Cara Agar (Masih) Bisa Bersyukur dan Mencintai Indonesia di Era Pandemi

Cara Agar (Masih) Bisa Bersyukur dan Mencintai Indonesia di Era Pandemi
©ORF

Sebelumnya, saya ingin mengawali tulisan ini dengan bersyukur. Karena di tengah pandemi yang menyesakkan, saya masih bisa menjalani kehidupan lumayan normal di pesantren yang beberapa bulan lalu dinobatkan PBNU sebagai pesantren tangguh covid nomor 5 di Indonesia (give a clap!).

Sehingga dengan mirisnya covid di luar sana, saya dan teman-teman di sini dapat lebih fokus memasok doa, dan bernego dengan Yang Maha Kuasa. Berharap pandemi dapat berakhir dan semuanya kembali seperti semula.

Hari-hari saya di pesantren cukup membuat berkeringat. Saya ditemani oleh serangkaian kegiatan mengaji dan kajian agama yang padat, diselingi kuliah daring dengan internet sering ngadat, dan menyimak koran Jawa Pos yang kadang sehari-dua hari sudah terlewat.

Juga sering iseng sedikit nakal dengan menonton film, anime dan drama korea ilegal. Kenapa ilegal? Karena mengaksesnya adalah larangan, dan berasal dari grup-grup Telegram yang juga sebuah larangan. Tapi itu hanya selingan, bukan suatu kewajiban dalam rundown kegiatan saya dari tidur sampai tidur lagi.

Tapi, ada hal yang meresahkan yang bikin saya kurang bersyukur akhir-akhir ini. Sejak saya mengetik tulisan ini, koran mengatakan bahwa Indonesia menjadi nomor satu di dunia dengan lonjakan Covid tertinggi dan risiko kematian tertinggi. Tentu saya menutup koran dengan kecewa sekaligus cemas.

Teringat pertama kali kasus Covid terjadi di Cina, saya bersyukur berada di Indonesia. Segalanya masih benar-benar aman terkendali. Saat Cina kelimpungan dengan virus Wuhan-nya, kita justru berlomba-lomba menarasikan ceramah dan melontarkan kebencian. Memusuhi dan mendalihkan teks (atas nama) agama agar tak seperti Cina.

Selang 6 bulan berlalu, kasus Covid pertama di Indonesia dikonfirmasi di Jawa Barat yang terpapar akibat ada kontak dengan WN asing. Lagi-lagi saya bersyukur karena pemerintah-yang maha kuasa menyatakan bahwa negara katanya bergerak cepat. Ternyata kasus Covid di Indonesia agresif juga.

Saya tidak tahu pasti karena akses koran terhenti dan situasi pesantren lockdown 2 kali. Seingat saya, saat itu kondisi negara-negara Eropa sangat mengkhawatirkan. Bahkan Amerika Serikat kewalahan. Semua aktivitas dihentikan. Banyak pemain bola idoa saya terpapar Covid.

Pada 1 April tahun lalu kami dipulangkan. Meskipun kota saya termasuk zona hitam, setidaknya tidak begitu mencekam karena Covid hanya menakutkan di media daring, tidak di rumah saya yang terpencil. Hingga pertengahan tahun 2020, kembali ke pesantren dengan serangkaian karantina dan tes-tesan lainnya.

Kehidupan berangsur mulai (new) normal kembali di pesantren. Setidaknya November lalu saya dan murid-murid saya memenangi lomba MTQ Tingkat Kabupaten. Itu artinya Covid mulai menelurkan kabar baik diiringi dengan program vaksin pemerintah. Intinya, lagi-lagi saya masih bersyukur bahwa saya tinggal di Indonesia, bukan di Eropa ataupun Amerika.

Baca juga:

Ketika lonjakan Covid di India kemarin terjadi, saya kaget. Media-media Indonesia menggambarkan dengan sangat dramatis, Tsunami. Tsunami Covid di India dengan kasus 50 ribu positif per hari sangat mengerikan.

Sinisme juga hadir secara otomatis. Ketika dulu mendengar Cina dengan covidnya saja sudah ngeri, kini beralih ke India. Berita-berita yang menyudutkan India mulai bermunculan. Media Indonesia cukup kritis dalam membeberkan India dengan berbagai kesalahannya. Mulai dari bandel masyarakatnya, sistem pemerintahannya, penanganan covidnya, dan lain-lain.

Belum lagi video-video yang, benar-tidaknya hanya Tuhan yang tahu, disertai caption yang menembus kasta nista berhasil menghebohkan jagat WhatsApp. Bahkan ada yang menuduh ini adalah pembunuhan sosial. Believe it or not, isn’t my business!. Siapa yang tidak ngeri mendengar semua ini? Mendengar kata “india” pasti langsung disusul dengan kata na’udzubillah sambil mengelus dada (untung kita di Indonesia, ya Bun).

Sekalipun kata ‘orang tua’, pemerintah kita-yang maha kuasa juga bersabda masih dalam kendali justru jadi anomali. Buktinya, bansos covid terungkap dikorupsi, Menteri Kesehatan diganti, pak Jokowi berkali-kali marah kepada para menteri. Hasilnya?

Duar! Per- 15 Juli, Indonesia menjadi pusat covid di dunia. Oksigen langka sampai-sampai 33 pasien meninggal di sebuah rumah sakit besar. Ratusan ulama dan tokoh agama wafat. Perang gagasan antar-tokoh publik yang saya baca berkelindan bak kolaborasi bintang dan cuitan burung di atas kepala Tom saat jatuh dari pohon. Puyeng!

Mereka menganggap pemerintah gagal menangani pandemi, kurang evaluasi, dan kurang rendah hati. Sebagai cah pondok yang saat ini hanya berkontribusi dengan doa, ngaji dan ngabdi di pesantren, saya hanya bisa menyimak dengan miris sembari merasakan sakit tapi tak berdarah. Sepertinya rasa yang saya rasakan ini sama dengan apa yang dirasakan Gaara si Kazekage.

Akhir-akhir ini juga di pesantren hampir setiap hari menggelar tahlilan. Setiap hari ada saja yang pulang mendadak akibat kerabat dan keluarga teman-teman saya wafat. Terakhir pengasuh saya sejak kecil meninggal akibat covid, dan kakek saya juga wafat. Ternyata rasio kematian yang 2,76 persen dan kesembuhan yang awalnya berada dalam angka 80 kini turun menjadi 78 persen memang bukan main. Hari-hariku terbuat dari Innalillahi, kata Jokpin.

Saya jadi malu sendiri dan merasa bersalah dengan negara-negara yang pernah saya rasani secara berjemaah dengan teman ataupun grup-grup media sosial. Ternyata mereka semua sudah comeback. Mereka sudah melalui masa kritis dan merangkak lebih baik.

Kasus di India menurun drastis, Cina apalagi. Bahkan Eropa dan Amerika baru saja selesai menggelar Euro dan Copa America. Tiba-tiba muncul bersitan dalam hati saya, bagaimana ya respons warga asing mendengar Indonesia? Ah, malu rasanya.

Lalu dengan bagaimana lagi saya harus bersyukur bahwa saya adalah orang Indonesia? Bisakah saya bersyukur dengan negara saya? Oh tentu! Karena saya di pesantren yang dilindungi oleh guru-guru terbaik Nusantara. Sisanya? Sulit rasanya untuk bersyukur namun dengan berpura-pura.

Baca juga:

Saya hanya berharap semoga pemerintah-yang maha kuasa memiliki rasa keberpihakan kepada rakyat. Itu saja. Saya hanya tidak mau mendengar teman-teman saya telat membayar tagihan di pesantren akibat orang tuanya kesusahan karena pandemi. Saya hanya tidak mau lagi mendengar ada teman-teman saya yang pulang mendadak karena keluarganya meninggal akibat pandemi.

Saya hanya tidak mau lagi melihat Indonesia lumpuh hanya karena para pembesarnya kisruh regulasi pandemi. Karena kiai selalu mengajarkan saya dan teman-teman untuk selalu ber-husnudzhon (berbaik sangka) terhadap apa pun. Dan semoga rasa husnudzhon ini tidak terdzalimi.

“Jika tidak dengan rasa syukur, dengan cara apa lagi saya bisa mencintai Indonesia ini?” begitu tanya saya ketika diskusi dengan kawanan kelas semesta. Tapi “bukanlah disebut dengan cinta jika kita hanya mencintai baiknya saja tanpa buruknya,” begitu kata Usman Arrumy.

Jadi, sikap saya yang seperti ini, apakah sudah masuk kategori bersyukur menjadi Indonesia, dan mencintainya dengan apa adanya dan memang begini adanya?

Wildana Rahmah Azzuhri