Cania dan Argumen tentang LGBT

Cania dan Argumen tentang LGBT
PA Archive/PA Images

Nalar Warga – Seperti biasa, Cania Citta Irlanie datang dengan argumen yang sangat kuat dan kokoh untuk membela kebebasan individu. Dalam acara di ILC-TVOne semalam, dua poin penting ia paparkan.

Pertama, soal pencegahan penyakit seks menular. Penyakit akibat hubungan seks tidak ada hubungannya dengan apakah aktivitas seksual itu dilakukan di dalam pernikahan atau di luar pernikahan.

Seks legal atau tidak legal sama-sama potensial menghantarkan penyakit. Karena itu, masalahnya bukan pada status legal atau tidaknya, tapi pada sehat atau tidaknya hubungan seksual itu.

Kedua, tentang hak beragama. Konstitusi mengakui setiap individu untuk beragama, bukan kewajiban beragama. Ini sangat penting dan fundamental.

Karena ia hak, maka negara tidak boleh memaksa. Karena ia adalah hak, maka warga negara memiliki ruang pilihan yang luas untuk memilih agama, memilih interpretasi dalam beragama, bahkan memilih tidak beragama. Negara memberi ruang bagi tiap individu untuk meyakini dan menjalankan agama dan kepercayaan.

Dalam hal poin kedua ini, Cania mengutip pidato Soekarno yang memaknai sila pertama Pancasila bukan alat untuk memaksa individu beragama. Di dalamnya juga ada hak untuk tidak beragama.

Pernyataan ini memicu debat panjang di media sosial, terutama Twitter, sejak semalam sampai pagi tadi. Banyak yang memandang Cania salah dalam menafsir pernyataan Soekarno. Menurut mereka, Soekarno justru menegaskan bahwa Pancasila menuntut semua individu menerima atau harus menganut kepercayaan pada Tuhan.

Ini pernyataan Soekarno yang dikutip Cania:

Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama. Ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian, untuk 85 persen dari 92 juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari para pengikut Islam.

Berpangkal pada kenyataan ini, dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kami. Bahkan mereka yang tidak percaya pada Tuhan pun, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan pada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima sila pertama ini.

Dalam teks ini jelas bahwa Soekarno mengakui eksistensi kelompok-kelompok masyarakat lain di luar yang menganut agama. Bahwa mayoritas penduduk adalah mereka yang beragama dan menganut paham monoteisme, ya.

Karena sifatnya yang dominan itu, maka negara mengadopsi karakteristik keagamaan mereka sebagai falsafah hidup bangsa. Tapi bukan berarti hal itu menafikan bahkan memberangus eksistensi yang lain.

Lebih jauh Soekarno bahkan menyebut mereka yang tidak percaya Tuhan memiliki pembawaan atau sikap yang pada dasarnya toleran. Soekarno tidak hanya mengakui bahwa mereka ada di negeri ini, tapi juga memujinya karena memiliki sifat mulia dalam pembawaan.

Terima kasih pada Cania untuk pembukaan diskusi yang menarik ini. Ini masalah fundamental dalam kehidupan berbangsa kita.

*Saidiman Ahmad

___________________

Artikel Terkait: