Cara Melawan Radikalisme di Kalangan Militer

Cara Melawan Radikalisme di Kalangan Militer
©Ist

Nalar Politik – Upaya atau cara melawan radikalisme di kalangan militer, juga di ASN dan polisi, kian jadi kebutuhan mendesak. Terutama akhir-akhir ini, menyusul isu paham radikal yang ternyata juga telah menubuh kuat di keluarga abdi negara.

Tentu bukan hal yang patut ditunda-tunda lagi mengingat imbasnya bagi masa depan warga negara. Dan untuk memulainya, perlu ada upaya-upaya yang—selain elegan—efektif.

Salah satu cara melawan radikalisme yang elegan sekaligus efektif bisa dimulai dari saat tes atau proses rekrutmen anggota. Hal ini sebagaimana dipaparkan Saidiman Ahmad melalui keterangan tertulisnya.

“Melawan radikalisme di kalangan militer, ASN, dan polisi bisa dimulai dari tes/rekrutmen. Masukkan pertanyaan untuk menguji apakah pandangan mereka cukup pluralis; apakah mereka tahu batas wewenang negara; apakah mereka bisa menghargai ruang pribadi atau tidak,” jelasnya, Jumat (11/10).

Peneliti SMRC ini juga mengimbau pentingnya keberadaan pertanyaan guna menguji apakah mereka (militer, ASN, dan polisi) tahu membedakan antara dosa dan kejahatan. Ini jadi bekal atau semacam panduan di mana negara punya ruang untuk bisa masuk.

“Tanya pandangan mereka soal Ahmadiyah, Syiah, Sikh, Saksi Yehuwa, LGBTQ, dan kelompok minoritas lain. Tanya soal kesetaraan gender,” lanjut Saidiman.

Kalau ternyata pandangan mereka sudah cenderung bias terhadap sejumlah pertanyaan di atas, atau berbau diskriminatif dan intoleran terhadap minoritas, itulah tanda mereka potensial terpapar radikalisme, bahkan paham ISIS. Maka menolaknya sedari awal, bagi Saidiman, mesti jadi pilihan paling utama.

“Tolak mereka sejak awal. Jangan kasih ruang orang seperti itu menjadi aparat negara,” pungkas alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University ini. [tw]

Baca juga:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi