Cania: Yang Terbaik Adalah Beragama Liberal

Cania: Yang Terbaik Adalah Beragama Liberal
©Indeks

Di sesi lanjutan Diskusi Publik Indeks bertema Wacana Kebebasan dan Isu-Isu Indonesia Kontemporer, Cania Citta Irlanie tegas menyatakan bahwa dalam hal beragama, yang terbaik untuk setiap warga negara anut adalah beragama liberal.

“Buat saya, beragama liberal yang terbaik. Saya percaya bahwa kebenaran dalam agama, yang paling bisa menentukan itu, tentu saja otoritas tertinggi yang jauh di sana. Jadi gak ada di sini,” ujar Cania selaku panelis dalam rangkaian acara Peluncuran Buku Karya Eamonn Butler ini, Jumat (9/8).

Ia yakin, ketika semua orang bisa beragama secara liberal sebagaimana dimaksud, maka bentuk-bentuk monopoli kebenaran di ruang publik tidak akan pernah terjadi. Yang lahir kelak adalah pasar wacana bebas nan menggairahkan.

“Yang kita butuhkan dalam menjaga pluralisme itu adalah kebebasan berwacana. Kita harus punya kebebasan untuk menyampaikan agama dengan cara apa pun masing-masing orang. Karena kita sama-sama manusia, kita otoritasnya setara, otoritas kita dalam menafsir kebenaran.”

Kacaunya, sesal Cania, negara malah turut merampas hak dan kebebasan sipil paling mendasar itu. Padahal kehadirannya hanya untuk menjamin bagaimana kebebasan tiap individu itu bisa terjaga.

“Harusnya netral, cukup jadi wasit. Tapi kenyataannya, negara gak secara fair memberikan kebebasan.”

Di titik inilah Cania merasa perlu adanya pembatasan otoritas. Baik dalam bentuk negara, insitusi agama, maupun dunia pendidikan, wilayah otoritas masing-masingnya harus jelas.

“Ketika otoritas itu tidak punya batasan, maka ia yang akan menentukan segala kebenaran yang ada di ruang publik kita. Terjadilah monopoli kebenaran, monopoli knowledge.”

Sebuah Tawaran

Menurut Head of Content Geolive ini, moral liberalisme dalam berbangsa dan beragama mesti benar-benar resap. Hanya dengan jalan inilah kebebasan dan martabat manusia senantiasa berharga.

“Moral liberalisme itu paling bagus. Karena dengan liberalisme, orang bebas saja untuk bicara. Misalnya dalam hal agama, ini penting juga untuk teman-teman penganut kepercayaan yang selama ini gak bisa ngomong karena dibatasi.”

Pun ketika setiap warga bebas memilih agama, memilih sebuah ide dalam pasar wacana yang bebas, maka yang bersangkutan, setidaknya, bisa berbangga diri.

“Karena kita bisa tahu persis bahwa kompetitornya kayak gitu. Kita bisa tahu kalau ini lebih bagus daripada itu. Tapi kalau pasarnya dibatasi, buat saya, itu merendahkan kepercayaan sendiri.”

Seperti juga harapan panelis sebelumnya, Cania pun menghendaki bagaimana sebuah ide tentang kebenaran di ruang publik itu harus tumbuh dan berkembang berdasar pengalaman tiap individu warga, bukan menurut desain otoritas yang ada.

“Basis paling mendasar dari liberalisme adalah pasar bebas untuk wacana, nilai-nilai, yang kemudian bisa kita perdebatkan. Dari situlah muncul sebuah ide yang bottom-up. Akhirnya akan muncul dari masyarakat sendiri, mana nih ide yang kita anggap paling baik untuk kehidupan bersama, untuk dijadikan aturan main bersama.”

Dengan demikian, moral liberalisme jadi paling pas untuk diikut-sertakan dalam mendesain sebuah kebijakan publik. Karena aturan-aturan hidup, sejatinya, harus menghargai martabat manusia yang terletak dalam kebebasannya untuk mengisi kehidupan dengan cara masing-masing.

“Buat saya, gak ada lagi lawan-lawan dari gagasan ini. Ini the best idea.” [in]

Artikel Terkait: