Candu (?)

Candu (?)
Deklarasi dukungan Santri Madura untuk Jokowi-Ma'ruf

Adakalanya mengonsumsi/melakukan tindakan yang dilarang karena darurat; ada pula karena candu.

Seorang kiai yang memimpin istighosah sekaligus ceramah politik. Sepintas, tidak ada yang aneh. Tetapi ada yang menggelitik dalam merangkai premis untuk kemudian membantah (hukum) yang selama ini berkembang, yakni haram memilih Jokowi.

“Kemarin-kemarin,” katanya, “berkembang isu bahwa haram hukumnya memilih Jokowi. Saat ini isu itu telah terbantahkan dengan adanya dukungan, deklarasi santri Madura untuk Jokowi-Ma’ruf.”

Ada dua kemungkinan penalaran hukum yang dibangun oleh kiai itu:

  1. Beliau hendak menyatakan hukum sebaliknya, boleh/tidak haram.
  2. Karena tidak ada pilihan yang lebih baik (mudlarat), maka boleh memilih Jokowi-Ma’ruf, demi maslahah.

Misalnya, seperti vaksin yang terbuat dari babi. Awal-awal beredar, karena terbuat dari babi, maka haram hukumnya untuk disuntikkan ke bayi. Tetapi tidak lama kemudian, MUI merespons isu tersebut yang membolehkan penggunaan vaksin dengan alasan belum ada vaksin serupa yang tidak terbuat dari babi; untuk menyelamatkan generasi!

Eits, tunggu dulu. Kadang-kadang seseorang memilih sesuatu bukan karena boleh atau karena darurat. Misalnya, yang disukai anak-anak SMP jaman now: miras/oplosan. Mereka tahu bahwa itu tidak boleh/haram, tetapi mereka tetap mengonsumsi.

Artinya, sekalipun ada sebagian orang yang mengonsumsi alkohol/miras/oplosan, tidak berarti membantah hukum (haram) dan menjadikan sebaliknya (boleh). Adakalanya mengonsumsi/melakukan tindakan yang dilarang karena darurat; ada pula karena candu.

Hukum (larangan) tidak berubah (boleh) hanya karena banyak orang yang melanggarnya. Tetapi hukum dapat tercipta dari pergaulan (masyarakat) di dalamnya.

Arief Rahman
Arief Rahman 2 Articles
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Janabadra | Volunteer Penerbit Koma Media | Pimpinan Desamondial