Cak Imin dan Eksploitasi Politik

Selain itu, beberapa waktu lalu, ia mendapat penghargaan doktor Honoris Causa bidang sosiologi politik yang akan menambah kepercayaan diri untuk maju sebagai cawapres, entah siapa itu capresnya. Namun, kalau boleh berspekulasi, yang menjadi incaran Cak Imin adalah kursi kosong yang akan Jusuf Kalla tinggalkan yang sudah di ambang batas periodisasi untuk menjadi wakil presiden.

Eksploitasi yang Cak Imin lakukan tentunya mempunyai efek signifikan bagi para santri. Kaum santri yang sudah lama mengisi kekosongan tokoh politik semenjak Gus Dur lengser dari kursi presiden akan kembali membara semangatnya untuk memeriahkan hajatan yang kita sebut pesta demokrasi tersebut.

Namun sayang, syahwat politik yang sedang membuncah itu tidak Cak Imin kendalikan secara bijak. Terlalu dini untuk mendeklarasikan diri sebagai cawapres. Risikonya terlalu riskan ketika presiden yang menjadi incaran Cak Imin menolak ia sebagai pendampingnya.

Toh, apa pun yang ia lakukan, terlalu dini sebelum waktu yang tepat adalah tindakan yang ceroboh dan sia-sia kalau enggan mengatakan amoral. Bukankah salat, ibadah yang agung itu, juga berkonsekuensi tidak sah ketika kita laksanakan sebelum waktunya?

Selain itu, juga tidak menjamin seratus persen suara santri akan tertuju kepada Cak Imin. Apalagi kader-kader NU sekarang lebih banyak yang berkecimpung di partai non-NU.

Sebutlah Nusron Wahid dan Ulil Abshar-Abdalla untuk menyebut beberapa. Trauma mendalam kekalahan santri dalam ajang Pilpres 2004 juga harus menjadi pelajaran.

KH Hasyim Muzadi yang waktu itu menjabat sebagai ketua umum PBNU pun tidak mampu meraih suara seratus persen dari suara santri. Namun, Cak Imin tetap harus optimis jika memang benar-benar ingin memperjuangkan lebih lagi dari aspirasi santri. Karena santri selama ini terbukti sebagai pengawal persatuan dan kesatuan NKRI serta bhinneka tunggal ika-nya.

Selain itu, Cak Imin juga harus mampu meraih suara-suara dari kalangan non-santri, khususnya partai-partai Islam, karena itu akan mendongkrak elektabilitas Cak Imin sebagai Panglima Santri dan tentunya Cak Imin akan mengisi kerinduan kaum santri setelah sosok Gus Dur tidak lagi ada. Karena santri sejatinya humanis, mampu merangkul semua kalangan yang bahkan dianggap sebagai musuhnya.

*Amamur Rohman H, Koordinator Wilayah DIY Jaringan Ulama Muda Nusantara (JUMAT)

Baca juga: