Bumi Manusia dan Refleksi Sumpah Pemuda

Bumi Manusia dan Refleksi Sumpah Pemuda
©Ecologia

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” ~ Nyai Ontosoroh dalam “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.

Teringat kata Nyai Ontosoroh saat merespons perkataan Minke ketika membicarakan pekerjaannya sebagai agen mebel yang membantu Jean Marais. Saat itu pertama kali Minke menginjakkan kaki di Wonokromo. Dari kalimat Nyai Ontosoroh tersebut dapat diketahui bahwa ia bukan sembarang Nyai yang dilihat dari pandangan secara umum.

Karakter dan pribadi Nyai yang kuat dipengaruhi oleh pengalaman dan usaha yang dilakukan atas semua yang terjadi padanya. Nyai atau gundik tidak sah tersebut telah membuktikan bahwa manusia hidup dan bergerak membentuk kehidupannya melalui ilmu pengetahuan dan pengalaman. Sekalipun pengalaman dari gundik atau Nyai Ontosoroh terlampau kelam, tapi bisa kita lihat bahwa pengalaman sesungguhnya juga membentuk pribadi seseorang, dan tentu juga ilmu pengetahuan.

Kemudian Minke dan Annelies yang terbentuk juga melalui pengalaman pribadi dari tiap-tiap mereka. Minke yang terbiasa bergaul dengan orang-orang Eropa di HBS (Hogereburgereschool) dan merupakan lulusan terbaik nomor 2 di Hindia dan nomor 1 di Surabaya serta kehidupan pribadinya sebagai elite pribumi anak bupati dan hubungannya dengan Annelies telah membentuk karakter Minke yang sesungguhnya.

Kemudian Annelies yang rapuh dan penuh dengan persoalan pada jiwanya juga terbentuk dari pengalamannya mendapat perlakuan kurang ajar dari Robert Mellema—kakak kandungnya sendiri. Perlakuan tidak senonoh tersebut telah menjadikan Annelies pribadi yang rapuh dan memiliki jiwa yang buruk.

Pengalaman itu pasti meninggalkan kesan yang selalu terpatri dalam sanubari manusia. Manusia sekarang adalah manusia-manusia yang terbentuk dari setiap pengalaman dan apa pun yang kita alami tempo hari.

Bumi manusia dengan segala persoalannya telah mengingatkan bahwa pengalaman dan juga ilmu pengetahuan akan membentuk karakter dan kepribadian kita. “Aku ingin jadi manusia bebas,” kata Minke kemudian.

Lantas bagaimana merefleksikan bumi manusia dengan Sumpah Pemuda di era modern ini? Bumi Manusia dan segala kisah yang tercermin dalam masterpiece Pramoedya Ananta Toer masih relevan meskipun zaman telah berubah dari masa kolonial menjadi demokrasi yang lebih beradab.

Tidak secara kebetulan Pram menokohkan Minke, seorang pribumi yang masih muda dan dengan semangat kemudaan yaitu cinta dan idealismenya. Pram menggambarkan bahwa pemuda memiliki hal yang mereka kaum dewasa tidak miliki. Apa itu? Kemauan untuk belajar dan membentuk pengalamannya sendiri dengan kacamata sendiri.

Dunia ini adalah citra kalian, dan citra kalian adalah bagian dari kehendak kalian. Pengalaman harus dibentuk oleh citra kalian, dan tentunya ilmu pengetahuan yang mengiringi pengalaman tersebut. Tentu manusia bebas seperti yang diidam-idamkan Minke sejak masa mudanya dapat berlaku bagi pemuda yang haus akan ini.

Baca juga:

Sumpah Pemuda adalah janji dan ikhitiar pemuda. Pram menggambarkannya dari Bumi Manusia melalui tokoh Minke dan Annelies. Keduanya adalah pribadi yang sangat bertentangan namun semangat kemudaannya tetap membara pada keduanya. Minke yang jatuh cinta dan sangat mengagumi Annelies begitu pun sebaliknya, menggambarkan bahwa mereka memiliki jiwa kemudaan itu.

Mereka berdua melawan, dan melawan segala ketidakadilan yang menghampiri mereka. Pribumi  dan campuran ini melakukannya atas nama kemanusiaan dan ketidakadilan dari hak-hak yang sesungguhnya mereka dapatkan.

Ilmu pengetahuan yang didapatkan Minke melalui pengalamannya belajar di HBS dan bergaul dengan Eropa telah memberikan harapan—harapan untuk mendapat kesejajaran dengan orang-orang Eropa. Sementara itu, Annelies yang rapuh hanya bisa tertidur karena bius dari dokter Martinet sebab dia adalah wanita yang rapuh, juga karena pengalamannya.

Minke yang terpelajar melakukan perlawanan dengan cara menulis. Minke menulis karena dia melawan. Awalnya dia menulis untuk koran lelang. Namun dengan adanya ketidakadilan yang banyak terjadi, maka akhirnya dia menulis apa yang menjadi keresahannya.

Kemudaan Minke terlihat dari semangat-nya yang menggebu-gebu dan optimismenya yang tak pernah surut. Meskipun Minke tahu sebenarnya bahwa sulit untuk memenangi pertarungannya—sebuah pertarungan yang kesimpulan telah ditentukan di awal.

Di masa mudanya, Minke sudah harus melawan dan membawa segenap beban yang besar demi bangsanya di hari esok—entah apakah Minke sendiri nantinya akan menikmati buah tersebut. Tapi melawan dengan cara elegan seperti yang Minke lakukan bukanlah pilihan tapi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan.

Bumi Manusia merefleksikan arti Sumpah Pemuda dan hingga kini masih relevan. “Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya.” Kalimat itu sekaligus mengandung arti bahwa usaha, pengalaman, dan ilmu pengetahuan adalah hal yang berjalan beriringan untuk menjadikan manusia bebas—bagi mereka yang merindukannya.

Sumpah Pemuda harus dimaknai oleh pemuda-pemudi era kini yang telah dilakukan dan dicontohkan Minke. Usaha, kemauan belajar, ilmu pengetahuan, dan dibalut dengan semangat kemudaan yang berkobar bak api yang membakar semua yang dilaluinya akan menghasilkan Minke lain yang rindu sebagai manusia bebas. Dan mereka selalu berbahagia atas makanannya, usahanya, dan pengalaman-nya. Hidup kaum muda!

Baca juga:
    Samuel Agus
    Latest posts by Samuel Agus (see all)