Sedang laku mencerca dan menista sesama

Ah, Syahadatain kau cukup di lisan saja
Apalagi gelegar sumpah serapah
Yang tak habisnya kau hembuskan tiap waktu
Hingga lahir-batinmu
tak benar-benar menyesap firman-firman-Nya
Hingga pada akhir lusuh kematianmu

Kedai Kopi Genk, Jogja

***

Merdeka Lahir – Batin

Bila dalam kesunyian kita temukan kedamaian
Mengapa kita harus terjajah pada pesta
dan ornamen kemeriahan yang terbingkai pada seremonial:
kosong aksi, kosong subtansi

Bila pada keheningan kita temukan ketenangan
Mengapa harus capai-capai menghibur kehampaan
Di tengah gemuruh penindasan rasa (dzauq)

Bila pada kebeningan pikiran, hati, dan jiwa benar-benar merdeka
apalah Tuan-Puan di hari kemerdekaan ini
jika tak bergaung sambut untuk membumihanguskan penjajahan pada kaum papa
dan menggadaikan tanah pertiwi ini…
tanah tetes darah dan derai air mata para nenek moyang di tanah sakti ini.

Di hari kemerdekaan ini
Selamat telah kita rayakan hari pembebasan penindasan dan penjajahan
Mari bergaung sambut untuk memerangi ketertindasan yang bernama: RASA pada semesta ASA
Semoga kita benar-benar merdeka, baik secara lahir maupun batin, Tuan dan Puan

Sumenep

    Latest posts by Fathor Razi (see all)