Buku Harian

Buku Harian
©Hipwee

sebelum mengatup mata dan mengemas mimpi
ia selalu menabur benih-benih kata di lahan
buku yang subur sambil berharap ia selalu merawatnya tiap-tiap hari
sebab bila menjenguknya ia selalu menanyakan kabar
hari, usia dan waktu: rindu-rindumu
pada halaman buku kata-kata tumbuh menjadi
taman cerita yang ia namai ‘catatan kenangan’

di buku itu ia sering menanam puisi pada halaman yang baru
dan tak lupa membatasinya dengan seutas benang merah sebagai jeda
antara halaman yang hitam dan putih: kemarin dan esok

jejak-jejak hari menjadi kenangan di taman buku
sebab ia tetap bisu sampai suatu saat tiba musim panen
ranum kata-kata di taman cerita menjadi santapan
mata yang tak kunjug letih berkedip membaca kenangan di bangku taman
yang kau buat abadi

Selepas Jeda

_____Wanita Kopi

Usai belajar memahami diam itu rupa apa untuk beberapa lama
jeda adalah jalan panjang untuk kita tak saling bicara

lalu tibalah saatnya, suatu malam di penghujung oktober
kata-katamu meruntuhkan sunyi dan memanggil puisi yang sedang
berkeliaran di belantara kenangan tuk kembali.

Seperti biasa kau (masih) mampu menanam senyum biar mekar di bibirku
dengan cerita polos, khas isi kepalamu.

(maaf adalah usaha membebaskan isi kepala dari kesepian setelah
ditinggal penghuni mudik lebaran)

di ujung oktober, sebelum malam mengatup mata ada cerita kecil
tentang jalan panjang menuju ke entah
: “polos kubawa pergi sampai Firdaus sambil berharap tak ada malaikat
dengan pedang bercahaya di tangan mengusirku pulang.”

aku paham, jalan pulang paling panjang adalah menuju ulu hati,
kita tak bisa menerka dengan umpama-umpama.

dekat jendelaku, secangkir kopi sudah tuntas dan diam-diam
sebelum mata menjadi lelap, ampas kopi berbisik:
“selamat bermimpi, jangan lupa para Kherubim dan Seraphim menanti kita suatu ketika.”

    Rikard Diku
    Latest posts by Rikard Diku (see all)