Catatan Kecil dari Acara Ultah PaPuA

Catatan Kecil dari Acara Ultah PaPuA
©Padepokan Puisi Amato Assagaf

Kemarin, 22 September 2019, kami menggelar hajatan ulang tahun ke-3 Padepokan Puisi Amato Assagaf a.k.a PaPuA.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena beberapa alasan, malam tadi kami hanya melaksanakan ultah Padepokan secara terbatas. Dihadiri hanya oleh para padepokawan inti dan dilaksanakan di mabes Padepokan.

Tanpa mengundang siapa pun. Bahkan ada sangat banyak padepokawan lain yang tak hadir atau, tanpa sengaja, tak dihadirkan.

Semangat kami pada malam ultah itu adalah kembali ke diri sendiri. Mengulang kenangan tiga tahun yang telah lewat serta membuat harapan akan tahun-tahun yang kelak tiba. Dan terselip dalam kenangan serta harapan kami itu beberapa nama yang telah menjadi begitu penting bagi Padepokan Puisi Amato Assagaf.

Saya ingin menyebut mereka di sini. Kristianto Galuwo, orang yang memberi ide bagi pembentukan Padepokan. Fatri dan Fathur, kakak dan adik pelisan puisi yang menjadi peletak batu pertama Padepokan. Andi Zulkilfli Musdar alias Qif, pelisan puisi yang menjadi salah satu penggerak utama Padepokan, terutama di masa awal kami.

Ananda Lamadau, pelisan puisi dan orang yang selalu menceriakan hari-hari berat Padepokan. Jaja Citrama, buya dan vanguard intelektual Padepokan. Suhendra Manggopa, aktivis libertarian sekaligus pembina Padepokan Puisi Amato Assagaf di Bolaang Mongondow Raya.

Kalian memang tak hadir dalam acara ultah semalam, tapi kalian ADA di jantung Padepokan.

Beserta semua nama yang telah turut menyumbang napas bagi Padepokan, juga para padepokawan yang hingga kini masih berjuang bersama, saya ucapkan terima kasih.

“Aku bukan nama yang harus kalian ingat. Aku hanya fajar yang selalu menunggu kalian bangun.”

Manado, September 2019
Imam Besar PaPuA

Amato Assagaf
Latest posts by Amato Assagaf (see all)