Cara Ajip Rosidi Mengagumi Pramoedya Ananta Toer

Cara Ajip Rosidi Mengagumi Pramoedya Ananta Toer
@zoelfick

Ajip Rosidi punya cara tersendiri untuk belajar. Salah satunya, merekam teman-teman dan orang-orang yang dikaguminya dalam catatan-catatannya.

Ini buku lama, tetapi memiliki pesan besar dan punya pesan kebaikan yang juga tahan lama.

Lalu, apa cara kita merekam kebaikan orang-orang di sekeliling?

Di buku ini, Ajip Rosidi bahkan dengan jernih bercerita tentang orang-orang yang dikaguminya. Tak peduli secara prinsip dan pilihan politik dan ideologi mereka berbeda dengannya.

Di buku itu, sosok Pramoedya Ananta Toer menjadi figur pertama ia tempatkan oleh Ajip Rosidi? Dugaanku, inilah caranya memperlihatkan kekagumannya kepada Pram.

Ajip Rosidi pun tidak segan-segan menegaskan pandangannya tentang sosok Pram, sebagai sastrawan terbesar dalam bahasa Indonesia. Ia juga berterus terang, tiap kali menjelang pemenang Nobel diumumkan, ia selalu berharap agar Pram adalah sosok yang meraih kehormatan itu.

Menurut Ajip, karya-karya Pram tidak kalah hebat dari para sastrawan yang pernah meraih Nobel. Maka itu, Ajip selalu berharap Pram meraihnya. Apalagi, bukan rahasia, Pram terbilang paling sering dicalonkan untuk meraih Nobel.

Ajip juga mengagumi kisah cinta Pram. Sempat gagal di pernikahan pertama, namun akhirnya menemukan tambatan hati sejati bernama Maimunah.

Menurut Ajip, salah satu keistimewaan kisah cinta Pram dibuktikannya dengan cerpen bertajuk Sunyi Senyap di Siang Hidup. Tokoh Dini dalam cerpen itu adalah Maimunah, perempuan yang dinikahinya setelah kegagalannya di pernikahan pertama.

Ajip pun memuji besarnya cinta Maimunah terhadap Pram. Bagaimana tidak, meskipun Maimunah dari keluarga orang berada, kemenakan pahlawan MH Thamrin, namun memilih Pram jadi suami.

Ajip tahu persis, Pram memang sering kesulitan dalam keuangan. Bahkan ia pernah mengungsikan istrinya ke rumah mertua saat ekonominya dalam kondisi sangat kritis.

Bahkan, Pram pernah terpaksa meminta nasi kepada Ajip, dan nasi sisa yang sudah dingin dimakan lahap olehnya hanya dengan cara dicampur mentega.

Namun Pram juga punya rasa harga diri sangat tinggi. Mertuanya yang kaya pernah menawarinya rumah, namun ia memilih membawa Maimunah ke rumah petak sewaan di kawasan Utan Kayu.

Bagaimana rumah itu? Cuma satu ruang tidur, ruang depan dan dapur, dan hanya berlantai tanah.

Sedangkan di bagian depan, cuma dipakai ram kawat seperti biasa dipakai untuk kandang ayam. Tampaknya Ajip tidak tega untuk lugas mengatakan rumah Pram saat itu mirip kandang ayam.

Kondisi rumah Pram saat itu juga mengalir dalam Cerita dari Jakarta.

Hebatnya Maimunah, ia sama sekali tidak mengeluhkan kondisi melarat suaminya itu, Pram. Ini yang kurasa bikin Ajip terkagum-kagum kepada pasangan ini.

Menariknya, Maimunah jatuh cinta kepada Pram sama sekali bukan karena status sastrawan disandang suaminya. Bahkan, kata Ajip, istri Pram itu sama sekali tidak suka membaca sastra.

Kalau dilihat-lihat, Pram memang terpengaruh besar oleh dua perempuan dalam hidupnya. Pertama, ibunya sendiri. Kedua, istri keduanya, Maimunah.

Dari ibunya, Pram belajar untuk keras kepala. Dalam arti, dari ibulah ia belajar bagaimana membangun prinsip hidup.

Zulfikar Akbar