Buku Sejarah

Buku Sejarah
©Pixabay

Aku membaca sebuah buku tebal
Tiba di halaman 98
aku menemukan darah

Darah itu terselip
pada halaman 98 yang kusam
oleh nodanya sendiri
(itu darah keadilan!)

Halaman yang kusam itu tak terlihat
Ia sengaja dilipat
agar tak dilihat
Ia ditutup-tutupi halaman lain yang bersih

Di halaman 98 itu,
darah telah kehilangan merahnya
yang diserap oleh halaman buku
yang angkuh dan arogan

Siraman Rohani

Seorang Pak Tua
membawa seember berisi rohani

Ia menuju kamar tidur anak-anakNya
lalu menyiram mereka dengan seember rohani

Anak-anak itu bangun dengan damai,
seperti sedang berbaring di atas altar

Mata Ibu

Ibu memperhatikan kompor

“Lihat, sumbunya pendek dan minyaknya habis.
Nyalanya padam.”
“Sini, bu! Biar kubantu.”

Aku menatap mata ibu
Matanya berkobar
Sumbunya kekal
Minyaknya mulia
Nyalanya abadi

Virus

Aku yang dulu menjagamu dengan sentuhan
kini merawatmu dengan senyuman
(cukup mata yang bersentuhan)

Aku yang menjagamu dengan dekat
kini memelukmu dengan jarak
(cukup rasa yang merawat dekat)

Virus telah membunuh segalanya
termasuk menikam seekor merpati tua
yang nyaman mendekam di dadamu

Kacamata

Kita tidak perlu tahu
apa yang dibisikkan gagang kacamata
kepada telinga yang memeluknya

Burung tidak perlu membisikkan kabar kepada telinga
karena kaca telah menjernihkan mata untuk telinga

Bisakah

Bisakah aku pagut segala rindu
yang melekat pada lengkung bibirmu?

Bisakah aku rengkuh segala temu
yang mendekam pada bening bola matamu?

Bisa kah yang kau taruh pada lengkung
bibir cangkirmu?

Angin Rindu

Angin yang mengelus-elus batang lehermu
dan yang menyelip masuk
ke dalam kerah bajumu
adalah merpati yang kukirim

Ia memungut rindu pada setiap doaku
lalu membawanya
mampir ke daun telingamu

Sepoinya telah membuai kelopak matamu
dan sejuknya menyuburkan bunga tidurmu

    Monteiro Van Halle
    Latest posts by Monteiro Van Halle (see all)